Rabu, 27 Februari 2019

The Unsung Hero: Cita-Cita Saya Dalam Membuat Cerita Fantasi.

Saya jujur menggilai genre fantasi. Jika saja Indonesia memiliki massa genre fantasi yang bagus, cita-cita saya barangkali jadi novelis bergenre fantasi. Pertama kali saya mencintai genre ini dari videogame, terutama Final Fantasy Tactic (yang merupakan sub-seri Final Fantasy).

Mendalami fantasi kisah-kisah kebanyakan selalu menceritakan seorang yang terpilih ataupun istimewa. Pahlawan (Hero), Bangsawan, Petarung tangguh, Anak yang terkutuk, Dragonborn, Esper, dan lain sebagainya, yang tak lain mengisayaratkan bahwa genre fantasi mengharuskan tokoh utamanya menjadi sosok spesial di dalamnya. Parahnya lagi, fantasi juga menjadi sarana self-insert yang cukup parah, tokoh-tokoh semacam Mary Sue menghantui cerita fantasi kini karena genre fantasi sendiri dianggap sebagai cerita yang ideal sebagai medium eskapis.

Saya kemudian jadi berpikir kembali apa yang membuat saya tergila-gila dengan dunia fantasi? Manusia-manusia yang menggunakan pedang dan baju zirah, melawan naga dan mahluk fantasi sejenisnya, dalam dunia yang indah nan kreatif. Tapi, dewasa ini, terutama pengalaman saya mendalami sejarah, pengamatan sehari-hari dan tentunya, bermain game mengingatkan saya bahwa ada kisah-kisah yang asing dalam genre fantasi: Cerita orang biasa.

The Unsung Hero menceritakan tokoh pahlawan tanpa jasa. Dia tidak diingat, tidak dinyanyikan, dan lenyap di makan jaman. Demikian, kontribusi dan ketulusan mereka dalam melakukan sesuatu tidak perlu dipertanyakan, mereka adalah sebenar-benarnya pahlawan. Di sini pahlawan yang saya maksud bisa apa saja, penjaga gerbang, kurir, penjaga bar, dan lain sebagainya. Kehidupan dan pekerjaan mereka, sebiasa-biasanya, adalah menghidupi dunia fantasi dengan segala ancaman di dalamnya, tak lain ancaman yang sama dialami para manusia luar biasa yang sering kita baca di dunia fantasi.

Saya ingat memainkan cerita seorang yang terpilih, sang messiah. Ia berjalan, menyusuri dunia fantasi untuk mengalahkan tokoh jahat, sang raja kegelapan (begitu klise-nya). Suatu saat saya mengunjungi suatu tempat pemukiman terakhir, tempat beristirahat dan membeli barang-barang kelas atas sebelum bertemu sang boss. Di situ saya sadar, bagaimana sang penjaga bar, seorang biasa, mampu mengumpulkan barang-barang kelas atas dan bertahan selagi saya, sang messiah, terlunta-lunta menghadapi mob random encounter yang luar biasa menyusahkan?

Barang-barang itu tidak akan ada tanpa adanya para pemburu, tak ada yang mengantarkan kecuali ada bantuan pedagang ataupun kurir, dan tak akan ada tanpa diramu terlebih dahulu dari seorang alchemist ataupun sang pemilik bar itu sendiri. Pemukiman itu barangkali juga tidak ada jika sang penjaga bar tidak cukup kuat, tidak memiliki koneksi, dan segala persyaratannya untuk bertahan di tempat itu. Demikian, mereka ada, untuk membantu sang messiah mengemban tugasnya dan tentu juga untuk kebaikan para petualang dan mahluk lainnya.

Cerita-cerita seperti menarik seseorang ke dalam realita, saya harap begitu. Seorang berpakian oranye yang menyapu taman dan orang yang menyeret gerombak sampah, apa bisa dikatakan pahlawan kita tak pernah tahu, tapi jelas tanpa mereka taman kotor dan sampah tidak ada yang mengambil. Begitu juga tentu pekerjaan seperti Guru, TKI, Mbok nasi rames, dan lain-lainnya. Mereka menghidupi dunia mereka, perbuatan mereka dalam berkontribusi pada keadaan yang lebih baik sama baiknya mungkin dengan pahlawan.

Tapi mereka tak dibanggakan, tak dinyanyikan, dan bahkan beberapanya dihina. Mereka yang saya idolakan, pahlawan-pahlawan semacam itu, sebagaimana tokoh yang saya hormati juga yang seumur hidupnya berjuang demi bangsanya ditembak oleh bangsa yang dibelanya, seumur hidupnya dikutuk oleh sebagian bangsanya, tokoh tragis di kisah-kisah tragedi kebanyakan. Tapi mereka-mereka ini adalah yang menjejakan kakinya, membekas langkah kaki dalam dunia yang dibuatnya, dunia yang lebih baik dari kegelapan tanpa harap miliknya dulu.

Saya berharap, dengan kemampuan saya yang terbatas dan apa adanya mampu menciptakan konsep-konsep potensial untuk mengusung tema The Unsung Hero ini.

Minggu, 17 Februari 2019

Tulisan Asal: Ballad Narayama dan Kegelisahan Saya




Ada kisah lama di Jepang berjudul The Ballad of Narayama [1] yang mengisahkan tradisi ubasute, yaitu seorang anak menelantarkan orang tuanya ke gunung ketika mereka mulai menjadi beban dalam hidup. Kisah atau tradisi ini barangkali tidak asing di masa modern, di mana orang tua yang dianggap merepotkan atau memiliki banyak kebutuhan diputuskan oleh keluarganya untuk ditempatkan di panti jompo.

Dalam Islam atau norma sosial di negeri ini, hal ini sangat tidak pantas. Gambaran paling umum adalah bagaimana kita sebagai anak, pada masa bayi dulu, benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa dan sangat bergantung pada kasih sayang orang tua. Bukan hanya itu, bahkan hingga menginjak usia akil baligh, 17 tahun atau bahkan lebih, orang tua tetap merawat dan memedulikan kita dengan sepenuh hati (setidaknya di Indonesia).

Kembali ke kisah The Ballad of Narayama, sang ibu bukan hanya menyelesaikan persoalan hidup sebagai bekal anaknya, tetapi juga, saat digendong menuju gunung, ia memetik ranting-ranting di sepanjang jalan dan menyebarkannya sebagai jejak agar anaknya mampu pulang dengan selamat. Begitu gambaran kasih sayang seorang ibu dalam kisah ini, dan bagaimana seorang anak seharusnya sadar betapa dalamnya ikatan hubungan ibu dan anak.

***

Saya beberapa waktu lalu menghadapi dua minggu melihat Ibu sakit parah. Awalnya Ibu hanya menunjukkan gejala flu, dan kebetulan saya juga tertular, jadi saya yakin kami mengalami sakit yang sama. Namun, Ibu tetap bekerja setiap hari, sedangkan saya masih berleha-leha di rumah pasca lulus kuliah, mengulur-ngulur persiapan beasiswa yang belum tentu saya dapatkan. Penyakit saya membaik, mungkin karena lepas dari stres, cukup istirahat, dan makan bergizi. Berbeda dengan Ibu; tiga hal itu tidak ia lakukan, terutama karena stres mempersiapkan acara Imlek di sekolahnya, ditambah eksperimen obat tanpa konsultasi langsung ke dokter.

Penyakitnya memburuk: demam sering terjadi, tidak bisa makan, batuk yang terkadang diikuti muntah, dan ia tidak bisa tidur akibat batuk tersebut. Terkadang malam hari saya mendengar Ibu terduduk menekuk—satu-satunya cara agar ia tidak batuk—sambil menangis dan bertanya kepada Tuhan kenapa ia tidak sembuh-sembuh. Itu terjadi tepat dua minggu sejak awal sakit. Ibu juga memang bukan contoh yang baik bagi orang sakit; antibiotik yang ia pesan sendiri saya kritik agar dikonsultasikan ke dokter sungguhan, bukan hanya berdasarkan pengalaman atau resep lama dari dokter yang bahkan tidak bertemu langsung dengannya.

Klimaks penyakit Ibu terjadi setelah acara sekolahnya selesai. Ibu dibawa Bapak ke UGD Rumah Sakit Rawalumbu (karena BPJS hanya diterima lewat layanan UGD, katanya). Menurut Ibu, dokter melihat adanya infeksi dari pemeriksaan darah, tetapi masalahnya dikatakan ada di lambung. Obat diberikan untuk tiga hari. Ibu sempat membaik, suhu panasnya turun walau belum bisa tidur. Namun beberapa hari kemudian, Ibu kembali demam parah dan dibawa lagi ke UGD. Kali ini Ibu diberi selang oksigen dan, lagi-lagi, obat yang sama. Ibu tak kunjung membaik.

Akhirnya Ibu kami paksa bertemu kakaknya yang seorang dokter (entah mengapa Ibu selalu ogah berkonsultasi dengannya, padahal ia spesialis THT). Bahkan teman Bapak yang juga dokter penyakit dalam datang menjenguk dan memeriksa Ibu, tetapi Ibu skeptis terhadap obat yang diberikannya: “Lagi-lagi antibiotik,” atau, “Dia kan bukan ahli THT atau paru-paru,” katanya. Obat dari teman Bapak tidak diminum, dan kami kesulitan mendapatkan obat dari resep kakak Ibu (yang kemudian ia bantu carikan, meski tiga hari terasa sangat lama). Di jeda tanpa obat, Ibu dibawa ke tukang urut refleksi oleh kakaknya yang lain. Tukang urut ini, menurut saya, menyesatkan, bahkan menakut-nakuti agar Ibu menghentikan semua obat medis dan fokus pada pengobatan alternatif, dengan alasan penyakitnya terkait lambung, yang menurut saya tidak berdasar karena tidak melalui uji lab dan kontrol lanjutan.

Terlepas dari benar atau salahnya, Ibu tetap tidak bisa tidur walau obat antasida sudah diberikan. Memang gejalanya mirip GERD, tetapi ketika obat lambung tidak bekerja, saya merasa ada kejanggalan. Obat akhirnya didapat dari kakaknya, dan Ibu melanjutkan pengobatan hingga antibiotik habis. Di titik ini, Ibu mulai membaik: bisa makan dan tidur. Saya menyarankan kontrol ulang, tetapi tidak dilakukan. Sore harinya, Ibu kembali demam parah disertai muntah, dan kami kembali membawanya ke UGD Rawalumbu. Karena tidak percaya lagi, kami memutuskan ke RS Harum, tempat kakak Ibu bekerja.

Di sana, hasil rontgen menunjukkan infeksi berat dengan radang di paru-paru, dan katanya tidak ada masalah di lambung. Ibu sebenarnya diperbolehkan pulang dengan obat dan rujukan ke dokter paru pada hari Senin (kami datang hari Sabtu), tetapi Ibu berkali-kali menyatakan ingin dirawat inap karena berharap bisa lebih cepat sembuh. Dokter jaga, termasuk kakaknya yang saat itu datang menjenguk, akhirnya menyetujui dan memfasilitasi.

***

Di sini saya kembali ke fokus awal: merawat orang sakit itu melelahkan dan penuh tekanan. Setiap hari mendengar keluh kesah dan emosi yang tidak stabil. Setiap malam suara batuk, muntah, dan tangis. Suatu malam saya memijati Ibu, mengajaknya bicara, sambil membayangkan betapa membosankannya mencoba tidur dalam posisi tidak nyaman, duduk menekuk dengan bantal sebagai penyangga.

Ketika Bapak meminta saya menemani ke rumah sakit, saya mengiyakan, tetapi dengan keengganan yang terlihat jelas. Padahal saya yang sebelumnya mendorong Ibu untuk ke rumah sakit, dan juga ikut merawatnya, justru menunjukkan keengganan untuk menemani ketika dirawat inap.

Yang ada di kepala saya adalah timbunan rasa tidak enak yang sudah terlalu penuh. Saya sempat menyalahkan kondisi tubuh yang tidak fit (dan benar saja, keesokan harinya saya kembali pilek). Setelah ikut ke UGD, klimaks perasaan itu muncul ketika Ibu memutuskan rawat inap. Dalam pikiran saya, keputusan itu terasa berlebihan: secara triage ibu tidak termasuk wajib rawat inap, obatnya sama saja, hanya berbeda cara pemberian; tetap sulit tidur; tidak bisa beraktivitas; dan menambah kerepotan keluarga. Rumah sakit juga terasa seperti ruang tanpa kehidupan yang dipenuhi orang sakit, sempit, dan membosankan. Tentu saja saya bisa saja sangat salah; ini hanya perspektif sempit saya yang bukan tenaga medis.

Saya teringat pengalaman sebelumnya saat Ibu patah tulang dan saya menemaninya di rumah sakit: repot, bosan, melelahkan. Bau khas rumah sakit, ruang sempit, tidur di kursi atau lantai, lorong sempit, toilet yang buruk dan sibuk. Dan yang paling mengganggu, saya merasa lega ketika pulang dan bisa tidur di kasur sendiri. Saya yang biasanya bermanja pada Ibu, ternyata memiliki perasaan sayang yang terasa begitu tipis ketika Ibu sedang susah—setidaknya itu yang saya pikirkan saat itu, dan sekarang.

Ketika Ibu sudah di kamar rawat, Bapak bertanya sekaligus meminta apakah saya mau menginap pada hari pertama karena ia harus mengurus dokumen BPJS. Saya menjawab iya dengan perasaan ogah, dan ia bisa membaca itu dari wajah saya. Akhirnya Bapak memutuskan untuk tinggal sampai suster mengizinkan tanpa pendamping, lalu kami pulang. Keesokan paginya, Bapak berangkat sendiri ke rumah sakit tanpa bicara banyak.

Saya merasa sangat bersalah pagi itu, seolah mengkhianati Ibu dan ekspektasi Bapak. Namun di hari yang sama, perasaan enggan itu tetap ada. Adik menawarkan untuk tinggal, dan saya berusaha menghindar dengan alasan ruang sempit hanya cukup untuk satu orang. Akhirnya Bapak yang tinggal, dan saya dan adik pulang.

Dalam perjalanan pulang, saya bertanya pada diri sendiri: kenapa ada perasan tidak tenang, bersalah, dan kesedihan yang luar biasa, yang anehnya diikuti dengan kelegaan? Lalu saya teringat kembali The Ballad of Narayama.

Saya membayangkan jika saya yang sakit, entah kanker atau penyakit berat lainnya, Ibu pasti tanpa banyak berpikir akan menemani saya, bahkan meninggalkan pekerjaannya. Saya, yang sudah capek-capek dibiayai sampai sarjana, yang sekarang menganggur tanpa pernah dimarahi atau diceramahi, tetap diberi makan dan disayang, dengan penuh kepercayaan bahwa suatu saat saya akan bekerja atau melanjutkan pendidikan. Ibu, yang “hanya” seorang guru, yang sampai malam masih bekerja privat dan banting tulang demi pendidikan anak-anaknya, tidak pernah benar-benar memikirkan dirinya sendiri.

Sementara saya, hari ini, di depan kasur Ibu yang lemas karena sakit, bahkan ketika ia kadang meluapkan emosi karena rasa sakitnya, justru sempat memiliki pikiran yang terasa begitu brengsek.

Jika suatu saat Ibu dan Bapak menua, kemudian sakit, pikun, atau menjadi seperti anak kecil yang terus mengeluh, apakah perasaan seperti ini akan muncul lagi? Apakah saya akan menjadi seperti anak dalam kisah itu? Anak yang tidak tahu arti berbakti, yang lupa akan kebaikan orang tuanya, yang dulu merawat kita ketika kita juga lemah, mengompol, kekanak-kanakan, dan menangis di malam hari saat mereka ingin beristirahat? Meninggalkan mereka di panti jompo, lalu menghela napas lega ketika kembali ke rumah karena sumber stres itu telah menghilang?

Saya benar-benar merasa bersalah hari ini, dan semoga saya bisa merefleksi diri lewat tulisan ini. 




[1] https://en.wikipedia.org/wiki/The_Ballad_of_Narayama_(1958_film)

Sabtu, 02 Februari 2019

Naas: Sebuah Cerita Pendek


Afrizal bangun pukul setengah lima subuh. Segera ia membangunkan keluarganya, sang ibu segera terbangun mengambil wudhu, adik-adik Afrizal yang masih kecil masih terlihat ogah-ogahan, beberapa memeluk guling lebih erat, beberapa membalik badan menolak. Tapi Afrizal tetap bersikeras, makin keras ia goyangkan sambil menegur "Bangun-bangun!" maka akhirnya terbangun mereka dengan enggan untuk bertemu tuhan mereka.
Afrizal kemudian memimpin shalat, beberapa kesal karena Afrizal selalu melantunkan ayat panjang, biasanya adiknya Syahrul segera melolongkan menguapnya hingga terdengar telinga Afrizal, tapi ia tidak peduli.
Dahulu perilaku begini bisa membikin Syahrul dijepret Bapak dengan sabuk, tapi kegiatan shalat subuh ini sudah digantikan Afrizal setelah Bapak wafat, dan Afrizal tak pernah setega itu pada adiknya.
Setelah shalat adik-adik Afrizal kembali tidur kecuali Ani yang sudah SMA. Dia menyiapkan buku dan menyetrika pakaian, dari pakaian seragamnya sampai seragam cleaning service Afrizal dan adik-adiknya. Ibu saat itu menyiapkan sarapan, memasak nasi dan menyuguhkan teh. Afrizal segera mandi, bersiap diri karena pukul 6 dia sudah harus di sekolah untuk melakukan pekerjaannya.
Air terasa dingin membasahi tubuh Afrizal pada pagi hari itu, diselingi angin yang menyelinap masuk dari atap kamar mandi yang tak beratap. Afrizal hanya mengguyur seadanya, sabunan dan sampoan dibarengi, guyur lagi dua kali dengan sungguh-sungguh membilas seefisien mungkin bersih mengingat betapa repotnya mengambil air dari sumur. Afrizal setelah berhandukan segera menggunakan celana dan kaus skutangnya.
Keluar dari kamar mandi sudah ada Ani di sebelah tempat setrika, dia terlihat tidak ingin segera masuk menggantikan kakaknya.
"Mas," Ucap Ani sambil memberikan seragam pada Afrizal, wajahnya tapi berpaling tidak menatap langsung pada kakaknya, "Boleh Ani minta sesuatu Mas?"
Afrizal mengambil baju seragamnya yang sudah disetrika Ani sekalian merespon ucapan Ani, "Mau minta apa Ni?"
Afrizal tahu Ani ingin meminta duit, dan wajah Ani seakan enggan menanyakannya, tidak enak.
Afrizal tahu bahwa Ani selama ini memang selalu merasa enggan dalam perihal uang. Setelah bapak tiada, Afrizal sebagai kakak tertua meninggalkan sekolahnya untuk bekerja menghidupi keluarga. Pekerjaan Afrizal merupakan pekerjaan serabutan, kadang ia menjadi kuli, menjadi tukang bersih got, benerin genteng. Kini ia mendapati pekerjaan tetap menjadi cleaning service yang gajinya lumayan, itupun tidak mengurangi kelelahannya karena setelah bekerja Afrizal kemudian membantu Ibu yang kini memiliki usaha laundry dari modal yang dikumpulkan Afrizal dan tabungan Bapak.
Melihat kakaknya yang tak pernah mengeluh, ia tak pernah tega menggunakan uang jajannya untuk makan. Jika temannya mengajak ia main, ia menolak. Ani tahu kondisi keluarganya, maka ia belajar pintar-pintar agar tidak membebani kakaknya. Namun kali ini Ani sedih, bahwa dia terpaksa harus meminta uang pada kakaknya.
"Mas, ini... Ani ada acara perpisahan."
"Ah iya, kamu habis UN yah Ni, butuh berapa perpisahan?"
Afrizal tersenyum bertanya sambil mengeluarkan dompetnya, padahal dalam hatinya dia bersiap diri mendengar digit angka uang yang akan diucapkan Ani.
"Tiga ratus..." Ani tiba-tiba saja memalingkan wajahnya, "Gak usah deh mas."
Ani tentu ingin sekali ke acara perpisahan untuk meninggalkan kenang-kenangan bersama sahabat-sahabatnya, tapi apakah acara perpisahan itu wajib sekali untuk diikuti? Lagipula tiga ratus itu uang yang besar sekali, pikir Ani, itu juga sudah dikurangi uang tabungan Ani. Memang perpisahan kali ini istimewa, karena sekolahnya berencana untuk pergi ke Jogja, tur ke universitas-universitas dan tempat wisata. Tapi kemewahan itu bukan untuk Ani, pikirnya.
"Nih."
Demikian Ani sudah berkata begitu, uang tiga ratus ribu tergeletak di tempat setrikaan. Afrizal sudah memasukan lagi dompetnya di kantung celananya.
"Mas, Ani..."
"Udah, gak papa. Mas masih banyak simpenan duit kok."
Ani memeluk kakaknya.
"Terima kasih mas!"
Ani tersenyum, dan Afrizal merasa lega. Ani adiknya yang ia banggakan, juara kelas, selalu merenung setelah ditinggal bapak. Baru kali ini Afrizal mampu membuatnya senang.
Demikian, Afrizal harus berpikir pekerjaan paruh waktu apa yang harus ia lakukan setelah bekerja sebagai Cleaning Service untuk mengganti uang tiga ratus tersebut.
***
Pukul 10, Afrizal kini sedang membersihkan kamar mandi di sekolah tempat ia bekerja. Afrizal baru bekerja beberapa bulan, dan ia merasa terkagum-kagum dengan sekolah ini, terutama kamar mandinya, lebih besar dari rumah yang ia hidupi bersama lima anggota keluarganya.
Ia jadi ingat kamar mandi yang begitu bau pesing di sekolah dasarnya dulu, begitu kotor dan tidak nyaman. Afrizal lebih enak pulang saja jika kebelet buang air besar dibanding harus berada di wc sekolah tersebut, sedangkan di sini, barangkali Afrizal bisa berlama-lama berak sambil ngudud. Tapi, Afrizal juga kebingungan sendiri. Kloset yang kini ia bersihkan merupakan kloset duduk, tidak ada bak air, hanya tersedia tissue dan tempat sampah. Di kloset duduk tersebut sendiri banyak tombol-tombol misterius juga, yang Afrizal takut kalau ia tekan nanti bisa rusak.
Demikian untunglah Afrizal tidak terlalu pusing mengenai itu, mereka para cleaning service memang tidak diperkenankan menggunakan WC siswa, apalagi WC guru. Mereka punya WC-nya sendiri, yaitu di tempat parkir di luar sekolah, kloset jongkok lengkap dengan bak airnya yang memang pas buat mereka.
Dan kalo dipikir-pikir, jika buang air besar sambil duduk, Afrizal pikir takkan bisa kotoran itu bisa keluar, toh susah ngedennya.
Sedang bengong mengelapi kaca sambil menyemprotkan cairan pembersih, keluar seorang bocah. Wajahnya pucat, jalannya pun aneh, langkahnya besar-besar sekali. Terlihat ia kesakitan. Mereka bertatap mata sekilas, dan Afrizal melanjutkan mengelap kaca kembali.
Tak lama Afrizal sudah lupa dengan pertemuannya dengan anak kecil tersebut.
***
Pukul 8 malam, Afrizal tengah bekerja membantu temannya berjualan nasi kucing.
Tiba-tiba handphonenya berdering, ditelpon dari nomor kepegawaian sekolah.
Dia disuruh untuk segera masuk pukul 6 pagi, walau besok adalah hari minggu.
Afrizal merasakan sesuatu yang janggal dari nada bicara staff kepegawaian tersebut, namun setelah telpon tertutup, Afrizal segera menghapus segala perasaan janggal tersebut dan fokus melayani pelanggan.
Afrizal kemudian kembali bekerja sampai pukul 11 malam.
Ketika pulang, Ibu Afrizal menunggu di depan rumah sambil terkantuk-kantuk matanya. Melihat Afrizal mengucapkan "Assalamualaikum," Ibu tersenyum, dengan penuh syukur menjawab salam Afrizal, "Waalaikumsalam.". Segera ibu membawa segelas teh hangat selagi Afrizal mengganti baju.
Kemudian mereka nonton tv berdua, ibu bercerita mengenai apa yang dia alami hari ini.
"Ani peringkat sepuluh besar UN di seluruh provinsi kata gurunya."
Afrizal sudah dengar semua itu kemarin, tapi ia selalu mendengarkan ucapan bangga dari ibunya.
"Ani tuh bisa milih universitas apa aja, dan tahu gak mas dia bilang apa ke Ibu?" Kemudian Ibu berucap, kali ini suaranya kehilangan semangatnya, "Dia bilang dia pingin langsung kerja aja."
"Wah, sayang."
"Nah betul kan? Katanya uang gedung mahal, dan lain-lain."
"Nah terus ibu bilang apa ke Ani?"
"Yah, Ibu bilang kita urus beasiswa, kan ada sekarang apa itu namanya? Bidik misi? Kita juga bisa minta keringanan. Pokoknya kata gurunya semuanya bisa diurus."
"Iya, betul tuh." Afrizal sebenarnya tak paham benar apa yang ibunya katakan, tapi ia mengangguk-ngangguk saja.
"Tapi Ani bilang juga, nanti ada biaya kos, belum biaya makan, belum buat beli buku, laptop."
"Kebanyakan mikir tuh anak..."
"Iya kan?"
"Terus ibu bilang apa?"
"Yah, ibu bilang bener juga."
"Looohh..." Afrizal menepuk kepalanya, "Ibu bilang ke Ani, masnya bakal urus semua kebutuhan hidup Ani. Yang penting Ani kuliah dulu, di mana aja. Bilang, cuman itu cara kita bisa keluar hidup miskin. Gak apa masnya banting tulang, capek, yang penting Ani bisa sukses. Nah, sekarang di mana Ani?"
"Lagi nginep di rumah temennya."
"Yasudah, besok aku bilang sendiri ke anaknya."
Ibu melihat ke arah Afrizal yang kembali fokus menonton TV. Ibu bersykur sekali punya anak rajin dan penuh rasa tanggung jawab. Berkali-kali Ibu merasa bersalah bahwa dirinya yang hanya lulusan SD tidak mampu melanjutkan sekolah anaknya. Ibu ingat setelah kematian bapaknya, Afrizal berkata, "Gak apa bu, Afrizal yang kerja.", Ibu menangis mengatakan tidak boleh begitu, harapan orang tua adalah melihat anaknya mampu hingga ke pendidikan tinggi, "Afrizal kerja sampai Ani lulus, nanti Afrizal lanjut sekolah lagi, janji bu, gimana kalau gitu?"
Tentu Afrizal hanya berkata begitu untuk meyakinkan sang Ibu, dan karenanya hingga kini mereka masih mampu bertahan dari segala kesusahan yang mereka hadapi.
Sekali lagi dalam pikir Ibu, bahwa Ibu sungguh bersyukur memiliki anak seperti Afrizal.
***
Keesokan harinya, terdengar kabar dari telpon bahwa Afrizal ditangkap pihak kepolisian.
Ibu pingsan.
***
Afrizal berdiri di antara cleaning service yang kemarin mendapati tugas mengurus kamar mandi.
Seorang ibu dengan wajah gusar bersama pihak kepolisian menyuruh sang anak menunjuk.
"Saya tahu! Salah satu dari kalian memperkosa anak saya!"
Sang bocah kelihatan kebingungan. Seorang polwan membisik anak tersebut, dia disuruh memilih, tapi lagi, ia enggan. Salah satu guru dengan ilmu pseudo-psikologinya berkata, "Sang anak pasti trauma sehingga ingatannya buyar, ah, barangkali diancam."
Sang ibu kemudian menarik anaknya, "Cepat nak, pak polisi nunggu siapa yang ngelakuin ini ke kamu."
Sang anak tertekan.
Kemarin dia mengeluh ke ibunya, pada bagian anusnya ia merasakan sakit, keluar darah. Tak seperti yang ia sangka, ibunya terlihat begitu kaget, dan segera memeluknya, "Siapa yang melakukan ini nak? Siapa?" Dia menangis saat itu. Sang anak kebingungan, tak memahami maksud ibunya, sampai tiba-tiba dia dipaksa bangun pada pagi harinya, dan kini bertemu bapak polisi dan staff cleaning service di hadapannya, yang ia tak kenal, kecuali... Wajah yang familiar ketika ia keluar dari kamar mandi kemarin.
Jika ditanya, siapa yang ia ingat dalam ingatannya yang samar-samar, hanya pria itu.
Telunjuknya terangkat.
Afrizal dipilihnya.
Afrizal takjub tak mampu berkata apa-apa, seketika polisi segera memborgolnya, dan pandang-pandang jijik terhadapnya.
Diamnya hilang ketika tampar mengenai pipinya.
"Mati kamu! Bajingan!"
Sang ibu berteriak dengan matanya yang ngeri.
Afrizal tentu tak terima, "Ini fitnah!" ucapnya, tapi tak ada yang menanggapi, kawan-kawan cleaning servicenya pun hanya menunduk.
Sang anak segera di bawa pergi, Afrizal mengingat pada pagi hari itu ketika dia sedang mengelap kaca. Seorang anak yang berjalan dengan rintihan rasa sakit. Ingatannya kembali, dan ingatan tersebut adalah ingatan yang percuma.
Dia hanya bisa merintih seketika polisi menaklukan badannya yang melawan, "Ini fitnah, Astagfirullah, demi Allah, ini fitnah..."
***
Pukulan mengenai bibir kemudian pelipis Afrizal, pecah, darah mengocor deras.
Pukulan mengenai perut Afrizal, muntah seluruh isi sarapannya.
Pukulan mengenai mata Afrizal, bonyok dibuatnya.
"Ngaku lu Anjing!"
Kasus para pemerkosa sulit untuk dibuktikan, terutama dari kasus ini. Pertama, tidak ada saksi kecuali korban. Kedua, tidak ada sperma yang ditinggalkan korban. Ketiga, hasil visum saja tidak cukup. Korban bisa saja berbohong, tapi polisi cukup tahu, anak kecil tidak mungkin berbohong.
Polisi yang berada di ruang intograsi ini semuanya memiliki anak, bagi mereka tiada ampun bagi para penyodomi anak.
Ditenggelamkan Afrizal.
Dipotong kuku-kuku itu hingga keujung-ujungnya.
Disetrum Afrizal.
Sudah 12 jam.
Pandangan Afrizal mulai buyar. Perutnya kembung oleh air. Perutnya belum terisi apa-apa, pun yang sudah terisi terbuang dalam muntah.
Ia belum juga mengaku, namun kini ia begitu ragu untuk mempertahankannya. Melihat kini ruhnya sudah begitu tidak lekat dengan raga, ia merasa begitu sayang jika ia mati pada saat ini.
Pikiran Afrizal lebih-lebih memikirkan nasib keluarganya setelah rasa sakit mulai mati rasa: Koko, Adi, dan Syahrul masih SD, terutama Syahrul yang sebentar lagi akan menginjak bangku SMP. Dia butuh baju, buku, dan uang gedung. Ani pastilah takkan tega untuk melanjutkan kuliah, ia pasti akan bekerja, entah membantu ibu, menjadi TKI atau menjadi istri seseorang untuk meringankan beban ibu. Dan Ibu, duh, ibuku sayang, kalau sampai aku ditangkap bagaimana nasib bisnis ibu? Ah, ah, jika aku mati, siapa yang mampu menjaga mereka? Tapi juga jika aku mengaku, aku akan dipenjara, dan sama saja hasilnya.
Apa ini yang dikatakan apes? Naas? Apa ini yang disebut bagai buah simalakama?
Polisi sudah selesai istirahat.
Wajah mereka masih garang.
Salah satu dari mereka membawa kertas dan pulpen.
"Kalo lu ngaku, gw janji proses pengadilan lu lancar, dan cuman dipenjara yah, paling lima tahun lah."
Afrizal terdiam dengan badannya yang masih basah, dan darah yang menetes dari bibirnya yang pecah. Matanya terpicu oleh suara binatang yang berada di balik sang polisi.
"Kalo lu gak ngaku, yah lu mati anjing. Terus lu kira kalo lu mati terus lu gak bakal dikira sebagai pelaku? Nggak njing. Lu bakal tetep jadi penyodomi anak kecil."
Afrizal memegang pulpen dihadapannya.
"Nah gitu dong dari tadi, kalo gitu kan lu gak bakal bonyok tadi."
Pulpen itu menulis, terseok-seok tulisannya.
"Sekarang lu mau makan apa? Nasi goreng? Nanti gw pesenin."
Tersenyum polisi itu, sedangkan Afrizal menangis. Air matanya mengenai tinta yang menjadi pudar, dan ia terus menulis.
Sang polisi keluar berteriak, "Oy, minta materai 6000 dong! Nih pelaku pengen ngaku."
Dalam alam pikir Afrizal hanya ada rasa takut melihat apa yang dibawa polisi yang ada di hadapannya. Tikus, ember, dan lilin. Dia tidak mau lagi disiksa. Ia juga tidak mau mati.
Ia hanya ingin selamat.
Dan beberapa menit kemudian, Afrizal resmi menjadi tersangka.
***
Ruang putih berbau alkohol, tirai hijau, dan seorang dokter dengan maskernya melihat ke arah anus sang anak yang kini tengah menungging. Sang dokter melihat Abrasi dan nanah, dan dia memahami benar apa yang terjadi pada anak ini.
Dia kemudian menyuruh sang anak mengenakan pakaiannya lagi, dan segera bertemu dengan sang ibu di sebelah ruangan, dia tengah berbicara di telponnya sambil berteriak-teriak.
"Sudah mengaku dia? Ya, ya, kau pikir dihukum berapa orang itu? 15 tahun? Terus bagaimana sekolah ganti rugi ke saya? Ya, ya..."
Sang ibu mengangguk-ngangguk, dan sang dokter menunggu sampai sang ibu selesai menelpon anaknya.
"Anak ibu mengalami Proktitis."
"Maaf ibu dokter, apa itu Proktitis?"
"Infeksi oleh protozoa, biasanya karena kurang bersih membersihkannya setelah buang air besar. Apa anak ibu terbiasa menggunakan tissue? Biasanya karena tidak bersih melapnya Untuk saat ini coba gunakan air bu untuk setiap harinya..."
"Sebentar, semua ini bukan karena trauma atau cedera fisik?"
"Trauma? Maksud ibu? Ah, ya, saya resepkan salep Flagyl yah bu. Oh, dan ibu butuh surat visum untuk apa?"
"Dok..."
Sang ibu melihat ke arah anaknya yang kebingungan, lalu dia melihat ke dokter itu lagi.
"Apa mungkin mengubah hasil visum?"
***
Televisi menayangkan tentang kasus sodomi di sekolah internasional. Diberitakan begitu sensasional, begitu biadab, begitu memalukan.
Sang anak disensor mukanya, dan sang ibu menceritakan detil mengerikan yang dilakukan sang pelaku. Begitu membuat buluk kuduk merinding ketika penonton mendengarnya, diikuti suara-suara latar yang tak kalah ngeri. Kemudian foto Afrizal diperlihatkan, orang-orang yang melihatnya segera merasakan perasaan jijik terhadapnya. Afrizal dikatakan sudah mengaku, namun ia baru akan diadili sebulan lagi.
Di kediaman Afrizal, suasana begitu panas. Bau tidak sedap di pekarangan rumah Afrizal oleh lemparan telur busuk, sayur-sayuran, dan air got. Mereka murka, tapi karena tak mampu mengeroyok Afrizal secara langsung, maka keluarga Afrizal adalah pelampiasannya. Ibu masih mengurung diri juga kelima anggota keluarga Afrizal.
"Ani pokoknya gak mau ikut perpisahan."
Ani melempar uang 300 ribu yang tercecer di lantai, dan Ibu segera mengambilnya satu-satu yang kemudian terkagetkan oleh dobrakan suara pintu kamar Ani yang menutup.
Ibu setelah selesai mengumpulkan uang yang Ani lempar, dengan matanya yang masih basah mencoba mengetuk pintu kamar Ani.
"Gak akan ada yang tahu Ni, memang mereka kenal masmu?"
"Mereka pasti tahu, entah bagaimana, mereka pasti nanti akan tahu!"
"Kan ibu sudah bilang nak, mas mu gak akan melaku—"
Lalu Ani yang sudah bosan mendengar ucap ibunya segera berteriak dengan begitu murka, "Pokoknya aku benci Mas Afrizal! Mas hancurin semuanya!"
"Ani!"
Ibu berteriak. Dia ingin berkata lanjut tapi sudah habis kata-katanya, dia tidak memiliki bukti, diapun sudah begitu yakin mendengar anaknya melakukan pengakuan secara langsung ke polisi.
Ketika televisi menyiarkan kabar bahwa Afrizal adalah pelaku hati Ibu dan Ani hancur berantakan. Tapi Ibu mengabaikan segala perasaannya yang terombang-ambing setelah berita itu. Ia adalah Ibu Afrizal, dan ia tahu benar siapa Afrizal. Hanyalah rasa, sebagai seorang Ibu yang sehari-hari merawat, membimbing, menyayangi anaknya, tahu benar bahwa dia tidak mungkin melakukan hal amoral seperti itu. Hanya itu, pikir ibu, hal yang membuatnya yakin bahwa Afrizal tidak bersalah.
Dan tangis ibu pecah kembali mengingat Afrizal kini sendirian, anaknya pastilah merasa begitu hancur melihat tidak ada satupun orang yang membelanya. Dia sendirian, pikirnya. Bagaimanapun, ketika anakku memutuskan untuk mengakui sesuatu yang bukan kesalahannya, pasti ada sesuatu yang menimpa dirinya. Maka, siapa lagi jika bukan yang paling dekat, bahkan sampai darah, ibunya sendiri yang akan membelanya!
"Anakku bukan pelakunya! Ini semua fitnah!"
Ibu segera memakai pakaian terbaiknya, dia ingin ke penjara sekarang juga untuk menemui anaknya.
Sedangkan Ani masih berada dalam sudut kamarnya, menangis. Di sosial media yang ia buka dari telepon genggamnya sudah penuh dengan kata makian terhadapnya. Ia kemudian keluar dari aplikasi sosial medianya, masuk pada halaman muka yang berisikan logo universitas negeri terbaik di Indonesia yang ingin dia masuki.
Dalam hati dia bergumam, sekarang semuanya tidak mungkin.
Semuanya tidak mungkin lagi, gumamnya ulang.
***
Ibu memaksa untuk melihat anaknya, tapi tidak dibolehkan.
Sebenarnya alasan mengapa Afrizal tidak boleh bertemu dengan ibunya karena keadaan Afrizal yang bonyok. Begitu juga alasan mengapa pengadilan diundur, dan barangkali jika sebulan ini kondisi Afrizal belum baik, akan diundur lebih lama lagi. Ia tentu harus tampil baik jadi tidak ada tanggapan bahwa pengakuannya merupakan hasil penyiksaan.
Sang Ibu kemudian keluar dari lapas, dan ia tak sengaja bertemu dengan ibu korban yang ada di televisi.
Sang ibu segera melabrak ibu-ibu tersebut.
"Kau!"
Sang Ibu korban segera menjauh, polisi mengetahui itu segera berlari mencoba mencegah.
"Kau fitnah anakku!"
"Apa?! Ah, jadi kau orang tua si pemerkosa anak kecil, pemerkosa anakku!"
Namun pandangan sang ibu teralih pada sang anak kecil yang berada di samping ibunya.
"Nak, tolong, tolong kau bilang ke semuanya bahwa kamu berbohong. Kau berbohong. Kau tidak apa-apa kan? Anakku tidak mungkin bersalah. Tolong, tolong kami, aku takkan menyalahkanmu, tolong nak."
Sang ibu memohon, dia cium kaki anak itu, namun disepaknya kepala sang ibu oleh sepatu hak tinggi sang ibu korban.
"Jangan kau sentuh anakku, dasar pelacur!"
Polisi melerai, menarik Ibu Afrizal jauh-jauh dari Ibu korban.
Sang ibu Korban merasa kesal, dia menggurutu tak jelas. Namun kejadian tadi begitu membekas di kepala sang anak.
Anak tersebut kini merasa begitu gusar.
Dan dia melirik ke arah ibunya, yang kini membawa surat visum untuk segera diserahkan ke polisi. Surat itu kini telah berubah menjadi bukti terjadinya praktik sodomi yang menyebabkan luka pada anus korban.
Menyadari sang anak melihat ke arahnya, sang ibu tersenyum sebelum kembali meluruskan pandangannya.
Sang anak kemudian mencoba menghalau keraguannya, dan kembali memainkan permainan di telepon genggamnya.
***
Afrizal meringkuk di jeruji, memegang perutnya penuh kesakitan, kepalanya berdarah. Polisi penjaga tidak melerai, terkesan membiarkan.
Satu tendangan lagi ke arah perutnya, kembali ia memuntahkan makanannya.
Pria besar dengan tato di tangannya merasa begitu kesal, urat nadinya keluar dari kepalanya.
"Beruntung kali polisi bawa kau ke sini, biar aku beri kau pelajaran, setan! Aku barangkali penjahat, tapi aku punya anak, tahu penyodomi anak kecil macam kau ini harus dibikin babak belur!! Mati sekalian!!!"
Afrizal menyeret badannya. Entah apa yang ia coba lakukan, menggunakan kuku-kukunya yang memerah meraih celah ubin, semata-mata menjauhkannya dari pria yang mencoba mengeksekusinya, ia tahu itu adalah usaha yang percuma.
Telah ia harap bahwa tuhan memberikannya kesempatan untuk keluar dari rasa sakit, keluar dari ancam kematian, keluar dari penjara dalam waktu yang masih mampu ditolerir. Tapi, rasa sakit itu masih ada, kematian itu masih dekat, dan nyatanya 15 tahun adalah keputusan yang pasti akan menyambarnya, sebut pengacara lembaga bantuan hukum yang enggan untuk membelanya.
Pria besar itu, melihat Afrizal masih berusaha kabur, menarik bajunya dan menyeretnya ke arah tembok. Ia lihat wajah Afrizal, matanya kosong, dan pria itu tidak melihat ada penyesalan, takut, sakit, dan lainnya. Tapi hanya kosong, mata yang sudah kehilangan harap dan rasa.
Maka kaki pria besar itu segera menyepak kepala Afrizal yang sudah lunglai, seakan dalam usaha untuk membuatnya sadar, agar rasa sesal, rasa sakit, rasa takut muncul. Tapi pria besar itu tidak melihat apa-apa, seakan pria itu sudah mati.
Disitu polisi yang merasa kekerasan ini sudah cukup diluar batas segera masuk, memisahkan pria besar dari Afrizal yang terkapar kaku di lantai berisi darah yang mengalir dari mulut Afrizal.
Tak lama ia merasai noda merah dalam pandangannya.
Tak lama ia sadar bahwa dirinya tidak mampu menegakkan badannya.
Tak lama ia merasa sesak.
Tak lama ia merasa mati rasa terhadap sakit yang barusan ia rasakan di sekujur tubuhnya.
Tak lama ia mengingat memori seluruh hidupnya selama ini dalam perasaan penuh nostalgia, sampai pada titik kulminasi ingatannya: Ia keluar dari rahim ibu, menangis ketika pertama kali menghirup napas, bau khas dikenalkannya ia di dunia, suara bapak mengadzani Afrizal pada kuping kanan, kecup lembut Ibu yang telah berusaha mengeluarkannya.
Dan sebelum itu, jauh sebelum itu, semuanya gelap.
...
Tak lama polisi menemukan Afrizal sudah tidak bernyawa di jeruji besinya. Ia meninggal dikarenakan terdapatnya hantaman keras di kepalanya yang meninggalkan gegar otak berat.
Tak lama berita sampai di telinga kepolisian, dan pihak yang mengurusi kasus ini mengatakan Afrizal mati akibat pemukulan oleh kawan jerujinya (tentu menyembunyikan fakta bahwa mereka baru saja menyiksanya seharian).
Tak lama berita sampai di media massa. Sang pelaku sodomi mati setelah melakukan pengakuan.
Tak lama berita sampai pada sang Ibu yang tahu bahwa dia tidak mampu menolong anaknya, dan Ani yang penuh dengan perasaan campur aduk, dan memutuskan bahwa dia selama ini merasa penuh dengan kesedihan.
Tak lama rumah dipenuhi oleh tangisan terhadap nasib Afrizal, sedangkan seluruh masyarakat Indonesia melakukan selebrasi atas kematian naas sang penyodomi anak kecil yang cabul nan biadab agar segera menemui neraka jahanam.
***
Mayat Afrizal sampai, dan tidak ada yang ingin memandikan, tidak ada yang ingin menyalatkan.
Sampai di tempat penguburan, masyarakat menolak mayat Afrizal dimakamkan di tempat mereka. Konflik warga ditenangkan oleh kepala desa. Afrizal tetap dimakamkan, di ujung pojok, jauh dari kuburan yang lain. Nisan yang ditancap pun harus lebih pendek dari kuburan yang lain.
Ibu merasa begitu pilu oleh semua ini, dan Ani juga adik-adiknya hanya terdiam menerimanya. Mereka semua tahu bahwa kakaknya merupakan seorang tersangka, dan di kesehariannya mereka sudah mendapatkan cacian dan pengasingan. Mereka sudah tidak mampu lagi bersimpati pada sang kakak, terlupakan segala memori indah yang membekas.
Hanya sang Ibu yang menangisi nasib anaknya, seorang anaknya yang sempurna bagi dirinya, yang dijatuhi berbagai musibah, sebuah nasib yang naas. Betapa tak beruntungnya kau nak, pikir ibu. Semoga Tuhan berikan surga untukmu, walau dunia mengharapkan neraka bagimu. Tuhan tahu yang terbaik, sedangkan manusia tidak. Ibu terus meyakinkan dirinya, terus begitu.
***
Dan suatu hari semuanya sudah lupa.
Keluarga Afrizal kini telah pindah jauh dari tempat asalnya.
Ani telah menjadi TKI di Arab sana. Syahrul dan adik-adiknya bersekolah dari penghasilan Ani. Ibu masih melanjutkan usaha laundrynya yang cukup untuk makan sehari-hari.
Mereka sudah melewati berbagai rintangan dalam hidup, dan kini dengan ikhlas menjalani hidup mereka.
Lalu di ruang tamu yang kosong di kediaman keluarga Afrizal yang baru, TV masih menyala, tidak ada yang menonton.
Terlihat wajah sang anak, sang korban, kini telah dewasa untuk berpikir rasional. Dia menangis, dia meminta maaf, jika tidak dia akan merasa tersiksa seumur hidupnya. Seorang dokter juga meminta maaf, dia mengakui visum palsunya, lalai karena ia tidak mengetahui duduk perkaranya. Karenanya, izinnya telah dicabut.
Tapi Afrizal telah lama mati. Pengakuan mereka tidak berarti, ataupun mendapati tanggapan yang sensasional sebagaimana seorang anak yang disodomi beberapa tahun lalu.
Dan telah lama keluarga Afrizal merelakan kepergian pemimpin keluarga sementara mereka.
Berita mengenai kebenaran itu tidak mendapati perhatian kuping keluarga tersebut oleh kesibukan mereka untuk bertahan hidup sehari-hari.
Dan channel berganti tayangan, suatu sinetron murahan.
Berita itu tidak pernah diberitakan lagi, dalam televisi ataupun koran. Hanya seperti kisah yang lalu, kicau kebenaran tersebut lenyap oleh berita-berita yang lebih nampak dan keras suaranya, begitu juga lontar nama Afrizal sang penyodomi.
Hanya dari doa yasin yang dibacakan ibu setiap malam jumat, nama Afrizal kembali disebut dan muncul dalam hatinya, dalam lembut Afrizal berkata bahwa ia terus memperhatikan keluarganya dan tuhan kini telah merawatnya dengan begitu baik di akhirat sana.