Kamis, 05 Januari 2017

Mémoire: Prologue



Pagar-pagar tinggi berkawat tajam, disertai dengan lampu-lampu tembak, dan dihiasi dengan kebun-kebun berbunga untuk menutupi keangkerannya. Tempat ini dijauhi oleh anak-anak yang menggosipkan bahwa tempat ini merupakan sarang para psikopat yang tidak dapat ditahan di penjara, dan kabar burung ini berasal dari para tua berbau tanah yang nongkrong di warung kopi yang begitu serius mendiskusikannya, selagi muda mentertawai, gosip ini menyebar begitu saja.

Tapi memang demikian tampak angker sebanyak apapun bunga dirangkai di depannya, dengan satpam-satpam bermuka galak yang siaga membawa tongkat tonfa. Warga kampung sendiri sebenarnya kenal beberapa yang tinggal di tempat itu, ada Pak Sumardi yang tinggal sendiri di kediamannya, tak mau keluar, dikiranya berdukun sekarang tinggal di tempat ini. Johan yang diikat dirumahnya lebih dari 3 tahun tanpa pakaian oleh orang tuanya sendiri sekarang tinggal di tempat ini. Lalu Pak Johan yang keliling kampung tanpa pakaian, yang kemudian dikenali anaknya yang baru pulang dari perantauan kini tinggal disana.

Ya, tempat itu Rumah sakit jiwa, tepatnya Rumah Sakit Jiwa Dharma Kusuma.

Pagar tinggi RS Jiwa ini jarang terbuka setelah direnovasi sehingga tidak banyak pasien (atau warga kampung menyebutnya tahanan) yang kabur, namun kali ini berbeda. Anak-anak mengikuti truk box yang membawa sesuatu, diikuti oleh mobil-mobil mewah di belakangnya. Pagar tersebut terbuka, diikuti orang-orang berjas putih yang menyambut mobil box itu. Di dalam sudah ada panggung, sound system, dan orang yang menyiapkan pigura beserta piagam. Sebuah Banner yang baru dipasang beberapa jam yang lalu mempelihatkan wajah yang tidak tersenyum, serius, lelaki yang mungkin telah berumur 60an, yang baru-baru ini sempat muncul di TV sebagai peraih nobel pertama dari Indonesia, Prof. Fuadi Darwis, SpKJ, Ph.D.

Para dokter tua maupun muda berkeringat melihat sosok luar biasa datang ke rumah sakit jiwa mereka yang sepi, dekat kampung, yang tiba-tiba mendapati kehormatan mendapatkan hasil research luar biasa dari sosok ini. Mereka dipilih setelah Prof. Fuadi Darwis melihat berkas kasus-kasus kejiwaan dan prognosis dari penyebab neurosis pada pasien, dan dia menemukan sesuatu yang menarik pada salah satu pasien di rumah sakit jiwa ini.

Prof. Fuadi berdiri di atas panggung setelah berbincang-bincang dengan kepala rumah sakit. Mesin ajaib dikeluarkan dari mobil box, dan diletakan di atas panggung. Orang-orang terguncang melihat kemewahan dari mesin sederhana itu, yang tersembunyi harga yang sama dengan mobil Porsche terbaru. Alat itu kini menjadi primadona para mahasiswa medis dalam melakukan penilitian, jurnal-jurnal mencoba mengidentifikasi potensi dari alat tersebut, dan si pemulai, Prof. Fuadi ada di hadapan mereka, berbicara seperti detik-detik Live ketika dia berada di atas panggung penerimaan Nobel dalam bidang studi medis karena studi kasusnya mengenai penyembuhan neurosis lewat terminasi memori traumatic lewat mesin ajaibnya itu, yang dibuktikan di negeri paman sam sana, telah menyembuhkan gejala neurosis lebih dari 95% pasien dari ratusan sample pasien dari banyak rumah sakit berbeda, suatu kesuksesan dan revolusi besar dalam dunia medis kejiwaan saat ini.

Orang-orang masih ingat kata-katanya yang membuat seluruh panggung terdiam, dan kini ia ucapkan kembali ketika melihat pasien yang akan ditreatment disini, Febriansyah Putra yang terdiam dalam mata kosongnya, yang menetes air liurnya. Menatap kosong jauh ke antara pagar-pagar ketika seluruh massa memandangnya.

“Saya ingin membuktikan pertanyaan saya selama ini, apakah suatu individu itu eksis karena ia terbentuk dari tiupan arwah oleh tuhan yang tertakdirkannya menjadi unik, ataukah ia terbentuk dari DNA dalam random dan absurditas dunia yang membuatnya seperti demikian, dan terakhir ataukah memori yang selama ini terbentuk selama hidupnya yang membuat seorang menjadi individu yang selama ini kita kenal? Bagaimana jika kita merengutnya, masihkah mereka adalah individu yang sama, atau dia menjadi seorang yang lain, seperti arwah atau nyawa yang lain, yang demikian A bukan A lagi tapi adalah B? Ratusan pasien, dan saya masih belum memahaminya dengan sempurna saudara-saudara.”

Dia menurunkan badannya seakan dia menghamba kepada Febriansyah Putra yang masih terjebak dalam dunianya. Dunia idealnya. Dipegang tangannya dengan lembut, dan tak ada perlawanan dari seorang penyakit jiwa ini.

“Dan Pemuda ini akan menjawabnya.”

Sekali lagi semuanya terdiam, sebagaimana panggung internasional yang penuh dengan manusia-manusia yang memiliki kontribusi besar pada dunia terdiam.

Dan pasien kelaian jiwa itu tidak peduli, hatinya sepenuhnya bahagia melihat seorang gadis dan ibunya melambai-lambai padanya di balik kebun bunga terbakar yang menyembunyikan pagar-pagar jauh di hadapannya.

Selasa, 18 Oktober 2016

Thought: Simfoni Cahaya Bulan

Simfoni Cahaya Bulan saya buat pada tahun 2012an ketika masih SMA, diawali dari design character untuk konsep game online yang saya buat bersama kawan-kawan saat itu. Dari berbagai race, dan backgroundnya, tiba-tiba saja saya tertarik untuk membuat kisah mengenai salah satu race beastman yang terinspirasi dari karakter Radiant Historia (One of my recommended top list JRPG Storylines, it's freaking good), dan dalam pembuatannya saya sedang tergila-gila dengan konsep Magical Realism dari film Pan Labyrinth yang mencampurkan mistik fantasi dengan elemen realistik. Dalam hal ini, saya pikir medium magis/fantasi dalam suatu kisah harus memiliki khas realita yang sama beratnya untuk mampu merelasikan kejadian ataupun pesan yang ada dalam cerita dalam kehidupan pembacanya.

Simfoni Cahaya Bulan berkisah mengenai Racke yang memiliki tanduk di kepalanya, ia menjadi bahan kambing hitam dalam segala kejadian/musibah yang menimpa desanya, imbasnya terkena pada ibunya yang merawat Racke sendirian setelah ditinggal pergi suaminya. Takhayul ini muncul akibat kebencian masyarakat setelah propaganda kerajaan atas peperangan manusia dan beastman, dimana terdapat tembok besar yang menjadi monumen sekaligus pembatas antar kedua ras ini. Simfoni Cahaya Bulan menelisik komunitas sosial, moralitas, kemanusiaan, rasisme, keagamaan, dan segala topik yang mampu ditemukan di dalam dunia nyata. Disini dunia magis (fantasi) menjadi menarik karena menjadi penghalus terhadap sensitivitas pembaca terhadap topik yang dibuat, mindset pembaca masih di dalam dunia alternatif walaupun jika dibedah tentulah tulisan atau kisah ini mengkritik apa yang terjadi pada dunia nyata (ini dari apa yang saya pelajari dari salah satu eksperimen chapter Naqoyqatsi dan tanggapannya di forum kaskus).   

Permasalahan dari Simfoni Cahaya Bulan sendiri adalah genrenya yang kurang mengenai pasar tempat saya menaruhnya yaitu genre "Light Novel". Alasan saya memilih forum ini sendiri dikarenakan bebas dan kecocokan genre juga mudahnya menemukan wadah untuk menaruhnya. Tapi setelah mempelajarinya, terdapat trope atau kecendrungan yang harus dimiliki dalam pemenuhan hastrat pasar/pembaca, dan SCB tidak memenuhi kebanyakan dari trope itu. Dalam pembaca secara general di indonesia, fantasi bukanlah bacaan yang digemari, sebaliknya pada komunitas LN, Realisme adalah trope yang harus dijauhi (Mayoritas pembaca menggunakan ln sebagai wadah delusi); Tapi saya percaya dengan konsisten kualitas storytelling dan kualitas konten, cerita ini suatu saat pasti bisa menarik pembaca. Dalam hal ini SCB ini semacam pemuasan diri dibanding karya yang tujuannya memuaskan pembaca, bukan suatu hal yang bagus, tapi juga tidak buruk.

Sudah hampir 3 bulan kisah SCB ini hiatus dikarenakan kegiatan KKN. Terdapat rencana besar terhadap kisah SCB ini, yang semoga dengan waktu kosong pada semester baru ini bisa saya lanjutkan hingga benar-benar SCB ini kelar dibanding saudaranya Naqoyqatsi yang sudah tidak ada niatan untuk dilanjutkan...

If you want to read it: https://www.wattpad.com/myworks/46358976-simfoni-cahaya-bulan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Random Thought

Saya setiap hari sering menulis dalam jurnal tentang pikiran-pikiran saya, walau rata-rata random (dan bodoh). Karena saya jadi jarang menulis di blog karena keterbatasan dalam mendapatkan ide cerita, mungkin saya akan spam beberapa pikiran yang tertuang di jurnal, saya ringkas dalam bentuk kutipan.

"Para pembunuh diri, dan para monster-monster itu, mereka bukanlah lahir, tapi diciptakan oleh lingkungan sosial yang telah kita bangun. Tidak fair menghakimi mereka bertatapan dengan ironi seperti ini. Kusebut mereka (orang-orang yang menghakimi itu) adalah dungu, dan kita mungkin secara esensi adalah pembunuh yang sesungguhnya, yang diciptakan dari ketidaktahuan dan kedunguan-kedunguan tersebut." - Setelah peristiwa sosial bullying terhadap pelaku Voyeurism di lingkungan kampus.

"Bunuh diri adalah simbolis teriakan tentang adanya kesalahan terhadap lingkungan sosial."

"Jangan pernah menerima permintaan maaf dari seseorang yang tak menjelaskan letak permasalahannya, letak kesalahan dirinya. Maaf itu harus berupa penyesalan terhadap kesalahan yang telah diperbuat, lain dari itu maafnya hanya berupa politik, bukan dari hati."

"Permintaan maaf itu datangnya dari dua arah, pihak bersalah jelas salah, tapi barangtentu si penuduh telah sama membuat sakit hati pada pihak bersalah. Pada esensinya, hati itu yang perlu damai, dan letak permasalahan pada pinggirnya."

"Seseorang yang sudah 3 tahun kita kenal kadang lebih asing dari seseorang yang sebulan kita kenal. Dalam hal ini kupikir, jika yang namanya hubungan batin memang sudah benar-benar cocok, bahkan sebulanpun sudah bisa jadi saudara."

"Tulisan kupikir, jika ia tidak berpesan, jika ia tidak berwawasan, jika ia tidak relevan terhadap lingkungan pembacanya, ia tak lebih dari sebuah kertas lengket bercorat-coret tinta yang nilainya kecil diatas onggokan sampah."

"Sejauh apapun tema yang kau angkat, dari fantasi, peri, para raksasa, hewan, kembali lagi ia harus relevan terhadap realita dan spesifiknya lagi, para pembaca, yaitu manusia itu sendiri."

"Enaknya membaca buku bagus: Dibaca dua kali, tiga kali, hingga seratus kalipun masih bisa kau temukan hal baru (pesan, filosofi, pengetahuan, dan lainnya). Begitu, sayang jika kuhabiskan waktuku untuk baca buku yang tidak bagus, kadangkali lebih populer dan bestseller dari buku-buku yang ada di toko bekas."- Setelah membeli dan menghabiskan tetralogi pulau buru pramoedya.

"Hidayah gampang dicari, jika kau pintar-pintar berpikir. Bahkan terpeleset pisangpun bisa disebut hidayah."

"Bukan keanekaragaman letak permasalahannya, tapi kedunguan manusia-manusianya."

"Ironi para maling: Yang dimaling (motor, handphone, helm) akan menangis beberapa hari karena dimarahi, tapi mereka masih makan lancar, besok dibelikan lagi barang yang mereka beli, mereka masih bisa sekolah. Maling tidak demikian, mereka adalah korban dari buruknya lingkungan yang kita biarkan tercipta, dalam keras dan susahnya pekerjaan untuk di dapatkan, betapa mereka tidak mampu atau diberi kesempatan untuk menyentuh pendidikan. Mereka jual barang curian itu murah (namanya juga barang curian), dan lalu beberapa hari mereka sudah kelaparan lagi. Walau seringkali lolos, hanya butuh sekali kesempatan mereka melakukan kekeliruan untuk bonyok, dipenjara bahkan mati. Dirumah sang bayi sedang menangis, anaknya menunggu sang ayah yang menjanjikan bayar sekolah, sang istri masih menunggu di ruang tamu tak sadar dirinya akan segera menjanda." - Setelah melihat maling motor yang dihakimi massa kemudian mati setelah dikroyok sembari terkena lemparan batu bata dan palu kontruksi saat menjelang shalat jumat.

"Realita yang sesungguhnya belum tentu sama dengan presepsi realita yang kita rasakan. Di dunia dimana aliran informasi begitu deras (internet, tv, koran), semakin tidak jelas realita mana yang sesungguhnya, dan kini sosial media telah menjadi apa yang disebut sebagai hyperreality, dan wujud (avatar) yang kini tengah kita lihat adalah kenyataan yang lebih nyata dari apa yang kita lihat dunia di luar itu." - Berbicara mengenai kajian postmodernism bersama kawan.

"Aku baru-baru ini mencoba trend istagram, dan setelah memahaminya, segera keluar dalam suatu kesedihan dan kemualan. Betapa manusia berusaha menjadi relevan dalam komunitas sosialnya, memperlihatkan potret-potret untuk menggambarkan hidupnya dengan suatu kepersetanan dengan privasi, untuk berteriak bahwa dirinya hidup, bahwa dirinya bahagia, dalam senyum-senyum, lingkungan indah yang tertutupi badan-badan narsisme, dalam caption pesan moral yang tak memiliki relevansi foto demi sensasi ekstasi like berbentuk hati. Itu pikiran awalku, lalu kupikir-pikir lagi, mungkin aku saja yang tak punya hidup dan terpengaruhi rasa-rasa iri dan defensif, ahh... ironi."

"Di masa kuliah, perkawanan lebih erat kaitannya dengan politik, masa depan kita ditaruh di dalamnya. Segala waktu dan perhatian adalah investasi, dan segera-gera tahulah kita mengenai orang yang harus dipedulikan lebih, yaitu orang yang menganggap kita relevan dalam hidupnya atas perhatian tersebut. Tinggalkan jauh-jauh (atau mungkin stay dalam hubungan kasual) orang yang menganggap kita tidak ada setelah tidak ada bisnis (kuliah, dan lainnya) atau masalahnya sudah kelar. Lihat nanti, pasti akan berbuah. Sedangkan yang tidak, berarti kita telah salah berinvestasi, seperti kena scam saja."

"Setelah membaca buku pram kita telah masuk dalam mindset realisme sosial. Disini kita melihat masyarakat bukan sekedar estetika, bukan romantika, bukan sekedar mimpi yang ideal, tapi juga melihat persoalan rakyat sebagai fakta lapangan dan persoalan yang berkait antara sejarah, antara penderitaan dan memeriksa belenggu-belenggu penderitaan, kita paham bagaimana pikiran Pram bekerja dengan sikap adil mulai dalam pikiran apalagi perbuatan."

Minggu, 19 Juni 2016

Cerpen: Kutinggal Ia Mati

Entah bagaimana aku bisa berada dalam situasi saat ini. Hari sudah gelap gulita yang sepi, handphoneku mati, kendaraan kubawa melesat cepat diantara jalan yang hanya diterangi pencahayaan yang sedikit. Disitu kuperhatikan, terlihat samar-samar ada seorang yang melolong minta tolong. Suara itu familiar, mirip sekali dengan seorang yang kukenal. Kuperlambat mobilku, dan seketika itu aku melihatnya, pakaian yang sama, rambut yang sama, kenalanku di kantor kini sedang berada di aspal jalan.

Instingku sebagai seorang yang mengenalnya tentu memberhentikan mobil, keluar, dan berlari ke arah suara itu.

Lalu ketika telah tampak tubuh yang tersungkur di jalan itu, aku langsung menutup mulutku sembari merasakan kaget dalam dadaku. Ya, orang itu benar kenalanku. Dia tergeletak bersimbah darah, kontras dengan aspal jalanan, bau darah yang tajam sampai hidungku, dia terus menekannya dengan tangannya, namun percuma, darah itu tetap mengalir.

“Kenapa kau kawanku?”

Tak tahu apa yang harus keluar dari mulutku, aku malah bertanya demikian. Sesungguhnya tak penting menanyakan alasan ketika seorang sedang sekarat beradu maut.

“Oh kawan, aku baru saja ditabrak lari. Tolong aku.”

Aku duduk disampingnya. Kuketahui tulangnya telah berpindah, badannya terputar dengan anehnya, darah yang ia tekan ternyata menyembunyikan isi perutnya telah tumpah, kini nafasnya juga tersengal-sengal. Dalam keadaan seperti ini, apa yang bisa kutolong?

“Aku bisa menolong apa kawanku? Tak pernah sekali aku menemui kondisi setragis dirimu ini.”

“Hubungi seseorang, taruh aku di kendaraanmu, apapun itu, tolong!”

Aku tentu panik, memegang badan kenalanku ini tiba-tiba ia berteriak kesakitan. Kusadari tulangnya mungkin sudah remuk. Ketika kucoba miringkan, isi perutnya tumpah, begitu pula kondisi tubuhnya yang berputar mungkin berbahaya untuk kuangkat. Bagaimana aku membawanya? Aku harus berpikir, bisa saja memang aku bawa dia ke mobilku. Tapi jangan-jangan karena kuangkat, dia bisa saja mati.

Ah, serius, aku sekali lagi belum pernah menyelamatkan orang dalam kondisi seperti ini. Aku bukan orang yang memiliki kredibelitas, bukan orang yang pantas. Tentu jika ada orang yang tertabrak, maka orang yang tak tahu dan tak mampu lekas minggir dan yang berbadan besar juga tahu kondisi akan menolong orang yang tertabrak, meminggirkannya ke samping jalan.

Jika saja aku salah memindahkannya, maka aku membunuhnya.

Jika aku tidak segera menolongnya, dia akan mati.

Tapi jelas, apapun itu, maut lekas dekat.

Lalu dia memang kenalanku, tapi apa dia benar-benar seorang kawan, dia juga bukan karabat, apalagi saudara?

Kuperhatikan di kejauhan, tidak ada mobil yang akan lewat. Tentu hanya aku satu-satunya harapan yang ia miliki. Ia tentu tak mau mati. Tapi aku juga tak mau celaka, jika aku dituduh membunuhnya, berabe sudah.

“Maaf kawanku, aku benar-benar tak bisa menolongmu, bagaimanapun aku akan membuatmu mati, dan aku juga akan rugi!”

“Tolong, aku takkan menyalahkanmu, apapun itu, aku harus hidup.”

“Maafkan aku, kawan... ah bukan, kenalanku di kantor.”

Lalu aku tinggalkan tubuh yang sudah lemas kehilangan harap itu. Kunaiki mobil lagi, kunyalakan musik, dan mulai berjalan. Kuperhatikan di kaca spion, orang itu sudah kehabisan darahnya dan mati. Benar, maut memang sudah ditenggorokannya.

Mungkin ada benarnya kutinggal ia mati.

Tapi benak merasa ada yang salah.

Bagaimana jika aku ada pada kondisi dirinya?

Jurnal Harian: Memahami Genre Tragedi

Kemarin setelah shalat jumat, ngobrol-ngobrol soal ide cerita, temen kosan bertanya mengenai genre dan eksekusi cerita, kenapa ceritanya memakai unsur tragedi? Bukannya cerita harus mampu menyenangkan diri seseorang?

Saya pikir acuan kita untuk memahami cerita tragedi harus kembali pada kisah tragedi greeks, terutama dengan acuan The Poetics Aristotle dalam ulasannya tentang Katharsis. Pernyataan ini mengacu pada apa point dari tragedi itu sendiri, yang selalu menjadi pakem dari kisah-kisah yunani dimana tokoh utamanya mengalami Peripeteia, atau perubahan nasib dari hebat menjadi menyedihkan. Genre Tragedi mengingatkan bahwa kesalahan kecil ataupun sesuatu yang kita tidak duga mampu menghancurkan hidup menjadi berantakan, dalam hal ini tragedi bermain dalam lingkup nyata bahwa hal buruk sangat bisa terjadi pada semua orang, bahkan pada diri kita sendiri.

Manusia yang jarang melihat ini dan selalu terjebak dalam kisah-kisah utopis untuk terjaga dalam delusi yang menurut saya nantinya akan cenderung berhati keras, susah untuk berempati, dan berlebihan dalam ketakutannya atau tidak cukup dalam merasa takut ketika dihadapkan dalam masalah. Dengan mengingat kisah tragedi dalam keseharian dan merenungkannya, kita akan melihat lebih jelas dalam permasalahan hidup, menyadarkan diri kita tentang fakta kehidupan yang pahit, dan utamanya, melatih rasa empati dan rasa kasih ketika melihat sesamanya mengalami celaka dalam hidupnya.

Terakhir diskusi saya bilang tidak semua penulis menaruh tragedi untuk tujuan yang sama, beberapa hanya untuk sekedar storytelling yang menarik (semacam shock value) dan saya tidak bisa salahkan juga, karena tragedi kadang mampu menyenangkan pembaca bukan? Setidaknya selama masih ada masalah yang menarik, diikuti eksekusi yang bagus dan konklusi yang memuaskan.

Mengingat hal yang sudah saya tulis diatas, genre tragedi saya pikir adalah bacaan penting yang setidaknya bisa dijadikan selingan dari novel-novel ringan yang jadi makanan kita sehari-sehari. Buku harus bisa menjadi bentuk terapi diri, dia juga harus bisa membawa pembacanya dalam kedewasaan, membimbing pembaca ke suatu tempat tujuan yang jarang orang-orang sampai padanya, karenanya kita harus pintar-pintar memilih bacaan (mungkin juga dalam menulis).

"Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini." - P.A Toer, Bumi Manusia.

Rabu, 18 Mei 2016

Simfoni Cahaya Bulan - Chapter 10

Chapter 10 : A Monster Beneath The Snow
Aku berjalan menyeret diri diantara salju yang tebal. Sepi tempat ini, suara-suara yang tadi saling membicarakan kami sudah masuk dalam rumahnya masing-masing, menjaga diri mereka dari dingin menusuk di pagi hari. Aku yang baru tadi keluar terhempas keras oleh hembus kencang angin dingin. Tebal selimut yang kukalungi dan membungkusku tidak mampu menahan dingin yang sangat ini, juga tinggi sepatu boot yang seharusnya membuat kakiku terhindar dari kontak salju tetap saja kemasukan salju melihat tebalnya salju yang tingginya hampir sepinggangku. Salju juga turun menggunungi tudung kepalaku, membuat tudung ini perlahan-lahan berat, dan menekuk kepalaku akan menjatuhkan banyak salju yang sudah berkumpul. Sungguh aku benar-benar tidak terlindungi dari musim salju yang ganas ini.
Tapi aku terus berjalan, aku tidak peduli, persetan.
"Kau tahu malaikat bisu?"
Malaikat bisu tangannya kugandeng, hangat sekali tangannya. Sekali ku menengok, ia tidak terlihat kedinginan dan biasa saja. Putih kulitnya serta pakaiannya, seperti salju yang mengelilinginya, bersinar oleh matahari yang keluar lewat celah-celah awan mendung. Aku sebelumnya khawatir dengan Malaikat Bisu, tapi aku tahu dia bukan sosok biasa.
"Aku begitu kesusahan sekarang, tersiksa lebih tepatnya oleh dingin ini."
Aku mulai mengingat ibu, yang keluar pagi-pagi sekali, dan pulang malam. Selalu ia terlihat lelah, masih sempat membuatkan sup dan mengajariku. Betapa ia merasakan dingin yang tak kenal ampun ini hingga ibu beradaptasi dengannya?
"Ibu tak lebih sama, dengan jaket tipisnya ia berjalan setiap hari untuk bekerja. Tadi ia jatuh, dan diseret ditengah dingin tak berhati ini..."
Malaikat bisu mengangguk-ngangguk, senyumnya masih lekat pada wajahnya. Aku tidak tahu ia paham atau tidak apa yang kubicarakan, aku terus bicara saja, mengeluhkan isi hati yang tak mampu kutampung lagi. Berbicara dengan malaikat bisu, walau tidak menjawab, tapi tidak sama dengan berbicara dengan tembok. Ia mendengarkan, mau ia paham atau tidak.
"Dosakah aku Malaikat Bisu? Rasa-rasanya begitu dosa ketika diriku duduk di perapian ketika ibu bekerja keras menghidupiku di tengah dingin yang menyiksa tulang dan daging ini, mengeluh soal lapar, mengeluh kayu bakar habis, mengeluh ingin keluar, menangis dan ngambek saat dimarahi.."
Dadaku sesak, air mata keluar dari mataku yang seketika kering oleh dingin. Langkahku mulai terhenti, salju yang menutupi tudungku membuatnya berat sehingga aku berusaha membersihkannya, dan saat itu juga aku sadar terdapat angin kencang yang membuat ranting pohon di atasku menjatuhkan kumpulan saljunya ke atas kepalaku, kemudian aku terjatuh, terbenam di antara salju.
Aku benar-benar kedinginan, hingga rasanya kepalaku begitu pusing, kakiku begitu susah digerakan, aku tak bisa merasakan tanganku, kecuali yang kanan memegang malaikat bisu. Malaikat bisu segera menggali salju itu, menarikku keluar. Ketika itu aku sadar bahwa darah mengalir dari hidungku, tetes merahnya begitu kontras dengan putih salju. Aku terduduk, dan malaikat bisu memelukku. Hangat, hangat sekali malaikat bisu. Aku kemudian mengingat ibu, memelukku tadi malam sambil menangis, hangat sekali ibu.
"Betapa ibu begitu terbebani, betapa sayang dia padaku― eh?"
Malaikat bisu menggenggam tanganku. Ia kepalkan, lalu ia taruhkan ke dada. Kepala malaikat bisu menekuk, lalu bibirnya bergerak. Tiba-tiba muncul suara aneh dikepalaku: Berdoalah! Aku sadar malaikat bisu sedang berdoa, dan juga dia menyuruhku berdoa bersamanya. Apa hanya bayanganku bahwa malaikat bisu baru saja berbicara padaku? Tapi benarlah malaikat bisu, dalam segala putus asa, hanya berdoa yang mampu kita lakukan. Lihat rumahku masih terlihat dekat, dia belum tertelan ujung ufuk seperti sebagaimana aku melihat ibu berjalan tadi dari balik jendela, jelas masih jauh tempat ibu, dan aku kini malah terbenam dalam salju, tak bisa bergerak maupun berkutik oleh dingin. Jika aku sakit dan celaka, siapa yang rugi kecuali ibu, dan aku tak mau lagi membebaninya, aku ingin membantunya.
Maka aku mengikuti malaikat bisu. Aku memejamkan mataku, berdoa, sesuatu yang lama tidak kulakukan.
Dalam doa, aku jadi mengingat suatu hari ibu melempar kitab suci, dia mengamuk di kamarnya. Tidak pernah lagi ibu ajari aku kitab suci tersebut, isinya hanya kebohongan belaka katanya, harapan palsu, tidak ada pernah ada surga di bumi atau setelah mati katanya, hidup hanya siksaan katanya, padahal ibu bilang sejak kecil dulu ia dibuat hafal buku tebal tersebut. Ibu sehari itu menggila, dan aku hampir mulai memahami kegilaan ibu sampai aku bertemu dengan malaikat bisu. Mengetahui ibu tidak akan percaya, aku tidak pernah menceritakan malaikat bisu padanya.
"Tuhan tolonglah aku tuhan..."
Aku sudah lupa bagaimana cara berdoa, apa meminta saja sudah benar?
"Aku ingin bantu ibuku tuhan, dia begitu sendiri, sendirian diantara orang-orang yang terlihat tidak menyukainya. Aku sayang ibuku tuhan.. aku.. sudah berdosa pada ibu tuhan.."
Tiba-tiba aku merasakan keanehan, hangat, aku merasakan hangat. Bukan saja dari tangan malaikat bisu, tapi sekujur tubuhku. Tubuhku terasa begitu segar, darah berhenti menetes dari hidungku. Kubuka mataku, dan terdapat suatu cahaya yang mengililingi kami, dan sesuatu itu melindungi kami dari angin dingin dan menciptakan rasa hangat di tubuh. Ibu, keajaiban ibu, mukjizat itu nyata ibu!
"Mukjizat tuhankah ini!?"
Malaikat bisu mengangguk, ia angkat tunjuknya kelangit, dan setelah itu ia kepalkan tangannya yang ia taruhkan di dadanya sambil menekuk wajahnya. Entah mengapa aku paham, malaikat bisu seperti berkata: "Tuhan baru saja mengabulkan doa kita." Aku segera berdoa lagi, terimakasih tuhan! Terima kasih! Betapa baiknya dia ketika hambanya ini tidak pernah ibadah sekalipun, bahkan ibunya mengutuknya. Entah, tuhan bekerja secara misterius, sebagaimana dia kirimkan malaikat bisu padaku. Selain itu, aku berdoa juga untuk kesalamatan ibu, apakah tuhan akan mengabulkannya juga?
Ketika itu aku mulai mencoba berdiri, tapi tidak bisa. Kukeluarkan kakiku dari sepatu boot, dan kusadar kakiku telah membiru, mati rasa, seakan tidak ada darah mengalir. Salah satu cahaya yang mengelilingi kita tiba-tiba turun mendekati kakiku yang terlihat menyedihkan itu, dan warna biru itu perlahan kembali ke warna semulanya secara perlahan. Aku mulai merasakannya, hangat, jari-jari yang bisa kugerakan. Melihat ini, rasanya tadi aku seperti hampir kehilangan kakiku sendiri.
Sambil menunggu kedua kakiku kembali semula, aku melihat sekitarku. Diantara hangat, dan rasa nyaman ini aku mulai melihat suatu keindahan yang tak pernah kuperhatikan sebelumnya, suatu imaji yang hanya muncul lewat buku, cerita ibu, dan lirik sembunyi-sembunyi dari jendela. Aku sadar pemandangan desa sudah tampak jelas dari tempat ini, jalanan yang teraspal, berbeda dengan depan rumah yang masih berupa tanah dan rumput. Pohon-pohon maple berjejer disini, rapi memenuhi jalan yang kini hanya berubah ranting kosong tanpa dedaunan, dia pasti indah dan teduh pada waktu musim semi nanti. Di tengah desa ini terdapat patung gagah nelayan, aku lupa, tokoh yang pernah diceritakan ibu sebagai pendiri desa nelayan ini, lalu gedung-gedung juga rumah yang tentu berbeda dengan rumah kita, ia disusun oleh batu bukan kayu, dengan asap yang keluar dari atapnya, dan di antara rumah-rumah terdapat bendera kerajaan yang tergantung dengan tali-tali yang bersambungan. Di kejauhan, aku bisa melihat laut dengan banyak kapal, dan tidak terlihat kegiatan para nelayan pagi ini, dan dari daratan yang tak jauh, sedikit terpisah oleh laut, terdapat juga tembok besar yang dikelilingi awan, tembok pembatas antara dunia manusia dan beastman. Aku baru sadar betapa dekatnya tembok tersebut dari desa ini, alasan mengapa ayah memilih tempat ini kata ibu, ia begitu terpesona oleh tembok tersebut.
Lucunya diantara kekagumanku di desa ini, ibu tak pernah terlihat senang menjelaskan detil desa ini. Dunia, kata ibu, tidak ada yang istimewa, dia bahkan cenderung buruk. Kelabu sekali dunia di mata ibu, sebagaimana dia tidak memandang ulir kayu oak menarik di rumah, ia juga tidak memandang desa ini sebagai sesuatu kecuali desa yang berisikan orang-orang udik. Kota katanya juga tak jauh berbeda dengan kemuakannya melihat kesenjangan dunia orang kaya dan miskin, tapi hal itu lebih baik dari desa ini. Ibu bercerita bahwa anak-anak yang sudah dewasa akan meninggalkan desa untuk pergi ke kota, demi kehidupan dan pendidikan yang layak, ditinggalah orang udik yang sudah nyaman seperti kutu di balik rambut kepala dan ibu katanya merasa begitu keliru memahami isi pikiran suaminya untuk tinggal disini.
Apakah pandangan seorang dewasa pasti selalu seperti itu? Apakah suatu saat kita akan bosan dengan dunia kita sendiri, sehingga kita memandang dunia ini sebagai sesuatu yang menyedihkan seperti ibu? Atau saja, jika aku tidak dikurung selama ini, apakah desa ini akan kehilangan kecantikannya ketika setiap hari aku hidup bersamanya? Kupikir tidak, sebagaimana aku melihat rumahku sendiri, desa ini tetap cantik. Tapi sebagaimana hari ini aku begitu sedih dan khawatir, aku kehilangan kemampuanku melihat kecantikan isi rumah, mungkin hal yang sama terjadi pada ibu, atau juga orang dewasa lainnya.
"Tak kusangka Aslan begitu bodoh."
Aku kaget, tiba-tiba dibelakangku muncul dua orang berjalan. Mereka tegap dan gagah, sosok nelayan di desa ini. Salah satunya memegang botol minuman dan berjalan agak sempoyongan, dan yang satu terlihat begitu marah. Mereka berjalan di dekatku, namun kemudian melewatiku begitu saja.
"Sekarang penyihir itu tidak akan selamat lagi selagi Aslan mengejar kapalnya, tepatlah istilah karena nila setitik, rusak susu sebelanga, masalah kecil menjadi neraka bagi penyihir tersebut,"
"Jika saja tetua desa tidak sok moralis, jika saja Aslan membuang jauh-jauh harga dirinya"
Sosok yang memegang botol minuman itu melempar botolnya ke arah pohon hingga pecah botol tersebut. Aku kaget dan berteriak sedikit sebelum aku menutup mulutku, dan sekali lagi mereka tidak sadar keberadaanku. Aku mulai mencoba memahami, siapa Aslan, siapa yang dia maksud sebagai penyihir? Kakiku saat itu sudah mulai ingin sembuh.
"Anakku sakit, dan jika tidak ditindak cepat, dia akan seperti anak-anak lainnya! Berapa lama anak penyihir itu mati kelaparan? Cukupkah anakku bertahan hidup sampai anak terkutuk itu mati? Dan aku tanya lagi, jika saja anak terkutuk itu mati, namun anakku tidak baikan, bukankah penyihir itu yang berarti membawa petaka bagi desa ini?! Harusnya kita bunuh saja dua-duanya."
Tiba-tiba aku merasakan merinding, kata 'bunuh' begitu mengerikan di telingaku. Padahal aku sering melihatnya di buku-buku, tapi tidak percaya kata mengerikan tersebut begitu mudah keluar dari mulut, betapa mudahnya juga niat itu muncul. Dunia mengerikan ibu mulai muncul kembali dalam benakku, ketakutan yang dari tadi kupendam itu keluar perlahan-lahan.
"Kau tahu? Sudah cukup minum-minum, kita pergi ke tempat penyihir itu. Katanya mereka melempari penyihir itu dengan batu, kau ingin melampiaskannya kan?"
Entah mengapa aku semakin yakin, mereka berkata soal ibu. Aku berusaha menyangkal pikiran tersebut, betapa mengerikannya. Ibu tidak apakah engkau, ah, aku begitu khawatir, ibu..ibu..
Mereka berjalan menjauh membekaskan bekas di antara salju tebal. Aku sudah bisa berdiri, lalu aku berlari mengikuti mereka. Detil kota ini mulai hilang kembali, aku tidak tahu, tidak memperhatikan lagi, aku berbelok kemana, rumah apa yang baru kulewati, patung, dan lainnya. Aku hanya melihat salju dengan putihnya, bekas-bekas langkah, dan tebal salju yang mereka tabraki. Tanpa sadar aku berlari, selimut lepas dari kalungnya dan jatuh di antara salju tidak kupedulikan. Pikiranku hanya ada ibu, ibu, dan ibu. Kubayangi batu mengenai kepalanya, benjol yang muncul seperti aku jatuh dulu, atau darah segar yang dari kepala ibu.
Tak bisa kubayangkan selain teriakan keras dalam hatiku untuk menyangkalnya, mengutuknya.
Jika demikian, jahat memang mereka ibu. Jahat manusia itu. Jahat mereka melakukan itu pada ibu, dan niat buruk mereka pada kita. Aku semakin memahami sesuatu dari ibu yang sempat kusebut sebagai kegilaan, rasa marah ibu, rasa depresi ibu, rasa pesimis ibu. Jahat dunia ini terhadap ibu, dan bagi ibu dia yang waras, dan dunia yang gila. Semakin kubayangkan semakin aku menyutujui pandangan ibu.
Dan terakhir sampailah aku pada suatu gedung yang besar, pintu yang juga sama besar dengan orang-orang yang begitu ramai, dengan teriakan amarah, kadang tangisan. Kulihat dua pria itu memasuki pintu besar itu yang kini terbuka sedikit, dibiarkan angin dingin masuk melihat sesak dan panas yang terlihat di dalam.
Aku merasa tidak siap, jantungku berdebar kencang, kepalaku rasanya ingin meledak. Bantu ibu, bantu ibu, aku harus membantu ibu. Jalan Racke, ayo! Mengapa aku begitu susah, malaikat bisu, mengapa aku seperti ini! Aku menatap malaikat bisu dalam sedihku, dan kulihat senyum malaikat bisu juga menghilang, terlihat ia juga sama sedihnya denganku. Tangannya juga menggenggam erat-erat tanganku, dan aku sadar, aku tidak sendirian disini.
Aku kemudian berjalan melewati pintu itu, berdesak pada orang yang tak memperhatikan diriku, seakan aku tidak ada disini. Mereka begitu tinggi, hingga diriku tidak mampu melihat siapa yang mereka tonton di kejauhan. Teriakan mereka begitu kencang, hingga suara di depan terdengar begitu kecil dan senyap. Tapi saat itu tiba-tiba sepi, terlihat seorang pendeta menenangkan suasana, aku masih mencoba melihat di antara celah, dan tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras dan lantang, suara ibu!
Ibu berdiri disana, rambutnya berantakan, matanya memerah, bajunya sobek dan menyedihkan. Tapi suaranya masih keras hingga suara orang yang mencemohnya kalah dengan suara ibu. Ibu dengan jelas menjelaskan ayat-ayat kitab, dia masih belum kehilangan hafalannya. Suara terakhirnya bergemuruh di isi aula ini, "Terkutuklah kalian, terkutuklah dalam api neraka yang kekal!" tapi orang-orang malah makin mencemohnya, pendeta itu terlihat terhina, salahkah ibu mengucapkannya? Ibu saat itu terduduk lemas, orang tua disebelahnya terlihat begitu marah, wajahnya begitu memerah, urat nadi di antara kepalanya keluar.
"Mati perempuan itu."
Seseorang berucap itu disebelahku, dan tiba-tiba banyak para penonton yang naik ke panggung, menarik rambut ibu hingga ia terseret, membuat ibu berteriak kesakitan. Kerumunan massa dibelakangku segera tertarik ke depan, aku terbawa, mereka ingin berbuat buruk pada ibu! Lalu kulihat orang tua marah itu memukul perut ibu, hingga ibu muntah karenanya.
Aku marah, sangat marah!
Ia pukul wajah ibu!
Semua orang menendanginya!
"Ibu!!"
Aku berteriak begitu kencang. Perhatian mereka segera hilang dari ibu dan kini mengarah padaku. Aku sadar cahaya-cahaya yang mengelilingiku sudah menghilang, ibu terlihat kaget melihatku saat itu hingga ia mencoba berdiri lagi dengan kakinya dengan kesusahan, tangannya mengarah padaku seakan mencoba meraihku dari kejauhan, saat itu juga Ibu dengan lotot matanya berteriak:
"Lari Racke!! LARI!!"
Semua orang datang ke arahku. Mata mereka begitu mengerikan, sangat mengerikan. Wanita dan laki-laki sama saja, terdapat horror yang tak mampu kujelaskan, kebencian yang sangat memancar dari diri mereka, dengan tangan yang terbuka seakan ingin menghancurkanku, meremukku. Kulihat, malaikat bisu sudah jauh dariku, kita terpisah ketika massa bergerak tadi, dia mencoba meraihku, tapi hempit massa yang mendekatiku dengan amarah menghalanginya.
Aku sadar kini aku benar-benar sendiri, dan kakiku seperti membeku tidak mampu bergerak. Kulihat pintu sudah ditutupi bayangan dengan mata-mata yang bersinar.
Salah satu cengkram mencoba menarik bajuku, kuhindari, sampai tangan lainnya di sisi yang berlainan juga hampir mencengkramku.
Aku segera menutup mata, berjongkok, memegangi kepalaku.
Betapa mengerikannya manusia itu ibu, betapa mengerikannya!
Aku mulai berteriak, entah, kepada ibu, kepada tuhan. Apakah mukjizat datang dua kali? Siapa yang bisa menolong kita ibu? Siapa?
"Hentikan!!"
Tiba-tiba suatu tangan memenggangi lenganku. Kubuka mataku, dan tidak ada satupun orang yang mendekatiku. Aku sadar dihadapanku kini terdapat seorang besar dengan pedang di tangannya melindungiku, suaranya begitu keras dan lantang memenuhi ruangan ini, bergema begitu kencang.
"Apa kalian ingin menjadi pembunuh anak-anak?!"
Banyak yang datang lagi, orang-orang nelayan dengan pedang juga di tangan mereka. Malaikat bisu saat itu berlari ke arahku, memelukku. Masyarakat yang marah juga mengeluarkan senjata mereka, pisau, dan lainnya, tapi mereka tidak melawan.
"Siapa yang berani menyentuh anak ini, lewati mayatku dan anak buahku."
Tetua berjalan menuruni tangga dan masyarakat membentuk jalan untuk tetua itu, dia terlihat begitu marah pada sosok di hadapanku.
"Aslan, semua masalah bisa saja selesai hari ini. Kau orang asing tidak akan mengerti ini."
"Persetan dengan orang asing, yang kulihat disini adalah aniaya yang lebih parah daripada apa yang ibu itu lakukan pada nenek tersebut. Aku tahu ada yang aneh dengan desa ini."
"Di pengadilan itu dia menghina kami Aslan, dan itu ganjaran― "
Belum selesai bicara Aslan sudah menyelak pembicaraan, dia tunjuk kepadaku dengan suara yang terdengar sangat marah.
"Lalu kau biarkan anak ini melihat ibunya di aniaya, dan kau biarkan anak ini hampir dibunuh masyarakatmu sendiri? Apa salah anak ini wahai Tetua?! Kupikir manusia disini masih memiliki moral..."
Tetua terlihat membuang mukanya, setelah diinterupsi oleh sosok bernama Aslan, dia langsung mengusir masyarakat yang ramai minta diizinkan mengakhiri ini semua, dan mereka kemudian entah mengapa menurut begitu saja, keluar memandangiku sambil mengutuk. Pendeta tadi juga melewatiku dan berdoa dihadapanku sebelum pergi keluar. Sosok Aslan masih berdebat dengan tetua dan beberapa nelayan, dan kulihat sudah sepi di depan. Ibu dikelilingi nelayan yang sepertinya merupakan anak buah sosok pelindungku. Aku segera berlari menuju tempat ibu saat itu.
"Ibu..."
Darah mengalir dari kepalanya, biru-biru wajahnya. Ibu tidak sadarkan diri, aku berusaha berbicara padanya, tapi ibu tak kunjung juga bangun. Kulihat nafasnya begitu lemah, keluar tangis dari matanya. Kulihat ibu dalam tak sadarkan dirinya menginggau: "Pukul aku, aniaya aku, tapi lepaskan anakku, lepaskan. Oh sayangku..."
"Ibu aku disini ibu, ibu..."
Kupeluk ibu, tapi ibu tak kunjung bangun.
Lalu sesuatu memegangi pundakku.
Sosok yang bernama Aslan itu terlihat masam wajahnya, ia tersenyum tidak enak padakku.
"Racke, maafkan aku."
Aku hanya terdiam, masih memeluk ibu.
"Ibumu... dia akan dirawat di rumah sakit untuk beberapa lama..."
Aku tahu dia berbohong, ibu takkan dirawat di rumah sakit atau semacamnya, desa ini kutahu tidak memiliki fasilitas seperti itu. Yang jelas aku tahu bahwa diriku takkan bisa bertemu ibu dalam waktu dekat, malam ini kita takkan bisa makan sup ikan seperti janji ibu tadi pagi.
Pria ini tentu tak bermaksud buruk berbohong seperti itu, aku jelas masih kecil. Sosok bernama Aslan ini berbeda dengan manusia yang memukuli ibu, suaranya lembut ketika berbicara denganku, lalu ia bisa berubah menjadi keras dengan murkanya melihat ketidakadilan kepada ibu dan aku. Dia orang baik, sesuatu yang ibu jarang ceritakan, sesuatu yang biasanya hanya muncul di dongeng yang hanya sedikit dimiliki ibu dalam koleksi bukunya. Tapi manusia yang banyak itu, mereka yang mengerikan tadi, mereka adalah sosok nyata yang sering ibu ceritakan.
"Aslan, mengapa mereka melakukan ini pada Ibu?"
"Kau tahu namaku? Ah, karena..."
Aslan tak kunjung menjawab seakan ia sedang mencari-cari jawaban terhadap anak kecil yang baru mengenal dunia dewasa ini. Tiba-tiba aku berucap, menjawab pertanyaanku sendiri.
"Kebencian, hingga mereka melakukan aniaya pada ibu, hingga mereka melakukan ketidakadilan pada ibu. Ibu selalu mengatakannya, buku-buku yang kubaca begitu jelas memperlihatkannya, mereka yang mampu melakukan sesuatu yang mengerikan seperti ini hanyalah monster, merekalah monsternya!"
Aku tatap mata pria itu, dan terlihat ia tidak mampu menolak ucapan anak kecil ini. Dari apa yang kubaca dan kupahami, semua orang takut terhadap diri monster hingga ia menjadi sosok jahat dalam suatu bacaan, suatu sosok buas misterius yang manusia tak mampu memahaminya. Mereka begitu percaya sosok itu membahayakan mereka, begitu percaya celaka muncul karena sosok tersebut, sehingga mereka dengan tangan dinginnya membunuh apa yang mereka sebut monster itu dengan harap kedamaian mereka akan tetap terjaga.
Melihat apa yang mereka lakukan pada ibu, yang mereka niat lakukan padaku, sosok monster yang manusia takutkan itu sesungguhnya adalah diri mereka sendiri, bersemayam dalam hati setiap manusia yang telah membuang moralnya, mereka yang telah mati rasa, yang dibutakan matanya karena kebencian dan ketakutan. Aku berhadapan dan menatap langsung sosok monster tersebut, seluruh sosok di desa ini, dan aku semakin paham dunia ibu, aku paham ironi yang bersemayam di hati juga pikiran ibu.
"Aku paham, ibu, betapa mengerikannya dunia diluar pintu itu."
Dan ibu tak kunjung juga bangun...

Senin, 09 Mei 2016

Opini : Perihal Penulis Menanggapi Pembaca

Tulisan ini sebenernya diambil dari jurnal harian dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman, tapi kayaknya cukup bagus untuk ditaruh di facebook mengingat banyak teman menulis disini.

Sungguh aneh rasanya melihat kawan-kawan menulis yang memiliki ratusan hingga ribuan pembaca yang kini mulai berkomentar bagaimana seharusnya pembaca berlaku, dia melevel-levelkan jenis komentar yang tak lain sama dengan mengkelompokan pembacanya, beberapa juga melevel-levelkan para pengkritik, bagaimana kritik itu seharusnya, dan lain sebagainya. Kian kali juga saya lihat penulis (terlihat) mengamuk ketika dikritik, beberapa tidak menghiraukan, seperti menutup kuping dan menyangkal ketus seakan dia diserang, sungguh ini terlihat sangat ironis.

Saya pikir kita harus mengingat bahwa adanya pembaca adalah tujuan kita menulis, yaitu tulisan yang merupakan perwujudan ide kita untuk dibaca. Bagaimanapun mereka adalah tamu terhormat, yang segala komentarnya harus disertai terima kasih penulis (walau ya, terima kasih harusnya berasal dari dua arah). Kita harus sadar bahwa pembaca sudah meluangkan waktunya, membaca tulisan yang ia tidak tahu apa itu bagus dan tidak, dan hebatnya lagi, mereka sempat-sempatnya berkomentar! (Mau itu buruk dan tidak), dan apalagi bentuk kepedulian yang sangat dari hal tersebut? Kita penulis rasanya tidak pantas melevel-levelkan, membagi pembaca sebagai sub-sub populasi, sungguh hal tersebut terlihat seperti mendeskritkan pembaca, sadar ataupun tidak sadar.

Memperhalkan kritik juga, kembali ke komentar atas, kita harus bijak dan sangat, sangat berterimakasih tentang adanya kritik. Kupikir 2 tahun ini tanpa sebuah kritik yang rajin dari kawan, saya takkan bisa sampai pada tahap menulis seperti ini. Saya tahu memang betapa kritik kadang terasa begitu menyerang, merendahkan, dan keluar dari substansi tulisan, melelahkan hati pekarya yang sudah susah-susah membuat karya (yang dirasa seperti anak kandung sendiri). Saya jadi ingat bagaimana Tere-liye, penulis novel pop terkenal di kalangan remaja pernah menulis seperti ini:

“Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku.”

Tere-liye diam-diam begitu banyak dikritik (tentu mereka minoritas yang mengkritik), dan jawabnya pada kritikus terlihat begitu ketus (dan saya pikir konyol). Saya perhatikan fenomena bahwa pembuat seringkali begitu peduli dengan kritik negatif, dan ditanggapi juga dengan sangat negatif. GirlGamerGaB seorang youtubers menangis ketika terdapat beberapa kritik yang merendahkan dia, hal tersebut terjadi ketika ia mengomentari karakter Quiet di MGS V, walau mungkin, itu adalah 5 komentar dari 1000 pengikutnya yang setia. Deddy Corbuzier dikritik tentang Triangle The Golden Side oleh Gareth Evans mengenai stunts berbahaya dan tidak sesuai dengan regulasi keamanan, Deddy menjawab dengan sangat ketus dan mempermasalahkan bahasa yang Gareth Evans pakai tanpa membahas point sesungguhnya (disini saya baru paham bahwa Deddy ini tidak sepintar yang kita kira, dan ternyata merupakan orang yang sangat sensitif). Saya juga punya pengalaman, sekali itu berkomentar pada ajang lomba menulis cerpen mengenai harus bijaknya penulis membawa tema sensitif (disitu penulis memperlihatkan hantu yang merupakan korban keluarga PKI, dengan scene pemerkosaan dan dibawa ringan setelahnya). Penulis begitu defensif dan bahkan cenderung menyerang, mengaku sebagai keluarga PKI sehingga ia pantas menulis itu, merendahkan point-point pendapat dimana dia bilang tidak ada point yang saya jelaskan bermanfaat baginya (saya juga berkomentar soal premis dan storytelling) seakan saya sedang berusaha memancing emosinya, mencoba berargumentasi dengannya, dan sungguh-sungguh tidak ada niat melakukan itu karena saya pernah ikut dalam diskusi dokumenter mengenai korban dalam topik tempelan yang ia tulis (dokumenter Jagal dan Senyap) maka saya pikir topik sensitif seperti ini harus dibawakan secara terhormat dan serius, bukan secara horror remaja yang jenaka dan komikal.

Disini saya menilai, ada yang salah dari kebanyakan cara menanggapi kritik, dan sampai ada yang melevel-levelkan pembacanya dari cara kritik mereka, kian kali bahkan merendahkan dan mengutuk. Padahal kita tidak perlu berdebat dengan kritik, apalagi ketika komentar positif bertebaran. Kemarin yang saya kritik itu mendapatkan banyak komentar positif, dan hanya saya sendiri yang negatif sesungguhnya, mengapa dia begitu terbawa? Saya segera mengkaitkan ini dengan tulisan Anna Freud dalam bukunya The Ego and The Mechanisms of Defense, yang membahas mekanisme psikologis otomatis yang bekerja pada setiap diri manusia ketika secara psikologis ia diserang, dan ini sesungguhnya wajar dan alami, tapi diperlukan juga pemahaman dan kontrol akan mekanisme ini karena dia bisa menjadi sangat negatif bagi diri sendiri, seperti sifat destruktif dalam kehidupan sosial, dan tentu dalam perihal perkembangan dalam berkarya ini.

Saya pikir simple saja seharusnya menanggapi kritik, bagaimana kritik itu mampu bermanfaat bagi penulis, menghormati kritikus dan bahkan diri kita sendiri. Pekarya cukup seperti ini: Berterimakasih, ambil yang mampu diterima, dan buang yang tidak perlu (bahasa yang ketus, dll). Kita tidak boleh terjebak dalam psikologis defensif kita, kita tidak boleh langsung masuk dalam tahap denial dan mekanisme defensif lainnya yang membuat point-point yang mampu memperbaiki karya kita menjadi irrelevant. Dan yang paling penting, kita tidak bisa meminta dan memaksa pembaca kita menjadi sesuatu yang kita inginkan. Maka saya harus menggunakan kata mainstream seperti: “Banyakin jalan-jalan mas.” Agar tahu indonesia ini luas, dan betapa terpusatnya manusia dari seluruh wilayah dengan fragmen-fragmen sosial dan budayanya bersatu dalam dunia internet ini, dunia jejaring sosial ini. Kita tidak bisa menjadi sosok yang egosentris, dan haruslah sebagai pekarya memahami warna-warni manusia di bumi indonesia ini. Menjadi bijak dan membumi maka yang saya pikir ideal, sebagai langkah yang menghormati pembaca sebagaimana mereka seharusnya diperlakukan dan memajukan pekarya untuk menjadi lebih baik dan mencapai mahakaryanya.