Rabu, 12 September 2018

Cerpen: Neraka Untuk Para Pembokep dan Dosa Sejenisnya



Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku membuka kisah ini, diriku memiliki keterbatasan kosakata manusia untuk menjelaskan banyak hal di sekitarku. Tapi sederhananya begini: seingatku, aku ini sudah mati, dan sepertinya sedang berada di akhirat (dari keterangan plang di sebelahku).

Kepalaku sekarang sungguh pening untuk menangkap presepsi mengenai waktu, mungkin sekarang ini seharusnya jika definisi waktu masihlah ada, aku ini sudah mengantri lama sekali dari juta hingga milyar manusia. Ratus atau ribu tahun kemudian akhirnya telah sampai di hadapanku seorang bertampang arab, bersorban, dan membawa pecut di sebelah tangannya.

“Bapak Farid, itu nama bapak bukan?”

Ia berbicara bahasa arab sambil membaca lembaran yang berisikan daftar nama. Aku tidak tahu spesifiknya arab yang bagaimana, dia tidak berbicara arab sebagaimana orang melantunkan Qur’an yang bernyanyi-nyanyian itu, tapi setidaknya yang kutangkap begitu. Bagaimana aku bisa memahami bahasanya itu keajaiban tersendiri.

“Iya, nama saya Farid.”

“Maju pak, ini saatnya bapak dihisab.”

Ah, ya, seakan lupa pelajaran agama selama ini. Hari di mana manusia dijejerkan di padang masyar, lalu ditimbang segala perbuatannya selama di muka bumi, katanya lagi segala bagian badan juga akan bercerita mengenai kesalahan-kesalahan selama di dunia. Deskripsi itu tidak jauh berbeda, walau tidak terlihat bagian badan itu mengeluarkan mulut dan berceloteh, tapi di sini memang terlihat orang-orang mengantri untuk ditimbang, sang pria arab itu mendekatkan telinga ke bagian tubuh dan mencatat apa saja dosa yang dilakukan. Suatu dakwaan dikeluarkan, lalu mereka para pendosa menangis, memohon-mohon sampai pecut memaksa mereka maju ke gerbang merah yang terlihat mengeluarkan asap. Jelas itu gerbang neraka.

Maka aku berjalan menuju kotak tempat penghisaban itu, di timbang sambil sang malaikat berbisik-bisik dengan bagian tubuhku. Dalam proses itu, aku tak merasa takut sama sekali, di dunia selama ini aku rasanya orang yang baik-baik saja kok.

Misal, aku sudah berusaha sebaik mungkin tidak melukai hati orang, walau tidak bisa dibilang sebagai orang yang sungguh saleh, masihlah aku mengikuti shalat wajib lima waktu (walau kadang, sekali-kali bolong, tapi tidak sering), berdzakat, berkurban, bekerja secara halal (sepengetahuanku begitu), membantu orang-orang yang berada di sekitarku. Bisa dibilang dosaku ada, tapi tak parah seperti berbuat kejahatan yang melawan hukum, membunuh, atau melanggar norma masyarakat dan dosa-dosa berat lainnya. Aku ini persis dikatakan sebagai masyarakat baik dalam komunitas yang baik pula, walau tidak begitu kelihatan prestasinya. Jikalau surga eksekutif tidak kudapatkan, yah minimal surga ekonomilah yang kudapat.

Sambil berpikir begitu, timbangan yang kulihat menunjukan angka merah.

“Pak Farid maaf, bapak masuk neraka.”

“Eh?”

Aku termangu mendengar ucapan sang arab (malaikat) yang bicara begitu ringan begitu. Tentu aku tidak terima!

“Kalau bisa, saya mau tanya kenapa saya masuk neraka?!”

“Bapak tahu kalau dosa itu banyak jenisnya? Masih banyak yang mengantri, kalau saya sebut semua, antriannya tak selesai-selesai.”

“Ah, kalau begitu dosa yang paling berkontribusi saja, dosa terbesar saya.”

Ya, dosa terbesar. Bagaimana aku bisa lalai untuk tidak mengetahui dosa sendiri? Dan dengan bertanya seperti ini, barangkali aku akan menyadari keapatisanku terhadap dosa besar tersebut dan merasa benar-benar bersalah, ikhlas masuk neraka, dan merenunginya tiap hari layaknya para pendosa. Jika tidak tahu, masa aku hanya bengong di neraka, memikirkan aku dosa apa selama ini?

“Bokep pak, bapaknya kebanyakan nonton bokep.”

“Hah?”

“Sudah puas jawabannya pak? Kalau tidak, terpaksa saya harus pecut bapak.”

“Bentar, tunggu sebentar! Bagaimana menonton bokep bisa jadi dosa terbesar saya?”

“Lah yah dosalah pak, masa nonton bokep tidak dosa? Lihat sehelai rambut wanita saja dosa apalagi bokep, itu sama dengan berzinah.”

“Tapi, tapi saya kan tidak berhubungan badan secara langsung? Tidak merugikan siapa-siapa? Ah masa segala hal saya lakukan di dunia ini, segala kebaikan dianulir karena nonton bokep.”

“Bapak kalau mau protes ke costumer service saja. Itu, disebelah pintu neraka. Ini sudah banyak yang ngantri.”

Kulihat jauh, ya, dekat tembok besar dengan pintu nerakanya, ada suatu ruangan berkaca seperti loket di stasiun kereta api lengkap dengan AC dan pengeras suara juga pintu kaca kecil untuk berbicara dengan orang dibalik ruangan tersebut.

“Oh begitu, saya tak harus buru-buru masuk pintu neraka bukan?”

“Santai aja pak, lagian sekarang ini sudah ujung waktu, tidak ada yang namanya terlambat.”

“Ah, ya, terima kasih mas.”

Entah mengapa aku malah berterima kasih dengan orang yang baru saja memvonisku masuk neraka. Tapi, ah sudahlah, maka setelah di cap tanganku dengan tanda “Jahannam” aku segera berjalan menuju CS atau costumer service-nya akhirat. Ketika sudah mengantri ribuan tahun (sepertinya) sambil mengobrol-ngobrol dengan sesama calon neraka mengenai persoalan yang sama, tidak terima dengan dosa kami, sampailah aku di hadapan lagi-lagi pria arab (malaikat) yang wajahnya persis sama dengan malaikat yang baru kutemui tadi.

“Ini mas yang tadi baru nimbang saya yah?”

“Oh bukan, kita memang sama semua wajahnya, pake cetakan yang sama demi alasan efisien. Ada urusan apa bapak di sini?”

“Saya ingin protes, masa karena permasalahan bokep saya masuk neraka? Saya ini, walau biasa-biasa saja, tak pernah berbuat buruk seperti korupsi, merampok hak orang lain, dan lain sebagainya yang jelas dikutuk oleh agama.”

“Tapi, bapak, berzinah jelas dikutuk oleh agama.”

“Nah, harus dibedakan itu menonton bokep dengan zinah, kan itu urusan saya dengan tangan saya, bukan dengan orang di luar nikah, pelacur, apalagi selingkuh, pokoknya saya protes!!”

“Nah, biar bapaknya bisa berlapang dada masuk neraka, maka saya coba jelaskan dari awal perkaranya bagaimana yah.”

“Iya, tolong jelaskan!”

Lalu aku dipersilahkan masuk oleh sang malaikat ke pintu yang tiba-tiba muncul di sebelahku, membawaku ke dalam lorong misterius yang seakan tak berujung. Selagi aku mengikuti di belakang malaikat, terdapat malaikat lain yang memiliki penampilan serupa menggantikan posisi dirinya.

Tak lama (mungkin lama, aku tak tahu), masuklah diriku di ruangan yang tak jauh berbeda dengan ruangan rapat layaknya di kantor lengkap dengan papan dan proyektornya.

“Di sini saya jelaskan bahwa perkara-perkara yang bapak anggap kecil menanggung dosa yang besar.”

Proyektor menyala, dan gambar-gambar slide bergerak. Judul, “Contoh dari orang-orang masuk neraka: sebuah petunjuk jika ada yang bertanya.”

Seorang yang membawa simbol-simbol agama lain.

“Nah, ini jelas masuk neraka, kafir.”

Apa? Gampangnya masuk neraka! Bah, di foto itu orang-orang tersebut tidak terlihat seperti orang jahat, bagaimana bisa? Beruntung tidak beruntung aku lahir di agama non-kafir, eh pada akhirnya tetap masuk neraka....

Lalu slide meloncat ke dosa terbesar selanjutnya.

“Nah ini pembunuh, para koruptor, diktaktor, pelacur, jelas masuk neraka.”

Slide bergerak lagi, namun kali ini slide berikutnya terlihat janggal.

Terdapat foto seseorang pria agak gemuk yang dahinya menghitam, bajunya adalah daster putih panjang, dan pula mengenakan sorban panjang. Terlihat dia sepertinya orang saleh, ditemani istrinya yang pula berpakaian islami.

“Nah, orang ini, walau setiap hari rajin beribadah, tidak ngebokep seperti mas, diapun masuk neraka.”

“Kok bisa begitu?”

“Karena walau dia secara serius ingin berhubungan baik dengan tuhan, dia tidak berhubungan baik dengan sekitarnya, manusia-manusia lainnya. Ketika tetangganya membutuhkan bantuan, dia angkuh dan apatis terhadapnya, lebih-lebih dengan yang tidak seumat, padahal sudah jelas bahwa silaturahmi, membantu tetangga, membantu sesama, adalah jembatan menuju ridha tuhan menuju surga. Maka, dengan demikian, dia tidak sadar bahwa bukan saja hubungan horizontal dia gagal, hubungan vertikalnya pun juga.”

“Lah, urusannya dengan saya apa?”

“Ada dosa besar dibalik sesuatu yang tidak disadari.”

Slide next, tiba-tiba ada fotoku.

“Nah, ini mas, yang senang menonton bokep.”

“Wah, ini guideline-nya kok pake foto saya?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku, dan terus melanjutkan ucapannya.

“Mas adalah salah satu orang yang berkontribusi dalam eksploitasi wanita, perdagangan manusia, bisnis porno, dan pelacuran.”

“Eh? Apa?! Ngaco anda!”

“Mas, dengan penonton lainnya, menciptakan apa yang disebut sebagai demand, permintaan terhadap adanya suatu konten. Untuk memuaskan nafsu dan kecendrungan seksual, maka banyak para pelaku kejahatan yang menjebak wanita dalam bisnis ini. Mas, beserta jutaan orang lainnya sebagai penikmat, telah berkontribusi dalam kejahatan terbesar di dunia maya.”

“Lah, kalo begitu banyak sekali yang masuk neraka! Siapa laki-laki normal yang gak nonton bokep di masa modern ini?”

“Yah, banyak, banyak sekali.”

“Lagian menonton itukan menahan kita dalam melakukan yang enggak-enggak, pelampiasan begitu? Jika tidak begitu, pelampiasan kita mau dibawa ke mana?”

“Ah itu persoalan yang lain, tidak relevan, dibuat-buat untuk membenarkan perilaku pembokep, malah makin ingin melakukan yang tidak-tidak. Lagian bapak kan punya istri.”

“Ah, ya, tapi...”

Lalu tiba-tiba muncul suatu perasaan tidak enak dalam benakku, betapa absurdnya kondisi penjelasan malaikat ini.

Berbuat kejahatan jelas masuk neraka. Berbuat sebaik apapun tapi lahir dengan agama salah maka otomatis masuk neraka, lebih-lebih jika kau lahir sebelum jaman nabi atau di pulau yang tak ada nabinya, waduh sial benar. Kau telah masuk agama yang benar, beribadah, tapi buruk dengan sesama masuk neraka. Lalu, aku yang biasa-biasa saja, tapi karena sekedar kebiasaan nonton bokep, masuk neraka. Dan lagi, itukan baru contoh sedikit. Bukankah terdapat teori kekacauan tentang perbuatan kecil yang ternyata mampu menciptakan banyak kondisi yang luar biasa, lah, kalau begitu banyak sekali dosa yang tak mampu dihindari!

Dan benarlah, dia menceritakan bagaimana orang membuang sampah lalu menciptakan limbah yang merusak bumi, padahal kewajiban manusia adalah merawat alam selain memanfaatkannya. Lalu bagaimana orang-orang yang menggunakan kendaraan, ataupun komposisi sawit dalam snack, penikmat daging sapi, dan lain sebagainya, ikut berkontribusi menciptakan pemanasan global yang menyebabkan banyak kepunahan juga kerusakan di muka bumi. Konflik perang. Kelaparan. Ketidakadilan yang terbiarkan. Bunuh diri, beserta orang yang gagal mencegahnya. Banyak hal mengenai masa bodoh manusia, kurangnya empati, dan berakhir dengan kerusakan massal yang tercipta dari kelalaian kecil.

Bahkan, orang yang tertidur tenang di negeri damai sentosa adalah pendosa karena mereka tidak memikirkan saudaranya sesama manusia di lain dunia yang kelaparan, berada di perang, dan lainnya, sedikitpun tak memikirkan mereka ataupun lupa sesaat. Ya, untuk sekedar tidur tanpa khawatir saja dosa!?

Slide berakhir dengan kiamat, ketika sangkakala ditiupkan, jumlah manusia ternyata tinggal puluhan, mereka telah dalam proses kepunahan yang diakibatkan pertikaian juga kehancuran alam dahsyat yang dilakukan oleh diri mereka sendiri. Apatisme dan kebodohan seluruh umat manusia disalahkan karena nasib mengenaskan kemanusiaan saat itu.

Sampai-sampai aku merasa begitu janggal dengan semua penjelasan tersebut, siapa orang yang sangat suci yang mampu masuk ke surga yang butuh spesifikasi luar biasa itu?!

“Woi malaikat, lalu kau tahu siapa orang yang masuk surga? Yang seumur hidupnya berbuat baik kepada segalanya, tidak berbuat sesuatu yang sepele ataupun apatis yang ternyata menimbulkan kerugian luar biasa besar dalam hidup mereka?”

“...”

Diam saja dia, kemudian membuka lembaran kertasnya. Tersenyum malaikat itu kepadaku.

“Kecuali para nabi dan hewan-hewan, belum ada pak orang yang masuk surga.”

Dan kemudian baru aku tahu, seluruh umat manusia ternyata memang ditakdirkan masuk neraka.

Minggu, 19 November 2017

When Void Scream Back At You: Prolog

PROLOG: KENDARAAN MALAM

Uli Nurjanah merasakan merinding tepat di bulu kuduk lehernya. Ia merasai dirinya seperti sedang diperhatikan di tengah gelap bis malam, dan sesekali ia mencoba melirik, pandang tersebut tiba-tiba saja menjadi lenyap dan seketika muncul lagi ketika Uli mulai memandang lurus.

Apa ini hanya perasaannya belaka? Atau memang terdapat sesuatu yang sedang mengintainya? Pikir Uli.
Ini sudah ke dua kalinya Uli harus menggunakan bis, dan dia tidak pernah merasa nyaman dengan kendaraan yang satu ini, entah mengapa sepertinya rentan sekali modus kejahatan terjadi di bis. Hari ini harusnya dirinya tengah duduk di kereta gerbong bisnis menuju Purwokerto dari stasiun Pasar Senen, akan tetapi dia tidak mengira kereta Commuter Line akan tertahan di Jatinegara selama 30 menit lamanya dan membuat dirinya terlambat. Celakanya dia harus melakukan seminar di kampusnya esok hari, sehingga keterlambatannya terasa begitu tolol dalam benak Uli. Terpaksa dia harus naik salah satu bis dari jasa yang Uli tidak kenal, dan Uli menjadi begitu paranoid karenanya.
Kini Uli memeluk tasnya begitu erat, di dalamnya terdapat uang, oleh-oleh, dan laptop yang terdapat bahan-bahan penting di dalamnya. Sekali ia tertidur barangkali semuanya sudah lenyap, dan Uli tidak mau hal tersebut sampai terjadi.
Namun perasaan merinding ini belum ia sadari dari awal dirinya duduk di bis ini, tapi jauh setelah itu.
Pada saat itu bis memasuki rest area, dan Uli memutuskan untuk turun untuk ke kamar mandi, dan menyeduh mie gelas di kantin restroom. Namun pada saat dia memasuki bis, tiba-tiba ia perhatikan salah satu penumpang yang duduk di belakang sambil menggunakan tudung tengah mengambil gambarnya dengan diam-diam, flashlight keluar dari handphonenya yang segera ia sembunyikan dan berpura-pura tidak memperhatikan Uli. Setelah itu seakan perasaan was-was ini tak bisa lagi lepas dari perasaan Uli, seakan membekas, terukir dan menyiksa, Uli begitu ingin segera keluar dari bis ini, namun Purwokerto tak kunjung sampai di mata.
Lama kelamaan pikiran Uli menerawang jauh, seperti, mengapa orang tersebut merekam Uli? Kalau dia berniat mencuri barang berharganya tak perlukan dia harus merekam dirinya? Apa ia memiliki suatu niat tertentu lainnya, suatu niat jahat? Dan pikiran-pikiran tentang kejahatan muncul di benak Uli, pemerkosaan, human trafficking, dan berbagai kejahatan populer lainnya. Berpikir seperti itu, Uli merasa begitu mual dan ingin muntah.
“Maaf mbak? Sedang tidak enak badan yah? Pucat wajah mba.”
Seorang kakek-kakek di sebelahnya tiba-tiba menegur Uli.
“Ah, gak apa kok pak.”
“Mau antimo?”
Uli saat itu melihat bahwa kakek-kakek ini memiliki suatu niat baik, sehingga ia ceritakan bahwa dirinya merasa tidak aman dan sang kakek mengangguk-ngangguk mendengar penjelasannya.
“Tukeran kursi sama kakek aja mau?”
“Ah, ya, terima kasih kek. Duh terima kasih banget…”
Dan seketika Uli berada di dekat jendela, segera perasaan sesuatu yang memandanginya itu terputus. Uli seakan bisa bernafas lega setelah lama dirinya tercekik dalam perasaannya sendiri.
Beberapa jam kemudian setelah itu bis berhenti di sekitaran wilayah Brebes, dan Uli perhatikan dari kegelapan, ternyata pria bertudung itu yang keluar dari bis. Dia tidak terlihat membawa tas atau membawa bawaan lainnya, dan pada saat itu semakin Uli merasa aman, pria yang sudah turun ini tidak mungkin melakukan sesuatu padanya, jelas dia telah salah sangka.
Namun tak lama, Uli tak sengaja bertatapan mata dengan pria tersebut ketika bis mulai memacu gasnya, dan dengan anehnya pria tersebut tersenyum melambai-lambaikan tangan ke arahnya dan menunjuk-nunjuk ke handphonenya yang bercahaya terang di antara gelap itu, Uli tidak tahu jelasnya, tapi sepertinya pria itu menunjukan suatu gambar yang bergerak, video.
Perasaan merinding seketika merambati perasaan Uli pada saat itu, tapi Uli tidak menemui alasan pria tersebut mampu menjadi ancaman bagi dirinya.
Dua jam setelah itu, segala beban Uli sirna. Sudah sampai bis pada pukul 3 pagi di terminal Purwokerto yang masih terlihat ramai dengan aktivitas manusia. Ketika turun, Uli segera disamperi oleh berbagai tukang ojek, namun yang paling getol saat itu adalah tukang Taxi yang memakai seragam kuning.
“Malem-malem gini taxi aja mbak, terus ini tarifnya dipotong setengah aja mbak.”
Uli akhirnya memilih menggunakan taxi karena dia sendiri agak mengantuk setelah sembilan jam perjalanan Uli memaksa dirinya terjaga dan kini takut terjadi apa-apa di jalan, lagipula biaya 15 ribu jika dipotong setengah tidak terlalu mahal.
Masuk ke dalam Taxi kursi belakang, Uli segera memperhatikan sesuatu yang janggal. Di kaca tertempel sebuah kamera yang menghadap ke kursi penumpang. Uli bertanya-tanya apakah armada taxi sekarang punya regulasi seperti ini?
“Itu kamera yah mas?”
“Iya mbak, buat keamanan, kemarin ada yang kena maling. Biar bisa langsung dilaporin.”
Tapi entah mengapa Uli masih merasa janggal. Kamera yang tertempel itu jelas adalah merek GoPro yang cukup mahal untuk armada kecil di kota seperti ini. Namun Uli segera menolak untuk berpikir yang aneh-aneh, berpikir bahwa paranoidnya dikarenakan pengalaman di bis malam barusan.
Tak lama mobil keluar dari terminal, mata Uli sudah mulai tertutup dan terbuka, AC di Taxi ini entah mengapa terasa begitu nyaman, sampai si supir taxi mengajak Uli berbicara, “Mbak tahu gak kemarin ada cerita heboh.”
“Apa bang?”
“Yah, kayak mbak, ada anak gadis mahasiswa keluar dari terminal udah pagi banget. Dia naik ojek tuh, dan ojeknya kenceng banget karena udah malem juga kali yah mbak. Nah, lucunya tuh ojek gak pake jalan umum, tapi pake jalan sepi, yang banyak sawah-sawah, dan si penumpang udah mulai khawatir tuh mbak.”
Uli sadar si supir taxi sedang menceritakan kisah buruk, dan karenanya Uli kembali merasakan perasaan tidak enak dalam hatinya. Walau begitu, entah mengapa Uli tidak segera berusaha menghentikan cerita si supir taxi, dia masih merasa ingin terjaga dari tidurnya.
“Nah, si penumpang teriak nanya kenapa lewat jalan ini, malah si tukang ojek diem aja tuh mbak. Karena makin ke tempat sepi, si penumpang minta berhenti, dan lucunya abangnya malah makin ngebut. Dan di situ, si penumpang yang liat ada semak-semak lebat segera loncat dari motornya. Luka-luka tuh penumpang, segera dia merayap walau kakinya barangkali patah, teriak minta tolong, tapi di sawah udah banyak orang nunggu itu penumpang, entah mau diapain mbaknya.”
Mendengar ucapan si supir taxi, Uli sedikit melirik ke luar jendela, dan entah mengapa jalanan begitu asing, begitu gelap. Walau demikian, Uli memang tidak familiar dengan jalan menuju kosannya dari arah Terminal.
“…”
Pada saat itu sang supir taxi entah mengapa berhenti menceritakan kisahnya, Uli akhirnya mencoba berbicara kepada abangnya mengenai kelanjutan ceritanya yang belum tuntas.
“Terus bisa lolos penumpangnya pak?”
“Enggak, hilang sampai sekarang.”
“Pelakunya ketemu?”
“Yah, korbannya aja belum ketemu, gimana pelakunya mbak?”
Pada saat itu Uli merasakan perasaan yang begitu janggal setelah mendengar penjelasan sang supir taxi tersebut.
“Lah, terus gimana abang tahu ceritanya?”
“Yah tahu aja.”
Mendengar itu Uli segera melihat kaca spion abangnya, dan terlihat abangnya menunjukan ekspresi datar, dia tidak terlihat sedang bercanda. Pandangan Uli juga pada saat itu segera mengarah pada kartu identitas supir, Nurhadi, tahun, dan lainnya, namun tidak terdapat foto dari tempat seharusnya, seakan foto tersebut sudah disobek dari tempatnya.
Keresahan Uli lalu menjadi-jadi, dia akhirnya bertanya dengan perasaan pasrah.
“Bang kita di mana yah?”
“Yah ke kosan mba.”
“Kok saya gak pernah liat tempat ini.”
“Masa sih mbak? Ini kita udah masuk jalan besar loh mbak.”
Uli perhatikan baik-baik, dan, ya ini memang jalan besar, tapi mengapa begitu asing? Uli bukan mahasiswa baru, dia sudah 4 tahun tinggal di kota ini, setidaknya dia sudah sering jalan-jalan bersama temannya keliling kota ini.
Akhirnya Uli segera membuka handphonenya, dan ia buka google mapnya. Pada saat itu taxi berhenti tepat pada lampu merah di tengah jalanan yang begitu sepi.
Sinyal handphonenya tak kunjung menunjukan 4G, dan di handphone Uli hanya tersisa kuota dari jaringan tersebut. Uli segera menepuk-nepuk sinyal yang naik turun, dan ia lihat di kaca spion, si supir taxi memperhatikannya.
“Mbak takut sama cerita saya tadi yah?”
Uli tidak menjawab, ia fokus melihat handphonenya dengan keringat dingin yang perlahan keluar dari dahinya. Dan ketika sinyal akhirnya menunjukan jaringan 4G, google map segera menunjukan lokasi di mana Uli berada.
Pada saat itu Uli tersadar, Taxi ini sedang tidak menuju kosannya.
Tok, tok, tok!
Seseorang mengetuk kaca di pintu belakang dengan kencang, dan ketika Uli menengok, ia melihat seseorang menggunakan topeng kambing dengan kamera di tangannya, mengeluarkan suara napas yang begitu kencang hingga terdengar dari sisi dalam kaca.

Senin, 11 September 2017

Another Isekai Story - Chapter 2



Chapter 2: Eh... Isekai?

"Apa disini gw bisa dapet harem yah?" ngebacot si Andre sambil meler-meler itu liur dari bibirnya. Kita disini udah duduk satu jam lamanya setelah yakin kita kagak mimipi sambil saling nyubit satu sama lain, dan akhirnya terjebak dalam obrolan-obrolan tolol ini. Kharis menceritakan tentang pengetahuannya dari soal novel ringan, game, dan lain-lain mengenai isekai dan tentulah gw dan Andre makin menjadi-jadi soal ini. Sedangkan di pinggir jauh kita ada si tukang asongan yang masih memainkan handphonenya, udah jelas disini gak ada sinyal.
"Ya Allah, hamba masih ingin bertemu dengan anak hamba..."
Yah, akhirnya kita abaikan si tukang asongan yang gak tahu betapa beruntungnya doi.
"Bentar-bentar Ris, coba lu urutin apa aja yang biasanya ada di cerita-cerita kayak gini?"
"Yah, protagonistnya yang bocah sekolah rata-rata seperti biasanya, cenderung pecundang yah, tiba-tiba mati dan pindah ke dunia lain dimana doi punya kekuatan, ketemu cewek yang otomatis suka ama doi, ngelawan antagonist, yah tipikalnya sih gitu. Seminimal-minimalnya dapet cewek lah."
"Geblek juga, tapi setahu gw juga kayak gitu sih."
"Nah, kalo bener kita ini tokoh cerita di cerita macam gitu, harusnya di chapter ini kita udah ketemu cewek."
Gw sama Andre liat sekililing, gak liat tuh ada orang sama sekali.
"Mana ada cewek di tempat ginian?"
"Yah berarti cari pemukiman dulu lah, dan..."
Terus tiba-tiba Kharis megang pundak kita.
"Kita harus misah bro."
"Eh?"
Gw bengong, tapi beda sama Andre, langsung tanggap dia megang kerah Kharis.
"Lah goblok, lu gak liat kita nyasar!"
"Tapi, gini Dre... lu tahu kan kalo di cerita Isekai gini, tokoh utamanya cuman satu, mana ada tiga, cowok semua lagi. Lah kalo tiga, apalagi sama nih tukang asongan, si pemeran ceweknya suka sama siapa dong?"
Andre ngelepas kerah Kharis, dan dengan polosnya dia ngomong, "Iya juga yah?"
"Guooobloook!!"
Spontan gw teriak, dan entah kenapa gw ngerasa nih orang berdua harus agak digesek lagi kepalanya.
"Oke, gw suka sama ide kalo kita ini kejebak di dunia lain, petualangan, dan lain-lainnya, kita cabut dari dunia yang kancrut. Tapi, yah, ini bukan anime cuwk. Lah kita gak tahu kalo kita misah bakalan jadi apa..."
Terus gw mikir, kondisi-kondisi terburuk. Ah, iya!
"Monster, nah, kalo kita ke dunia lain kan masuk tuh ke dunia fantasi. Kita kan gak tahu sekarang kita punya apa di dunia ini? Bisa jadi gak punya apa-apa, kalo ketemu monster mau apa lu? Yakin lu bisa sendirian?"
"Nah, nah, iya betul tuh Ki, tapi gini..."
Kharis rangkul leher gw, senyumnya keliatan bangsat bener.
"Pas di pemukiman itu kita misah."
"Iya, tapi—"
"Sip, jadi kita setuju, kalo udah ketemu pemukiman kita misah oke!" Si Andre berdiri semangat teriak kayak gini.
"Lu kira di pemukiman kagak ada yang bahaya, kan bisa jadi ada kayak tokoh bandit gitu atau..."
Gw berhenti ngomong dan, anjing...
Eh maksud gw, ada naga, bukan anjing, ya naga yang tadi terbang asoy gak jelas, tiba-tiba doi terbang rendah ngalangin sinar matahari, ngebentuk bayangan yang nutupin tukang asongan yang ada di hadapannya seakan tuh naga udah siap pengen ngelahap tuh tukang asongan.
"Woi, bang!"
Gw teriak ke abangnya, dan otomatis Kharis sama Andre nengok dan mereka tiba-tiba panik.
"WOI ANJENG, BANG KABUR BANG!!"
Gobloknya si abang malah naruh dagangannya di rerumputan, dan dia ngebuka tangannya lebar-lebar.
"Gak papa, abang mau bangun dari mimpi dulu."
"BANG LU PENGEN DIMAKAN APA, SINI!!"
"Hari ini anak saya yang paling kecil ulang tahun, saya janji pulang hari ini."
Sekejap si naga mendarat, dan gak lama moncongnya langsung ngelahap setengah badan abangnya yang putus jatuh ke tanah.
Darah, ya Allah, itu darah tumpah deras. Segala isi perut juga.
Dan Kharis muntah-muntah di belakang, sedangkan gw gak bisa gerak.
"WOI SINI LU PADA SEMUANYA, PADA MAU MATI APA!!"
Andre narik kerah gw sama Kharis, yang kemudian nyadarin gw untuk bener-bener kabur dari sini.
"Susah bangsat lari pake sarung..."
"Buka sarung lu, lari pake kolor aja!"
Akhirnya gw buka tuh sarung, dan lari pake cuman pake kolor.
Terus pas gw liat belakang, tuh naga udah ngejar kita terbang!
Anjing, babi, monyet, buangsaaattt!!
Ini apaan? Gak pernah gw liat cerita mulainya berdarah-darah kayak gini.
Dan kita baru ketemu satu mahluk kayak gini, gimana nanti?
"Huaaaaaa!!!!"
Si Kharis nangis terbirit-birit, dia ketinggalan!
Gw nengok ke belakang, dan si naga udah terbang tepat di belakang Kharis.
"Ris, goblok, gak bisa lari lebih kenceng apa?!!"
Tapi keadaan Kharis memang bener-bener bikin sedih, ngompol dia di celananya, nafasnya kempas-kempis, dan keringatnya sebesar biji jagung. Memang, gw gak pernah liat Kharis ini anak yang lari cepet kalo lagi pelajaran penjaskes.
"Lu lari berdua sama Kharis, gw tahan nih bangsat."
"Eh?"
Andre berhenti.
Kharis tetep lari, dan dia ngelewatin Andre, gw otomatis ikutan berhenti juga. Disitu gw liat di tangan Andre megang tongkat, dia mau ngapain pake tuh tongkat?
Si Naga turun, dan gw gak bisa ninggalin Andre sendirian. 
Ah persetan lah. 
Gw jalan deketin doi, kaki gw gemeter, ah taik!
Gw liat Kharis udah masuk ke pelosok hutan, ah udah aman dia.
"Goblok, lu lari juga sama Kharis sana!!"
"Lah, lu mau bunuh diri?"
"Ah, telat dah."
Si naga turun, dan dia berhadapan sama kita berdua. Gw merhatiin Andre, dan gw percaya si Andre ini punya ide.
Lah kenapa gw percaya? Lu harus tahu, kalo gw sama Kharis ini gak ada apa-apanya dulu di sekolah, bener-bener pecundang, dan apalagi Kharis, doi sering di bully. Dan karena keberadaan Andre, kita semua lepas dari hari-hari biasa di sekolah, doi selalu aja punya cara buat bikin keributan, dan ngejaga kita dari masalah. Temenan sama pentolan memang beda. 
Dan disini, gw bingung, dia mau ngapain pake tongkatnya itu.
"Heyaaaaaaa!!!!"
Di lempar tongkatnya, dan kena kepala naganya. Gak ngefek.
"Goblok."
Terus dia ambil batu, dan dia lempar lagi ke naganya.
"Bantuin gw Ki!"
"Goblok, mana ngefek naganya di gituin, dan...!"
Gw lompat dan ngedorong Andre, dan semburan api naganya hampir kena kita berdua.
"Anjing lu, anjiiinnnggg!!!"
Si Andre masih aja ngelempar batu di tanah, dan akhirnya gw ikutan, biarin aja dah mati yang penting sempet ngelawan! Gw bener-bener membabi buta lemparin apa aja di tanah sambil ngerem, dan tiba-tiba aja gw denger naganya teriak keras.
Pas gw melek, ternyata batunya kena mata si naga! Mampus!!
"Nah, cabut kita sekarang!!"
Si naga ngamuk-ngamuk ngibasin sayap dan gw sama Andre langsung lari terbirit-birit ke tempat hutan si Kharis nepi.
Dan sudah sampai di sana, gw nengok lagi, si naga udah cabut dan lagi terbang asoy di atas langit. Disitu gw sadar, gw juga udah ngompol di kolor gw, kuning basah. Bener-bener bangsat.
"Ngki, Pungki!"
Gw nengok, dan gw lihat ada puluhan mahluk asing di belakang kita.
Manusia setengah kuda.
Di pundak mereka ada tubuh lemes Kharis, dan di bawa pergi si Kharis. Si Andre ngejar.
"Bangsat, turunin temen g— Hueeekk!"
Di tendang perut Andre, mental dia, pingsan sambil keluar muntah dari mulutnya.
"Uma ulwa, angikwazi ukuthembisa ukuthi impilo yakho izophephile." Ucap salah satu mahluk ke gw, kagak ngerti, gw kira otomatis kalo kita ke dunia lain mereka udah satu bahasa sama kita. 
Terus yaudah, gw tiduran di tanah, pura-pura mati.
To chapter 3

Minggu, 10 September 2017

Another Isekai Story - Chapter 1

Hidup itu jelas tahik, dan mau gw tatap dari jalan kotor berlumpur maupun dari menara gading, tetep saja kelihatan tahik-tahik juga.
Tapi yah ini tergantung juga, karena barusan gw baru aja dibentak bapak kalo gw gak boleh ikut bimbel seperti Kharis sama Andre. Anak tolol seperti gw lebih baik lulus seadanya dan langsung kerja di bengkel bapak.
Emak juga gak jauh beda, dia bilang begini ke gw: “Kamu tuh kalo gak karena Tuhan, yah paling karena Bocoran.” Terus tambahnya, “Memang kamu pikir, kalo kamu kuliah bisa gampang cari kerja gitu? Gak liat kamu tetangga kita sampe sekarang masih nganggur?”
Kan benar-benar tahik kedengarannya di telinga? Kurang inspiratif apa dua orang tua gw ini?
Yah tapi mau bagaimana juga gw dengar aje ucapan emak, dan dia memang yang paling masuk akal di rumah ini.
Gw lulus karena belajar memang gak mungkin, tiap hari juga molor di kelas, tapi soal Tuhan atau Bocoran? Kan bisa aja dua-duanya.
Karena ucapan emak, hari ini gw udah mandi junub, bersih sampoan walau rambut tetep kumal,  gw tutupin rambut gw dengan kopiah hingga rambut gak kelihatan lagi, dan baju koko bapak gw pake, sampe gw setrika dua kali biar mulus. Gw lihat ke kaca, aih mantap.
Langsung saat itu gw ambil sendal jepit, tas yang berisi satu buku tulis dan pensil, dan pergi menuju pasantren kilat di sekolah gw.
Di perjalanan gerbang sekolah yang sudah merdu dengan teriakan TOA lantunan-lantunan ayat suci, eh udah nongkrong dua bocah bangsat ini, Kharis sama Andre.
Si Andre masih pake celana abu-abunya dan baju koko yang belum disetrika. Doi seka-seka rambut yang ujungnya kekuningan itu yang saking jeleknya gw pikir itu hasil celup ke tong cat tembok. Kharis, lebih parah lagi, bahkan udah pake baju bebas, dan rambut kumal yang kepotong gak rapih tadi pagi karena hukuman rambut panjang masih aja belum diurus, ini anak memang dari dasarnya gak niat kali yeh dateng ke sekolah.
“Woi, lu ngapain rapih banget, mau ngaji bang?” Teriak Kharis.
“Astagfirullah…” ucap gw sambil ngelus-ngelus dada.
“Anjing lu sok alim bangsat, shalat jumat juga jarang lu.” Kali ini yang teriak Andre, Kharis ketawa-tawa.
“Subhanallah, sadarlah kalian dan kembali ke jalan Allah wahai iblis-iblis jahanam.”
Gw jalan ngelewatin mereka, dan ditarik kerah baju gw, kan bangsat.
“Main warnet lah. Kaya kedengeran aja doa lu.”
“Astag…”
Belum juga mau bicara, pak Junaedi dari kejauhan berteriak:
“Woi, berandal! Mau cabut kalian bertiga?!”
Lari dia bawa pecut, si dewan disiplin sialan ini. Badannya bugar, memang dasar guru olahraga, sambil mengap-mengap kumis tebelnya itu. Kalo ketangkep bisa gawat, bisa kena pecut, terus dipecundangin selama pasantren kilat ini. Tapi disitu gw ketawa-tawa, kan gw gak niat cabut, dan dua orang ini kocar-kacir lari ketakutan.
“Pungki sini kamu.”
Bangsat, kok jadi gw sih. Dih, dia main-mainin lagi tuh pecutnya.
“Mau cabut juga kan kamu, woi!”
Akhirnya reflek kaki gw lari, siapa yang gak mau lari pas dikejar babon tua sialan ini?
“Saya panggil orang tuamu Pungki, sini kamu woii!!”
Dan lu pikir orang tua gw peduli?! Pingin teriak gw, tapi ah, gak usah lah.
Sambil bengong lari gitu, gw jatuh sekali karena keselingkep nih sarung, dan gw naikin sarung gw untuk lari lagi.
Bangsat memang.
Setelah ngos-ngosan, plus baju koko dan sarung gw yang kini kotor berantakan, lagi-lagi udah nongkrong nih dua bocah.
“Gw bilang apa, gak cocok lu ikutan pasantren.”
Andre bicara sambil ngebuka dua kancing atas baju koko gw.
“Taik.”
“Padahal gw mau nitip doa, biar dapet bocoran gitu.” Ucap Kharis.
Pokoknya bener-bener tahik dua orang ini.
***
Nah, soal tahik ini kita belum bicara soal Andre dan Kharis. Bisa gw bilang Andre dan Kharis ini berasal dari keluarga yang lebih sejahtera dari gw, yah itu dari pandangan gw, mungkin beda dari pandangan yang lain.
Tapi apa sih tentang hidup yang gak terkait dengan ke’tahik-tahikan’ dunia mau dari skala kaya sampe miskin, sama aja, nah, disini yang merasa hidup kalian normal dan nihil dari ketahik-tahikan ini gw rasa butuh refleksi lagi. Pokoknya jelas, Andre dan Kharis ini samalah kayak gw.
Misal Andre, dia ini pentolan kelas, dan bahkan gw sendiri sebenernya ogah temenan sama doi. Tapi itu sampai pada suatu momen ketika gw tahu bahwa doi berasal dari keluarga yang berantakan, dengan bapaknya yang tolol tapi keras, dua hobbynya itu minum-minum dan senang main gesper ke istrinya juga anak-anaknya. Keraslah si Andre ini fisiknya, dan dia juga pernah cerita ke gw kalo sampe bapaknya tahu dia bonyok, gak boleh pulang sampai berhasil doi pecundangi yang ngebonyokin doi. Nah, jadilah Andre ini jagoan.
Kalo soal Kharis, dia yang paling kaya di antara kita. Tempatnya jadi rental kita main PS bareng, kalo main di warnet doi sering traktir nginep. Demikian, Kharis ini sebenernya anak yang kesepian. Ditinggal bapak juga ibunya kerja, gak punya adik kakak untuk diajak main, dan dia malah deket sama pembantunya, si mbok Daryem, yang udah dianggap ibunya sendiri.
Nah, si Kharis ini juga yang nyatuin kita bertiga. Suatu saat dia setel tuh anime di kelas, dan langsung gw terjang tuh meja karena betapa ngeboseninnya kelas, eh seneng juga gw sama nih kartun jejepangan. Lucunya disini Andre, yang dijauhi kawan-kawan ikutan nonton dan begitu asik reaksinya melihat tontonan yang Kharis bawa.
Maka paslah kita bertiga setelah pertemuan tersebut, yang dimana kawan-kawan malah menjauhi karena adanya Andre, cuman gw dan Kharis doang yang tetep kekeuh bareng Andre nonton anime dan ketawa bareng.
Dan setelah hari itu kita saling bagi-bagi koleksi anime, ngobrol bareng, dan akhirnya makin tahulah kita masalah masing-masing.
Sekarang juga, di bawah gedung menara jam perumahan elit yang akhirnya gak ada gunanya ini kita neduh setelah pencarian warnet kosong gak ngebawa hasil. Gw sama Andre ngerokok, sedangkan Kharis neduh teh sistri dari pedagang asongan sebelah kita yang sama-sama neduh.
“Gw lagi seneng banget sama Re:Zero.” Ucap Andre sambil niup asep yang nyebar kemana-mana.
“Konosuba bagus, lawak sumpah.” Ucap Kharis.
“SAO, pokoknya SAO.” Kata gw.
Dan Kharis mulai tuh ngomongin topik yang menarik dari apa yang kita omongin.
“Kata gw sih yang bikin asik ketiganya, kita bisa ke dunia lain, mau game atau dunia fantasi, kalo kata anak-anak otaku sebutannya itu Isekai.”
“Taik, di Re:Zero Subaru kan kesiksa tuh.”
“Tapi kan masih dikelilingin cewek-cewek cantik, para waifu, harem gitu loh.”
“Woh iya juga.” Gw bilang gitu, dan memang obrolan para jomblo ini.
Setelah itu kita ngobrol banyak soal betapa asiknya genre Isekai ini, gw sih cenderung ngomongin Waifu, tapi Kharis ini serius juga ngomongnya.
“Pokoknya enak lah. Kita ke dunia lain, jadi pemeran utama, jadi hero, dikelilingin cewek-cewek cantik yang otomatis jatuh cinta sama kita, terus kita kuat disana—” Belum selese bicara, Andre nyeletuk “Hus, Subaru enggak.”
Gak peduli, Kharis tetep lanjut “—makananannya enak-enak, ditinggalin lah masalah-masalah kita.”
Gw juga akhirnya ikutan: “Yoi, otomatis kita jadi jagoan disana, disini mah apa, apalagi kayak gw dari lahir udah ditakdirin jadi pecundang, taiklah semuanya.” Dan tiba-tiba gw ngeluh unek-unek gw, "Bayangin aja, kita saingan sama orang-orang kaya, gak termasuk lu yah Kharis, tapi mereka yang masuk SD swasta elit, terus bimbel mahal masuk smp negeri bagus, terus bimbel mahal lagi, masuk sma bagus, terus masuk bimbel mahal masuk universitas bagus. Lah kayak gw, masuk SD negeri deket rumah, masuk SMP masih belum bisa kali-kalian, UNnya lulus pake bocoran, masuk SMA jelek nihil fasilitas sama guru-guru gak niat ngajar, mau bimbel juga kagak punya duit. Swasta? Gak ada duit! Gak adil banget, mending gw ke dunia lain aja."

"Yah nanti kita belajar bareng lah Ngki." Ucap Kharis sambil nepuk pundak gw.
Tapi gw lihat Andre gak dengerin tapi ngebacot sendiri dalam imajinasinya, “Ah, ya, coba kita yang jadi protagonist di anime-anime yah, kan mereka mulainya kaya kita-kita tuh, dan gobloknya tuh cewek-cewek banyak kagak ada yang entot." Dia ucap gitu dengan penekanan di kata 'Entot', dan entah kenapa gw muak banget dengernya, udah gitu terus dia natap ke kita, "Kalo gw jadi protagonistnya, gw entot itu semua ceweknya!"
“Astagfirullah, nak...”
Kaget kita bertiga sama suara familiar itu, suara si tukang asongan yang jualin rokok sama teh sisri tadi. Dia istigfhar karena omongan Andre apa?
“Bersyukur sama hidup yang udah di kasih Allah.”

Oh omongan gw...
Si tukang asongan ini langsung masukin tangannya ke saku celana, dan ngeluarin hape Samsung S6, buangsat muahalnya, boleh juga nih tukang asongannya.
Doi kemudian terlihat cukup lihai ngegeser-geser layar sentuhnya, lihat whatsapp bentar, lalu kembali ke urusannya membuka gallery dan nunjukin ke kita foto anaknya.
Disitu doi pake baju jas hitam keren, dan anaknya pake baju wisuda.
“Lihat ini, anak saya udah wisuda walau bapaknya cuman pedagang asongan. Dia masuk sekolah biasa, gak bimbel, tapi bisa masuk universitas bagus pake beasiswa lagi. Anak saya ini peduli sama orang tuanya yang udah susah payah cari uang, banting tulang, peras keringat, kalian tuh jangan cari alesan gak adil dan lainnya, semuanya memang harus kerja keras." Terus dia sodorin hapenya ke kita, "Ini handphone dibeliin anak saya sekarang udah sukses kerja di singapura.”
Lah bapak ngapain masih kerja jadi pedagang asongan?
“Lah bapak ngapain masih jadi pedagang asongan kalo gitu?” Ucap Andre, dan ucapannya persis sama pikiran gw.
“Terserah bapak mau kerja jadi apa, intinya, kamu bertiga itu harus mensyukuri dan kerja keras untuk bisa—“
Tiba-tiba omongannya terhenti sama cahaya bener-bener terang, petir, nyamber ke pohon di depan kita.
Kebakarlah pohon itu, dan kita semua terloncat seketika sama kerasnya suara guntur petir yang menyusul setelah cahaya petir.
“Waduh, matiin hapenya pak, nanti petirnya kesini!”
“Lah, petir gak bakal nyamber dua kali de---“
Dan cahaya terang kembali muncul.
Kali ini tubuh ini tiba-tiba ngerasain suatu sensasi, mirip kaya kesetrum kali yah, tapi gak sakit sih...
Dan tiba-tiba gw gak ngerasa apa-apa, dan gw sadar mata gw ngerem.
Gw ngebuka mata, dan di hadapan gw ada padang hijau, cerah banget, di kejauhan juga ada hutan, bener-bener beda sama pemandangan sebelumnya. Seketika itu ada bayangan juga di atas yang nutupin kita, dan pas kita lihat ke atas, ada naga, terbang dengan asoynya.
“Astagfirullah, kita udah di alam barzah dek.”
Tapi gw, Andre, dan Kharis tersenyum-senyum. Kepala kita berpikir satu hal, “Isekai”, kita pergi ke dunia lain.
“Asik!!!”
Continue to chapter 2