Dalam Islam atau norma sosial di negeri ini, hal ini sangat tidak pantas. Gambaran paling umum adalah bagaimana kita sebagai anak, pada masa bayi dulu, benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa dan sangat bergantung pada kasih sayang orang tua. Bukan hanya itu, bahkan hingga menginjak usia akil baligh, 17 tahun atau bahkan lebih, orang tua tetap merawat dan memedulikan kita dengan sepenuh hati (setidaknya di Indonesia).
Kembali ke kisah The Ballad of Narayama, sang ibu bukan hanya menyelesaikan persoalan hidup sebagai bekal anaknya, tetapi juga, saat digendong menuju gunung, ia memetik ranting-ranting di sepanjang jalan dan menyebarkannya sebagai jejak agar anaknya mampu pulang dengan selamat. Begitu gambaran kasih sayang seorang ibu dalam kisah ini, dan bagaimana seorang anak seharusnya sadar betapa dalamnya ikatan hubungan ibu dan anak.
***
Saya beberapa waktu lalu menghadapi dua minggu melihat Ibu sakit parah. Awalnya Ibu hanya menunjukkan gejala flu, dan kebetulan saya juga tertular, jadi saya yakin kami mengalami sakit yang sama. Namun, Ibu tetap bekerja setiap hari, sedangkan saya masih berleha-leha di rumah pasca lulus kuliah, mengulur-ngulur persiapan beasiswa yang belum tentu saya dapatkan. Penyakit saya membaik, mungkin karena lepas dari stres, cukup istirahat, dan makan bergizi. Berbeda dengan Ibu; tiga hal itu tidak ia lakukan, terutama karena stres mempersiapkan acara Imlek di sekolahnya, ditambah eksperimen obat tanpa konsultasi langsung ke dokter.
Penyakitnya memburuk: demam sering terjadi, tidak bisa makan, batuk yang terkadang diikuti muntah, dan ia tidak bisa tidur akibat batuk tersebut. Terkadang malam hari saya mendengar Ibu terduduk menekuk—satu-satunya cara agar ia tidak batuk—sambil menangis dan bertanya kepada Tuhan kenapa ia tidak sembuh-sembuh. Itu terjadi tepat dua minggu sejak awal sakit. Ibu juga memang bukan contoh yang baik bagi orang sakit; antibiotik yang ia pesan sendiri saya kritik agar dikonsultasikan ke dokter sungguhan, bukan hanya berdasarkan pengalaman atau resep lama dari dokter yang bahkan tidak bertemu langsung dengannya.
Klimaks penyakit Ibu terjadi setelah acara sekolahnya selesai. Ibu dibawa Bapak ke UGD Rumah Sakit Rawalumbu (karena BPJS hanya diterima lewat layanan UGD, katanya). Menurut Ibu, dokter melihat adanya infeksi dari pemeriksaan darah, tetapi masalahnya dikatakan ada di lambung. Obat diberikan untuk tiga hari. Ibu sempat membaik, suhu panasnya turun walau belum bisa tidur. Namun beberapa hari kemudian, Ibu kembali demam parah dan dibawa lagi ke UGD. Kali ini Ibu diberi selang oksigen dan, lagi-lagi, obat yang sama. Ibu tak kunjung membaik.
Akhirnya Ibu kami paksa bertemu kakaknya yang seorang dokter (entah mengapa Ibu selalu ogah berkonsultasi dengannya, padahal ia spesialis THT). Bahkan teman Bapak yang juga dokter penyakit dalam datang menjenguk dan memeriksa Ibu, tetapi Ibu skeptis terhadap obat yang diberikannya: “Lagi-lagi antibiotik,” atau, “Dia kan bukan ahli THT atau paru-paru,” katanya. Obat dari teman Bapak tidak diminum, dan kami kesulitan mendapatkan obat dari resep kakak Ibu (yang kemudian ia bantu carikan, meski tiga hari terasa sangat lama). Di jeda tanpa obat, Ibu dibawa ke tukang urut refleksi oleh kakaknya yang lain. Tukang urut ini, menurut saya, menyesatkan, bahkan menakut-nakuti agar Ibu menghentikan semua obat medis dan fokus pada pengobatan alternatif, dengan alasan penyakitnya terkait lambung, yang menurut saya tidak berdasar karena tidak melalui uji lab dan kontrol lanjutan.
Terlepas dari benar atau salahnya, Ibu tetap tidak bisa tidur walau obat antasida sudah diberikan. Memang gejalanya mirip GERD, tetapi ketika obat lambung tidak bekerja, saya merasa ada kejanggalan. Obat akhirnya didapat dari kakaknya, dan Ibu melanjutkan pengobatan hingga antibiotik habis. Di titik ini, Ibu mulai membaik: bisa makan dan tidur. Saya menyarankan kontrol ulang, tetapi tidak dilakukan. Sore harinya, Ibu kembali demam parah disertai muntah, dan kami kembali membawanya ke UGD Rawalumbu. Karena tidak percaya lagi, kami memutuskan ke RS Harum, tempat kakak Ibu bekerja.
Di sana, hasil rontgen menunjukkan infeksi berat dengan radang di paru-paru, dan katanya tidak ada masalah di lambung. Ibu sebenarnya diperbolehkan pulang dengan obat dan rujukan ke dokter paru pada hari Senin (kami datang hari Sabtu), tetapi Ibu berkali-kali menyatakan ingin dirawat inap karena berharap bisa lebih cepat sembuh. Dokter jaga, termasuk kakaknya yang saat itu datang menjenguk, akhirnya menyetujui dan memfasilitasi.
***
Di sini saya kembali ke fokus awal: merawat orang sakit itu melelahkan dan penuh tekanan. Setiap hari mendengar keluh kesah dan emosi yang tidak stabil. Setiap malam suara batuk, muntah, dan tangis. Suatu malam saya memijati Ibu, mengajaknya bicara, sambil membayangkan betapa membosankannya mencoba tidur dalam posisi tidak nyaman, duduk menekuk dengan bantal sebagai penyangga.
Ketika Bapak meminta saya menemani ke rumah sakit, saya mengiyakan, tetapi dengan keengganan yang terlihat jelas. Padahal saya yang sebelumnya mendorong Ibu untuk ke rumah sakit, dan juga ikut merawatnya, justru menunjukkan keengganan untuk menemani ketika dirawat inap.
Yang ada di kepala saya adalah timbunan rasa tidak enak yang sudah terlalu penuh. Saya sempat menyalahkan kondisi tubuh yang tidak fit (dan benar saja, keesokan harinya saya kembali pilek). Setelah ikut ke UGD, klimaks perasaan itu muncul ketika Ibu memutuskan rawat inap. Dalam pikiran saya, keputusan itu terasa berlebihan: secara triage ibu tidak termasuk wajib rawat inap, obatnya sama saja, hanya berbeda cara pemberian; tetap sulit tidur; tidak bisa beraktivitas; dan menambah kerepotan keluarga. Rumah sakit juga terasa seperti ruang tanpa kehidupan yang dipenuhi orang sakit, sempit, dan membosankan. Tentu saja saya bisa saja sangat salah; ini hanya perspektif sempit saya yang bukan tenaga medis.
Saya teringat pengalaman sebelumnya saat Ibu patah tulang dan saya menemaninya di rumah sakit: repot, bosan, melelahkan. Bau khas rumah sakit, ruang sempit, tidur di kursi atau lantai, lorong sempit, toilet yang buruk dan sibuk. Dan yang paling mengganggu, saya merasa lega ketika pulang dan bisa tidur di kasur sendiri. Saya yang biasanya bermanja pada Ibu, ternyata memiliki perasaan sayang yang terasa begitu tipis ketika Ibu sedang susah—setidaknya itu yang saya pikirkan saat itu, dan sekarang.
Ketika Ibu sudah di kamar rawat, Bapak bertanya sekaligus meminta apakah saya mau menginap pada hari pertama karena ia harus mengurus dokumen BPJS. Saya menjawab iya dengan perasaan ogah, dan ia bisa membaca itu dari wajah saya. Akhirnya Bapak memutuskan untuk tinggal sampai suster mengizinkan tanpa pendamping, lalu kami pulang. Keesokan paginya, Bapak berangkat sendiri ke rumah sakit tanpa bicara banyak.
Saya merasa sangat bersalah pagi itu, seolah mengkhianati Ibu dan ekspektasi Bapak. Namun di hari yang sama, perasaan enggan itu tetap ada. Adik menawarkan untuk tinggal, dan saya berusaha menghindar dengan alasan ruang sempit hanya cukup untuk satu orang. Akhirnya Bapak yang tinggal, dan saya dan adik pulang.
Dalam perjalanan pulang, saya bertanya pada diri sendiri: kenapa ada perasan tidak tenang, bersalah, dan kesedihan yang luar biasa, yang anehnya diikuti dengan kelegaan? Lalu saya teringat kembali The Ballad of Narayama.
Saya membayangkan jika saya yang sakit, entah kanker atau penyakit berat lainnya, Ibu pasti tanpa banyak berpikir akan menemani saya, bahkan meninggalkan pekerjaannya. Saya, yang sudah capek-capek dibiayai sampai sarjana, yang sekarang menganggur tanpa pernah dimarahi atau diceramahi, tetap diberi makan dan disayang, dengan penuh kepercayaan bahwa suatu saat saya akan bekerja atau melanjutkan pendidikan. Ibu, yang “hanya” seorang guru, yang sampai malam masih bekerja privat dan banting tulang demi pendidikan anak-anaknya, tidak pernah benar-benar memikirkan dirinya sendiri.
Sementara saya, hari ini, di depan kasur Ibu yang lemas karena sakit, bahkan ketika ia kadang meluapkan emosi karena rasa sakitnya, justru sempat memiliki pikiran yang terasa begitu brengsek.
Jika suatu saat Ibu dan Bapak menua, kemudian sakit, pikun, atau menjadi seperti anak kecil yang terus mengeluh, apakah perasaan seperti ini akan muncul lagi? Apakah saya akan menjadi seperti anak dalam kisah itu? Anak yang tidak tahu arti berbakti, yang lupa akan kebaikan orang tuanya, yang dulu merawat kita ketika kita juga lemah, mengompol, kekanak-kanakan, dan menangis di malam hari saat mereka ingin beristirahat? Meninggalkan mereka di panti jompo, lalu menghela napas lega ketika kembali ke rumah karena sumber stres itu telah menghilang?
Saya benar-benar merasa bersalah hari ini, dan semoga saya bisa merefleksi diri lewat tulisan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar