Rabu, 12 September 2018

Cerpen: Neraka Untuk Para Pembokep dan Dosa Sejenisnya



Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku membuka kisah ini, diriku memiliki keterbatasan kosakata manusia untuk menjelaskan banyak hal di sekitarku. Tapi sederhananya begini: seingatku, aku ini sudah mati, dan sepertinya sedang berada di akhirat (dari keterangan plang di sebelahku).

Kepalaku sekarang sungguh pening untuk menangkap presepsi mengenai waktu, mungkin sekarang ini seharusnya jika definisi waktu masihlah ada, aku ini sudah mengantri lama sekali dari juta hingga milyar manusia. Ratus atau ribu tahun kemudian akhirnya telah sampai di hadapanku seorang bertampang arab, bersorban, dan membawa pecut di sebelah tangannya.

“Bapak Farid, itu nama bapak bukan?”

Ia berbicara bahasa arab sambil membaca lembaran yang berisikan daftar nama. Aku tidak tahu spesifiknya arab yang bagaimana, dia tidak berbicara arab sebagaimana orang melantunkan Qur’an yang bernyanyi-nyanyian itu, tapi setidaknya yang kutangkap begitu. Bagaimana aku bisa memahami bahasanya itu keajaiban tersendiri.

“Iya, nama saya Farid.”

“Maju pak, ini saatnya bapak dihisab.”

Ah, ya, seakan lupa pelajaran agama selama ini. Hari di mana manusia dijejerkan di padang masyar, lalu ditimbang segala perbuatannya selama di muka bumi, katanya lagi segala bagian badan juga akan bercerita mengenai kesalahan-kesalahan selama di dunia. Deskripsi itu tidak jauh berbeda, walau tidak terlihat bagian badan itu mengeluarkan mulut dan berceloteh, tapi di sini memang terlihat orang-orang mengantri untuk ditimbang, sang pria arab itu mendekatkan telinga ke bagian tubuh dan mencatat apa saja dosa yang dilakukan. Suatu dakwaan dikeluarkan, lalu mereka para pendosa menangis, memohon-mohon sampai pecut memaksa mereka maju ke gerbang merah yang terlihat mengeluarkan asap. Jelas itu gerbang neraka.

Maka aku berjalan menuju kotak tempat penghisaban itu, di timbang sambil sang malaikat berbisik-bisik dengan bagian tubuhku. Dalam proses itu, aku tak merasa takut sama sekali, di dunia selama ini aku rasanya orang yang baik-baik saja kok.

Misal, aku sudah berusaha sebaik mungkin tidak melukai hati orang, walau tidak bisa dibilang sebagai orang yang sungguh saleh, masihlah aku mengikuti shalat wajib lima waktu (walau kadang, sekali-kali bolong, tapi tidak sering), berdzakat, berkurban, bekerja secara halal (sepengetahuanku begitu), membantu orang-orang yang berada di sekitarku. Bisa dibilang dosaku ada, tapi tak parah seperti berbuat kejahatan yang melawan hukum, membunuh, atau melanggar norma masyarakat dan dosa-dosa berat lainnya. Aku ini persis dikatakan sebagai masyarakat baik dalam komunitas yang baik pula, walau tidak begitu kelihatan prestasinya. Jikalau surga eksekutif tidak kudapatkan, yah minimal surga ekonomilah yang kudapat.

Sambil berpikir begitu, timbangan yang kulihat menunjukan angka merah.

“Pak Farid maaf, bapak masuk neraka.”

“Eh?”

Aku termangu mendengar ucapan sang arab (malaikat) yang bicara begitu ringan begitu. Tentu aku tidak terima!

“Kalau bisa, saya mau tanya kenapa saya masuk neraka?!”

“Bapak tahu kalau dosa itu banyak jenisnya? Masih banyak yang mengantri, kalau saya sebut semua, antriannya tak selesai-selesai.”

“Ah, kalau begitu dosa yang paling berkontribusi saja, dosa terbesar saya.”

Ya, dosa terbesar. Bagaimana aku bisa lalai untuk tidak mengetahui dosa sendiri? Dan dengan bertanya seperti ini, barangkali aku akan menyadari keapatisanku terhadap dosa besar tersebut dan merasa benar-benar bersalah, ikhlas masuk neraka, dan merenunginya tiap hari layaknya para pendosa. Jika tidak tahu, masa aku hanya bengong di neraka, memikirkan aku dosa apa selama ini?

“Bokep pak, bapaknya kebanyakan nonton bokep.”

“Hah?”

“Sudah puas jawabannya pak? Kalau tidak, terpaksa saya harus pecut bapak.”

“Bentar, tunggu sebentar! Bagaimana menonton bokep bisa jadi dosa terbesar saya?”

“Lah yah dosalah pak, masa nonton bokep tidak dosa? Lihat sehelai rambut wanita saja dosa apalagi bokep, itu sama dengan berzinah.”

“Tapi, tapi saya kan tidak berhubungan badan secara langsung? Tidak merugikan siapa-siapa? Ah masa segala hal saya lakukan di dunia ini, segala kebaikan dianulir karena nonton bokep.”

“Bapak kalau mau protes ke costumer service saja. Itu, disebelah pintu neraka. Ini sudah banyak yang ngantri.”

Kulihat jauh, ya, dekat tembok besar dengan pintu nerakanya, ada suatu ruangan berkaca seperti loket di stasiun kereta api lengkap dengan AC dan pengeras suara juga pintu kaca kecil untuk berbicara dengan orang dibalik ruangan tersebut.

“Oh begitu, saya tak harus buru-buru masuk pintu neraka bukan?”

“Santai aja pak, lagian sekarang ini sudah ujung waktu, tidak ada yang namanya terlambat.”

“Ah, ya, terima kasih mas.”

Entah mengapa aku malah berterima kasih dengan orang yang baru saja memvonisku masuk neraka. Tapi, ah sudahlah, maka setelah di cap tanganku dengan tanda “Jahannam” aku segera berjalan menuju CS atau costumer service-nya akhirat. Ketika sudah mengantri ribuan tahun (sepertinya) sambil mengobrol-ngobrol dengan sesama calon neraka mengenai persoalan yang sama, tidak terima dengan dosa kami, sampailah aku di hadapan lagi-lagi pria arab (malaikat) yang wajahnya persis sama dengan malaikat yang baru kutemui tadi.

“Ini mas yang tadi baru nimbang saya yah?”

“Oh bukan, kita memang sama semua wajahnya, pake cetakan yang sama demi alasan efisien. Ada urusan apa bapak di sini?”

“Saya ingin protes, masa karena permasalahan bokep saya masuk neraka? Saya ini, walau biasa-biasa saja, tak pernah berbuat buruk seperti korupsi, merampok hak orang lain, dan lain sebagainya yang jelas dikutuk oleh agama.”

“Tapi, bapak, berzinah jelas dikutuk oleh agama.”

“Nah, harus dibedakan itu menonton bokep dengan zinah, kan itu urusan saya dengan tangan saya, bukan dengan orang di luar nikah, pelacur, apalagi selingkuh, pokoknya saya protes!!”

“Nah, biar bapaknya bisa berlapang dada masuk neraka, maka saya coba jelaskan dari awal perkaranya bagaimana yah.”

“Iya, tolong jelaskan!”

Lalu aku dipersilahkan masuk oleh sang malaikat ke pintu yang tiba-tiba muncul di sebelahku, membawaku ke dalam lorong misterius yang seakan tak berujung. Selagi aku mengikuti di belakang malaikat, terdapat malaikat lain yang memiliki penampilan serupa menggantikan posisi dirinya.

Tak lama (mungkin lama, aku tak tahu), masuklah diriku di ruangan yang tak jauh berbeda dengan ruangan rapat layaknya di kantor lengkap dengan papan dan proyektornya.

“Di sini saya jelaskan bahwa perkara-perkara yang bapak anggap kecil menanggung dosa yang besar.”

Proyektor menyala, dan gambar-gambar slide bergerak. Judul, “Contoh dari orang-orang masuk neraka: sebuah petunjuk jika ada yang bertanya.”

Seorang yang membawa simbol-simbol agama lain.

“Nah, ini jelas masuk neraka, kafir.”

Apa? Gampangnya masuk neraka! Bah, di foto itu orang-orang tersebut tidak terlihat seperti orang jahat, bagaimana bisa? Beruntung tidak beruntung aku lahir di agama non-kafir, eh pada akhirnya tetap masuk neraka....

Lalu slide meloncat ke dosa terbesar selanjutnya.

“Nah ini pembunuh, para koruptor, diktaktor, pelacur, jelas masuk neraka.”

Slide bergerak lagi, namun kali ini slide berikutnya terlihat janggal.

Terdapat foto seseorang pria agak gemuk yang dahinya menghitam, bajunya adalah daster putih panjang, dan pula mengenakan sorban panjang. Terlihat dia sepertinya orang saleh, ditemani istrinya yang pula berpakaian islami.

“Nah, orang ini, walau setiap hari rajin beribadah, tidak ngebokep seperti mas, diapun masuk neraka.”

“Kok bisa begitu?”

“Karena walau dia secara serius ingin berhubungan baik dengan tuhan, dia tidak berhubungan baik dengan sekitarnya, manusia-manusia lainnya. Ketika tetangganya membutuhkan bantuan, dia angkuh dan apatis terhadapnya, lebih-lebih dengan yang tidak seumat, padahal sudah jelas bahwa silaturahmi, membantu tetangga, membantu sesama, adalah jembatan menuju ridha tuhan menuju surga. Maka, dengan demikian, dia tidak sadar bahwa bukan saja hubungan horizontal dia gagal, hubungan vertikalnya pun juga.”

“Lah, urusannya dengan saya apa?”

“Ada dosa besar dibalik sesuatu yang tidak disadari.”

Slide next, tiba-tiba ada fotoku.

“Nah, ini mas, yang senang menonton bokep.”

“Wah, ini guideline-nya kok pake foto saya?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku, dan terus melanjutkan ucapannya.

“Mas adalah salah satu orang yang berkontribusi dalam eksploitasi wanita, perdagangan manusia, bisnis porno, dan pelacuran.”

“Eh? Apa?! Ngaco anda!”

“Mas, dengan penonton lainnya, menciptakan apa yang disebut sebagai demand, permintaan terhadap adanya suatu konten. Untuk memuaskan nafsu dan kecendrungan seksual, maka banyak para pelaku kejahatan yang menjebak wanita dalam bisnis ini. Mas, beserta jutaan orang lainnya sebagai penikmat, telah berkontribusi dalam kejahatan terbesar di dunia maya.”

“Lah, kalo begitu banyak sekali yang masuk neraka! Siapa laki-laki normal yang gak nonton bokep di masa modern ini?”

“Yah, banyak, banyak sekali.”

“Lagian menonton itukan menahan kita dalam melakukan yang enggak-enggak, pelampiasan begitu? Jika tidak begitu, pelampiasan kita mau dibawa ke mana?”

“Ah itu persoalan yang lain, tidak relevan, dibuat-buat untuk membenarkan perilaku pembokep, malah makin ingin melakukan yang tidak-tidak. Lagian bapak kan punya istri.”

“Ah, ya, tapi...”

Lalu tiba-tiba muncul suatu perasaan tidak enak dalam benakku, betapa absurdnya kondisi penjelasan malaikat ini.

Berbuat kejahatan jelas masuk neraka. Berbuat sebaik apapun tapi lahir dengan agama salah maka otomatis masuk neraka, lebih-lebih jika kau lahir sebelum jaman nabi atau di pulau yang tak ada nabinya, waduh sial benar. Kau telah masuk agama yang benar, beribadah, tapi buruk dengan sesama masuk neraka. Lalu, aku yang biasa-biasa saja, tapi karena sekedar kebiasaan nonton bokep, masuk neraka. Dan lagi, itukan baru contoh sedikit. Bukankah terdapat teori kekacauan tentang perbuatan kecil yang ternyata mampu menciptakan banyak kondisi yang luar biasa, lah, kalau begitu banyak sekali dosa yang tak mampu dihindari!

Dan benarlah, dia menceritakan bagaimana orang membuang sampah lalu menciptakan limbah yang merusak bumi, padahal kewajiban manusia adalah merawat alam selain memanfaatkannya. Lalu bagaimana orang-orang yang menggunakan kendaraan, ataupun komposisi sawit dalam snack, penikmat daging sapi, dan lain sebagainya, ikut berkontribusi menciptakan pemanasan global yang menyebabkan banyak kepunahan juga kerusakan di muka bumi. Konflik perang. Kelaparan. Ketidakadilan yang terbiarkan. Bunuh diri, beserta orang yang gagal mencegahnya. Banyak hal mengenai masa bodoh manusia, kurangnya empati, dan berakhir dengan kerusakan massal yang tercipta dari kelalaian kecil.

Bahkan, orang yang tertidur tenang di negeri damai sentosa adalah pendosa karena mereka tidak memikirkan saudaranya sesama manusia di lain dunia yang kelaparan, berada di perang, dan lainnya, sedikitpun tak memikirkan mereka ataupun lupa sesaat. Ya, untuk sekedar tidur tanpa khawatir saja dosa!?

Slide berakhir dengan kiamat, ketika sangkakala ditiupkan, jumlah manusia ternyata tinggal puluhan, mereka telah dalam proses kepunahan yang diakibatkan pertikaian juga kehancuran alam dahsyat yang dilakukan oleh diri mereka sendiri. Apatisme dan kebodohan seluruh umat manusia disalahkan karena nasib mengenaskan kemanusiaan saat itu.

Sampai-sampai aku merasa begitu janggal dengan semua penjelasan tersebut, siapa orang yang sangat suci yang mampu masuk ke surga yang butuh spesifikasi luar biasa itu?!

“Woi malaikat, lalu kau tahu siapa orang yang masuk surga? Yang seumur hidupnya berbuat baik kepada segalanya, tidak berbuat sesuatu yang sepele ataupun apatis yang ternyata menimbulkan kerugian luar biasa besar dalam hidup mereka?”

“...”

Diam saja dia, kemudian membuka lembaran kertasnya. Tersenyum malaikat itu kepadaku.

“Kecuali para nabi dan hewan-hewan, belum ada pak orang yang masuk surga.”

Dan kemudian baru aku tahu, seluruh umat manusia ternyata memang ditakdirkan masuk neraka.