Rabu, 16 September 2015

Beautiful Flesh

Tangannya pucat, kaku, dan dingin. Kutegakkan perlahan lalu kutekuk, hingga akhirnya dia bergerak lebih rileks setelah lama tidak digerakkannya bagian tubuh tersebut. Kubersihkan dengan air dan sabun sari mawar dengan busa dari ujung kepala sampai ujung kaki, membersihkan bekas tanah yang menempel pada kulitnya yang cantik, menjadikan wangi, terpisahkan dari bau tanah yang menempel. Kukeramasi rambutnya yang mulai kering dengan berbagai wewangian, dan kuberi bedak pada mukanya, menjadikannya putih, dan cantik luar biasa. Kuhiasi bibirnya yang membiru dengan lipstik merah, dan aku bisa melihatnya, senyumnya yang menyerupai malaikat.

 “...”

Kutatap lama, kuperhatikan bahwa tak ada cacat sekalipun.

Sempurna, ah sempurna sekali, tubuhnya kini telah sehalus susu, lekuknya yang menawan, sosok sempurna yang takkan kau temui di wanita lain.

Dia bidadariku, tuhan kirimkan hanya untukku.

Kupasangkan gaunnya, gaun yang telah kusiapkan untuk dirinya jauh hari saat diriku bertemu dengan dirinya. Aku memang sudah bermimpi bahwa dia akan memakainya, tapi tak kusangka gaun yang kini kupakaikan pada dirinya terlihat lebih cantik dari apa yang kubayangkan.

Oh surgaku, utopiaku.

“Oh James..”

Tak kusangka saat itu juga dia membuka matanya, memegang wajahku, dan dia usap air mata yang keluar dari mataku.

“Stephenie..”

Dia berdiri, dan dia berikan tangannya padaku.

Alunan lagu berputar dengan sendirinya, kupu-kupu biru berterbangan di ruangan yang remang-remang ini, dengan lampu yang hanya menyinari kami di sebuah lingkaran suci, dunia kami semata.

Aku menari dengannya dalam alunan lagu Brahms Waltz in A-Flat Major, Op. 39 No. 15. Berputar dengan anggunnya, jentak kakinya yang lincah, dan tatapannya yang maut. Rasanya aku bisa gila, benar-benar gila jika tak segera kucium bibir merahnya yang memaksa kucium mesra.

Ahh, lalu dia peluk diriku disaat akhir, dan dia bisikan padaku ‘mantranya’, tanda bahwa dia mencintaiku, tanda bahwa hanya aku satu-satunya yang memilikinya.

“Aku mencintaimu James..”

Ya aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu, tak ada dunia selain dirimu Stephinie.

“Tapi..”

Tapi? Dia menatapku ragu, matanya terlihat mulai teralih pada pikirannya. Apa yang sesungguhnya ia ragu ucapkan? Bukankah sebelumnya kau berkata bahwa jiwa kita sudah saling terikat bagai daging dan darah yang menyatu? Sekali lagi, apa yang kau ragukan wahai Stephenieku..

“Ada apa Stephenie? Apa yang kau pikirkan?”

Aku mengucapkannya, tak sepenuhnya ucapan dari benakku kukeluarkan, namun aku tahu bahwa ketakutan keluar dari kata-kata tersebut.

“Oh James..”

Dia tahu bahwa aku melihat keraguannya, dan bibirnya bergerak perlahan, dia ucapkan pelan-pelan namun jelas.

“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku..”

Apapun Stephenie, apapun itu akan kulakukan untukmu. Semenjak pertemuan kita, tak ada keraguan sedikitpun tentangmu, cintaku, takdirku.

“Aku ingin kau membalaskan apa yang mereka perbuat padaku..”

Ya, apapun itu Stephenie, dan kau akan menjadi milikku selamanya.

***

Ceritaku tanpa Stephenie merupakan cerita yang kelabu, hanya kematian demi kematian, kesedihan demi kesedihan. Maka siapa yang tidak gila menatap banyak sekali kepergian tersebut? Tapi itulah resiko dari pekerjaanku, mengambil momen kematian mereka seakan mereka tersenyum bersama orang yang dicintai mereka sebelum pergi ke alam barzah.

Namun sesungguhnya tidak, tidak sama sekali. Mereka hanya jasad, putih bagai tembok, dengan biru di bibir mereka yang tertutupi oleh lipstik merah tebalnya, kadang bau keluar dari tubuh mereka, kadang belatung keluar dari punggung mereka. Momen hitam-putih yang kuambil tidak mampu menangkap busuk jasad tersebut, hanya mereka dengan tatapan kosongnya, tanda bahwa jiwa mereka sudah tidak ada dan tubuh mereka yang menjadi tempat makan belatung-belatung yang menggerogoti dari dalam.

Mereka mayat, aku menggunakan nasib kelabu tersebut untuk makan sehari-hari. Orang-orang tersebut percaya bahwa jiwa mereka akan melekat dalam foto yang kuambil. Mereka menyuruhku mendadani mayat tersebut, anak-anak, laki-laki ataupun wanita tanpa rasa malu bahwa aku menelanjanginya, memandikan mereka, merias mereka. Jelas, karena mereka sudah mati, pikir mereka siapa yang tertarik dengan orang mati? 

Lagipula aku ahli dalam hal ini, luka tusukan akan kujahit sedemikian rupa, menutupinya sehingga luka tersebut tidak terlihat. Jika saja isi tubuh mereka keluar, membuat mereka kurus sehingga daging tersebut melekat pada tulang-tulang itu, akan kuisi kapas hingga benar-benar terisi dan kujahit sehingga jika kuberi baju tak terlihat betapa kurusnya mayat tersebut. Jika mata mereka keluar akibat kecelakaan, maka aku menyediakan mata palsu yang kudapat dari orang-orang gipsi yang melakukan barter oleh para perajin di timur tengah sana.

Aku belajar dari ahlinya, dan kini mungkin diriku sendiri lebih ahli dari guruku. Aku bisa mengawetkan mayat secara sempurna, hingga kau takkan sadar bahwa mereka sudah mati dan menganggap mereka hanya tidur semata.

Mereka puas akan semua ini, dan diriku akan dibayar mahal. Tapi aku tidak merasakan kepuasan dari semua sumber kekayaan yang melimpah ini karena wanita-wanita selalu menatapku jijik. Aku berurusan dengan mayat, mengambil keuntungan dari mereka, dan hal ini bukan pekerjaan yang umum saat ini atau bahkan hingga di masa depan nanti.

“Kau tahu, aku bisa melihat banyak bayangan di tubuh James. Dia mengambil keuntungan dari mayat-mayat tersebut, dan kini mereka melekat pada badannya.”

“Kau tahu, aku bertemu dengan peramal yang berkata bahwa pria bernama James tersebut takkan masuk surga, keluarganya akan dikutuk. Siapa suruh membohongi keluarga korban dengan berkata bahwa jiwa mereka kekal di foto-foto tersebut?”

Ucapan tersebut selalu berulang kali kutemukan, dibisikan dalam nada yang keras ketika diriku melewati mereka : Kau tahu? Kau tahu? Kau tahu?

Aku tahu, tak usah kalian beri beban lebih padaku. Pekerjaannya ini dicari, mereka membutuhkanku. Tak usah kalian cari salahnya, tak usah kalian jauhi aku.

Tetapi sungguh ironis, beberapa tahun aku menekuni pekerjaan ini dan sekarang diriku telah kehilangan banyak teman, saudara, dan wanita. Terutama wanita, aku sangat rindu dengan mereka. Bau mereka, hangat tubuh mereka, sensasi ketika kulit saling bersentuh dengan mereka. Kini bahkan pelacur pun tak mau menyentuhku walau berapapun biaya yang kuberikan, bisa memberi penyakit katanya, busuk katanya.

Aku berdoa pada tuhan, satu-satunya yang mengerti betapa mulianya pekerjaan ini, bahwa aku akan bersyukur sekali jika dia cabut nyawaku, membawaku ke surga bertemu dengan bidadari-bidadari, dan ia biarkan diriku mencumbu mereka.

Oh tuhan, kenapa kau beri diriku bakat yang membuatku tersiksa batin seperti ini? Jika memang kau membuat kedua insan yang akan saling bertemu, maka temukanlah aku segera dengan jodohku. Aku bisa gila oh tuhan.

Lalu Stephinie, oh Stephinie. Kaulah jawaban dari tuhan. Mereka berkata bahwa jika bertemu jodoh maka kau akan mengetahuinya, segala yang ada dari pertama kali kau menatapnya akan menandakan bahwa itulah jodohmu. Matanya yang biru, sebiru laut samudra yang dalam, hingga bisa membuatmu tenggelam di dalamnya. Bibirnya yang merah, kulitnya yang putih, rambutnya yang pirang lurus, begitu cantik jika kau bayangkan rambut tersebut terhempas angin dan aku bisa menciumnya, bau mawar. Kini ia tertidur di dalam peti dengan pakaiannya yang putih dan bunga merah mawar yang terletak di dadanya.

“Kasihan sekali oh Sthepenie, tuhan mengambilnya terlalu cepat. Seperti bunga mekar yang belum sempat terpetik, belum tersentuh satu lelakipun, belum pernah merasakan melahirkan buah hati yang akan ia susui lewat payudaranya, merasakan kasih sayang dan syukur dunia ini sebagai seorang wanita. Oh Sthepenie..”

Sang ibu berdiri di antara peti, berbicara dengan ekspresi sedih ketika sang ayah datang mengantarkanku pada tubuh wanita itu, jodohku, belahan insanku, setengah jiwaku, yang terkujur kaku di peti mati.

“Oke James, kapan bisa kita mulai?”

Dia tersenyum menatapku, dengan harapan bahwa aku bisa menangkap kecantikan anak gadisnya, dan jiwanya yang mungkin masih melekat pada tubuh yang sempurna itu.

“Sekarang juga pak, sekarang juga.”

***
Ketika mereka mengkubur Stephenie ke dalam tanah, tangisku keluar layaknya sanak saudara di sana.

Bagaimana mungkin aku tak pernah bertemu dengannya? Aku tinggal di dekat sini, dan aku kenal dengan semua orang yang menghadiri pemakaman ini! Seharusnya bau mawar itu akan mengalihkanku. Seharusnya matanya yang sebiru jernih samudra akan mengalihkanku. Seharusnya rambut panjang pirangnya yang begitu cantik ketika angin menghempasnya akan mengalihkankiu. Kenapa tuhan begitu keji mengambil belahan jiwaku pergi ke surga?

Tapi aku lupa, mungkin tuhan memang baru menunjukannya sekarang karena suatu alasan. Hal tersebut baru kumengerti setelah foto tersebut telah selesai, terpampang di kertas foto dan bingkai, siap untuk kuberikan pada keluarga Stephenie yang menunggu kenangan akhir dari anaknya. Ketika kuantarkan kerumah orang tua Stephenie, aku memutuskan untuk menatap foto Stephenie untuk terakhir kalinya.

Kulihat matanya.

“Dia hidup..”

Senyumnya yang keluar dari bibirnya yang merah.

“Dia hidup..”

Kulitnya yang mulus seperti susu, rambutnya pirangnya yang lurus terbawa angin.

Aku tak bisa melepasnya dari pikiranku seakan seluruh deskripsi dari wajahnya menguasaiku, seluruh wanita yang kutatap di jalan menyerupainya, lukisan-lukisan yang terpampang di rumahku menyerupainya.

Aku jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta. Hal ini berlanjut sampai akhirnya ia masuk dalam setiap mimpiku. Kita berada dalam padang rumput dengan bunga-bunga yang mengelilingi kita, kupu-kupu yang terbang di antaranya, matahari yang membuat gaun Stephenie bersinar penuh silau membuatnya menjadi bidadari-bidadari surga dalam bayanganku.

Disana dia akan melihatku seakan telah menunggu lama, lalu berlari memelukku.

“Akhirnya aku bertemu denganmu oh belahan jiwaku, kalbuku, cintaku.”

Mantra tersebut dia bisikan dalam telingaku.

Ketika itu aku tahu bahwa aku telah menjadi gila.

Lalu kugali kuburannya dan kuhilangkan jejak-jejak. Aku tahu bahwa Stephenie masih hidup. Aku bisa mendengar teriakan minta tolongnya saat kugali kuburan tersebut. Dia berteriak bahwa di dalam sangatlah gelap, sesak, dan penuh dengan cacing. Aku berteriak, mengatakan bahwa aku telah berada disini dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka menaruh orang yang disayangi di dalam tempat sempit seperti itu? Bagaimana mungkin mereka tidak berpikir bahwa Stephenie masih hidup!

***

Kini aku berjalan, dengan pisau di tanganku, kloroform di sakuku.

“Aku diperkosanya!”

Dadaku sesak, meletup-letup rasanya. Otakku merasa terpanggang oleh amarah. Gigiku terlalu menekan rapat hingga darah keluar di antaranya.

“Mereka memaksaku!”

Tangisku meledak, dan aku kehabisan kata-kata untuk menenangkannya.

“Lalu mereka memasukan sesuatu padaku, mereka masukan semua itu padaku. Lalu..:lalu..”

Aku berteriak.

Mereka... bagaimana mungkin, mereka melakukan itu semua?

Oh tuhan, apakah ini ujianmu padaku untuk menguji cintaku? Maka aku akan memberi jawaban langsung padamu, bahwa aku akan tetap mencintainya, dan cintaku takkan pernah hilang sedikitpun karenanya. Lalu maafkan diriku oh tuhan, karena diriku akan melakukan dosa besar yang mungkin semua ini juga merupakan rencanamu, semoga.

Aku akan memberikan sesuatu yang buruk, sangat buruk hingga mereka akan memohon untuk pengampunanku untuk membunuh mereka.

***

“Haahh...hahh..”

Linglung, kini aku bisa melihat John sadar bahwa dirinya terikat pada kursi erat pada. Nafasnya tidak teratur, kloroform masih tersisa dalam paru-parunya dan membuat nafasnya hanya sampai setengah. Dia pasti tidak mengingat apapun kecuali gelap seketika saat berjalan mabuk menuju rumahnya. 

“Hiii!!”

Dia sadar bahwa terdapat Stephenie di hadapannya, menatapnya dengan penuh kebencian. Dia juga terkagetkan oleh pemandangan disebelahnya. Daniel dan Steven, teman mabuknya telah mati dengan tusukan pipa-pipa tajam pada kakinya, lalu terdapat setrum yang berada pada pipa besi tersebut. Mata mereka telah tercongkel, dan celananya terbuka. Terlihat bahwa kelamin temannya telah terpotong, tidak, lebih tepatnya ditarik paksa hingga putus. Dia bisa melihat bahwa mulut mereka ternganga besar, tanda bahwa mereka berteriak selama proses siksaan yang mereka alami.

“Oh tuhan, oh tuhan..”

“John..”

Stephenie berbicara padanya, dan dia terlihat kebingungan, hal yang persis dilakukan teman-temannya yang sebelumnya terbangun terlebih dahulu.

“Mengapa kau melakukan itu semua John? Kau bilang bahwa dirimu mencintaiku, mengapa kau melakukan ini? Bukankah kita telah berteman sejak kecil?”

Bukannya membalas Stephenie dia malah menatapku, dan berteriak.

“Hei kau gila! Apa-apaan ini! Oh tuhan, lepaskan aku dari sini..”

Aku segera menunjukannya moncong pistolku pada kakinya sambil berkata bahwa jika dia tidak menjawab Stephenie maka dia akan mendapatkan nasib yang sama seperti teman-temannya.

Dia tetap enggan menjawab, menggelengkan kepalanya, hingga satu peluru bersarang ke kakinya. Dia berteriak, melolong kesakitan, dan kini ancamku berubah untuk memaku tangannya jika dia tidak menjawab sekarang juga.

“Maafkan aku, maafkan aku Stephenie..Setelah kau menolakku, aku depresi, dan bahkan ingin membunuh diriku sendiri. Tapi setelah hari itu, kau tetap terlihat senang, senyum tetap berada di wajahmu seakan tidak ada aku di pikiranmu, aku..”

Dia diam sejenak, dan ketika aku menyiapkan paku dan palu, aku bisa melihat paniknya, mencoba mengambil nafas untuk melanjutkan penjelasannya.

“Aku iri melihat senyummu! Saat itu diriku mabuk, dan teman-temanku mendapatkan ide ini ketika kita bertemu dalam gang kosong tersebut. Lalu aku tidak mengingatnya lagi, ya, tiba-tiba saja semuanya sudah terjadi! Aku sungguh menyesalinya Stephenie..”

John berbicara sambil menangis, tapi Stephenie tetap menatapnya benci dan jijik. Bahkan aku sendiri sudah begitu gatal mendengarnya, dia memperkosa dan membunuh Stephenie hanya karena alasan konyol tersebut?

“Aku selalu jijik padamu John. Aku tahu bahwa kau menatapku hanya demi nafsu semata, lalu setelah kau bosan maka kau akan bermain dengan pelacur-pelacurmu, dan bermabuk-mabukan yang merupakan kebiasaan mu. Itulah alasanku menolakmu. Gara-gara kau.. aku.. aku baru bisa bertemu James, belahan hatiku dalam keadaan menyedihkan seperti ini.”

Stephenie menggenggam tanganku, menggenggamnya erat sehingga membuat diriku dapat merasakan kepedihannya, amarahnya.

“Stephenie.. ah.. sudah dengan permainan ini, kau gila, maniak!”

John terlihat muak, dia berusaha membrontak namun tali tambang yang mengikat dirinya tak sekalipun longgar. Stephenie menatapnya penuh amarah, dia menarik bajuku sambil menunjuk pada John.

“Bunuh dia sayangku, bunuh dia! Oh tuhan, aku ingin dia merasakan seburuk-buruknya siksa sebelum tuhan menjatuhkannya ke neraka...”

Stephenie berteriak, dan ekspresi John sangat terlihat sangat ketakutan.

“Lalu kau foto dia di saat-saat akhir. Aku ingin melihat ekspresinya, ekspresi jiwa yang melihat kengerian tersebut.”

“Stephenie...”

Saat itu raut ekspresi Stephenie menjadi sangat mengerikan, diikuti dengan matanya menghitam. Aku tidak menyangka bidadaraku ini memiliki kemarahan yang melebihi diriku sendiri, bernafsu untuk membuatku menyiksa pria ini dan bahkan memiliki keinginan untuk mengabdikan momen tersebut. 

Tapi aku mengerti amarahnya, dan aku ingin membuat Stephenie puas, bahwa diriku, kekasihnya, dapat melampiaskan isi hati Stephenie yang penuh dengan gejolak tanpa bisa melakukan apa-apa.

“Tentu saja, Stephnie..”

Aku mengambil kawat-kawat, hukuman yang berbeda dengan yang kulakukan pada temannya.

John menangis, kencing keluar dari celananya, persis dengan apa yang terjadi pada mereka yang sebelumnya kusiksa. Kawat-kawat tajam ini kupaksa masuk ke dalam kuku-kuku John, dan rencananya aku akan memasukan kawat-kawat ini di segala tubuh John sehingga terbentuk kerangka seperti boneka jerami. Tentunya hidup-hidup. Lalu akan kutarik kelaminnya seperti apa yag kulakukan pada Daniel sebagai pengakhir hingga ia mati kehabisan darah. Hati-hati sekali sehingga ia tidak mati karena shock, hati-hati sekali sehingga ia bisa berteriak sekeras-kerasnya, sehingga akan terasa nikmat sekali rasa sakit tersebut.

“James...”

Stephenie memanggilku, dan aku menatapnya. Dia tersenyum sambil menangis, dia seperti telah merasakan kelegaan dalam batinnya.

“Terima kasih.. Aku sungguh mencintaimu, sungguh-sungguh mencintaimu.”

Hatiku berbunga-bunga, rasanya aku telah melayang kesurga.

Oh, Stephenieku, aku lebih-lebih mencintaimu.

Ketika itu aku kembali melakukan pekerjaanku, menyiksa John. Setelah hari yang melelahkan ini, tak sabar aku merasakan tubuh Stephenie yang katanya merupakan bukti cintanya padaku, ah, aku benar-benar tak habis pikir. Bisa-bisanya pikiranku melayang-layang ketika pekerjaan ini masih belum selesai, kupikir, masih 50 kawat lagi.

***

Aku berbaring di sebelahnya, lelah setelah segala kenikmatan manusiawi tersebut, ketika daging indahnya denganku saling bersentuh, ketika kedua kalbu menjadi satu. Dia tersenyum menatapku, diberinya tangannya pada wajahku. Kupegang tangan tersebut, kucium dirinya.

“Aku masih ada satu permintaan, bolehkah?”

Suaranya kini kembali sedih, aku bertanya-tanya apa yang salah?

“Apapun Stephenie, apapun.”

“Ayah dan ibuku.”

Ayah dan ibunya? Aku bisa melihat kesedihan mereka yang tulus, dalam, dan rasa ingin mengabdikan momen terakhir tersebut merupakan hal yang nyata. Aku tak habis pikir mengapa Stephenie menginginkan nyawa mereka.

“Aku tak ingin kau menyiksanya, dan aku ingin kau membawaku ke rumah tersebut.”

Aku ingin tahu, tapi tak bisa menanyakannya. Dia pasti memiliki keinginan tersendiri mengapa kini dendam mengarah pada ibu dan ayahnya. Tapi aku tak meragukan Stephenie sedikitpun, dia pasti memiliki alasan yang masuk akal.

Ah, tidak, tak masuk akalpun Stephenie tetap benar. Karena aku mencintainya, dan cinta tak pernah masuk akal.

***

Malam hari, tak ada satu nyawapun yang berjalan dalam perumahan ini. Kini diriku membawa gerobak dengan peti berisikan Stephenie. Lalu kuketuk rumah tersebut, terus dan terus hingga lampu menyala dari atas. Aku telah membawa pemukul kasti, siap untuk melumpuhkan mereka.

Nona Boulavard, ibu Stephenie membukakan setengah pintunya dengan rantai pengaman. Dia masih terlihat mengantuk, dan kaget bahwa tamu di depannya merupakan diriku.

“Tuan James?’

“Nona..maksudku ibu mertua.”

Dia bingung, dan kebingungan tersebut kujawab dengan mendobrak pintu tersebut. Dia terjatuh, dan pria itu muncul dengan pistolnya, baru turun dari tangga dan menyadari bahwa keputusannya membawa pistol adalah keputusan yang tepat.

Saat ia masih terlihat ragu dan memutuskan untuk segera menekan pelatuknya, segera kulemparkan pemukul kasti tersebut yang tepat mengenai tangannya, dan diikuti tertembaknya pistol tersebut keatas. Kudorong tubuhku padanya hingga dia menabrak tembok begitu keras. Aku yakin, dua-tiga tulang rusuknya patah saat itu.

“Mengapa kau melakukan ini anak muda?”

“Maafkan aku ayah, tunggu sebentar.”

“Ayah? Apa kau gila?”

Aku membawa masuk peti, dan kubuka tutup peti tersebut. Mereka terkagetkan oleh wujud Stephenie, menatap mereka dengan sedih. Saat Stephenie berbicara, suaranya terisak-isak bercampur dengan rasa tangis.

“Kenapa kalian tidak memberitahukan polisi perihal diriku? Ayah, ibu?”

Kedua orang tuanya kehabisan kata-kata, mereka menatapku penuh dengan rasa heran, sekali lagi seperti John saat itu.

Aku segera menondongkan pistolku pada mereka, mengancam bahwa mereka tidak menjawab Stephenie maka diriku akan menembak salah satu dari mereka.

“Karena dia..ah maaf, maksudku kau mati dengan cara yang memalukan Stephenie.”
Sang ayah angkat bicara dengan suara penuh sesal, dan sang ibu menangis.

“Kau diperkosa nak, dan akulah yang pertama menemukanmu di gang kecil tersebut, bertelanjang tanpa nafas dengan cairan-cairan pria pada tubuhmu. Aku bersyukur pada tuhan, sungguh bersyukur, bahwa setidaknya aku bisa membuat kepergianmu tanpa aib, aib yang akan melekat pada dirimu setelah kau mati!”

Stephenie menangis, tangisnya meraung-raung. Lalu hal yang mengerikan terjadi, dia kemudian tertawa terkikik-kikik, kedua orang tua tersebut terlihat ketakutan setengah mati.

“Lalu kau setuju padanya Ibu? Tahukah kau bahwa aku sedang dalam perjalan kerumah untuk menjengukmu yang sakit..”

Dia menatap sang ibu, dan sang ibu menangis semakin kencang.

“Padahal kau tahu jika saja kau melihat gang tersebut.. John, Daniel, dan Steven selalu bermabuk-mabukan di tempat tersebut.”

“Kau tahu bahwa aku orang tua.. kau tahu bahwa aku takkan..”

Belum selesai sang ayah bicara, suara pistol yang begitu keras membuat dia terpaku. Sang ibu mengambil pistol disebelahnya yang terjatuh dari tangan sang ayah barusan, menembakannya ke kepala.

“Tidak! Oh sayang.. oh sayang..”

“James..”

Stephenie memanggilku, tanda bahwa aku harus mengeksekusi sang ayah. Suaranya serak oleh tangis, kematian sang ibu sepertinya membuatnya sangat berduka. Saat itu sang ayah bersujud minta ampun pada anak gadisnya.

“Aku telah banyak pergi ke gereja, aku telah banyak menyumbang setelahnya, lalu..lalu.. aku berencana bersama ibumu untuk merawat anak yatim. Sungguh mulia sekali bukan? Aku berusaha menebus dosaku..”

“Kau bilang semua ini adalah demi menutupi aibku agar diriku tenang di surga? Aib diriku?! Oh ayah, anak gadismu diperkosa! Jika kau ingin aku tenang, maka kau seharusnya menegakkan keadilan untukku, memberi hukuman pada orang-orang yang melakukan ini pada anakmu..”

Stephenie tak bisa menahan tangisnya, dia berhenti melanjutkan omongannya. Dia menangis menjadi-jadi seperti anak kecil yang kecewa, dan sang ayah hanya menatap lantai penuh sesal, terdiam. Saat itu tiba-tiba Stephenie menyeka air matanya, memantapkan dirinya dan menatap ayahnya dengan penuh amarah.

“Tatap mataku ayah!”

Sang ayah menatap mata anaknya, dan aku bisa melihat kengerian dari matanya, melihat mata Stephenie yang kini menghitam, diikuti raut mukanya yang penuh amarah. 

“Aku tahu semua ini hanya demi egomu, harga dirimu.. Apakah dunia hanya berupa harga diri bagimu? Lihatlah Ibu tadi, dia pasti sangat tersiksa, dipaksa ikut bersamamu dalam permainan ego sialan tersebut.”

Sepertinya diskusi mereka telah selesai. Perlahan aku segera menarik pelatuk di kepalanya, dan dia menangis tersedu-sedu, tapi seketika itu juga aku melihat cahaya pada matanya seperti ia mengingat sesuatu.

“Oh! Stephenie, aku mendengar berita bahwa mereka telah ma.. Aghh!!”

Bah, aku meleset. Peluru melewati pelipisnya, selanjutnya tak akan salah lagi.

“Stephenie!!”

Dan tembakan selanjutnya tidak meleset.

“James..”

 Stephenie menyuruh diriku mendekatinya, dan ia cium diriku.

“Bisakah kau potret diriku bersama kedua orang tuaku?”

Ketika itu aku menyeret tubuh kedua orang tuanya, kepala mereka cukup berantakan saat itu. Aku meletakkan mereka di atas kursi, dan juga Stephenie. Lalu kupotret, foto keluarga baru dengan Stephenie di tengah-tengah, tersenyum dengan sedikit air mata mengalir pada pipinya, seakan dengan kematian ini Stephenie memaafkan dosa mereka.

***

Hari-hari kulewati dengan bahagia bersama istri baruku. Pada pagi hari kita mandi bersama, pada siang hari kita mengobrol lama sambil kulantunkan lagu yang ia suka, pada malam hari kita menari dan bercinta. Kadang aku menghiasi bunga-bunga kesukaannya pada kamar kita, kadang aku membawanya secara diam-diam keluar menuju taman kosong yang sudah ditinggalkan pada malam hari, melihat bintang-bintang bersinar, dan kami kembali bercinta saat itu, ditemani bunyi-bunyi alam juga disaksikan rembulan.

Aku sungguh mencintainya, dan aku sungguh bersyukur tuhan telah menemukan kita.

Saat itu dia mulai meminta banyak hal padaku, teman yang dengki padanya, bos yang kasar padanya, seseorang yang suka menggodanya dan menganggu dirinya, ibu-ibu yang suka menggosipkan dirinya, dan banyak hal lainnya. Lalu ia minta diriku memotret pada akhir momen mereka seperti apa yang kita lakukan sebelumnya dengan Stephenie di tengah-tengah mereka, tersenyum penuh kepuasan.

Stephenie saat itu semakin terobsesi dengan kegiatan ini, dia mulai melakukan berbagai variasi dalam melampiaskan dendamnya. Kadang Stephenie menyuruhku memasangkan kostum pada mereka, lalu memukuli mereka dalam kostum anjing di dalam sangkar dan memotretnya. Pernah dia juga memintaku memotong tangan dan menjahitkan lengan mereka pada badan mereka, menempelkan bulu-bulu ayam yang kutempeli lewat lelehan lilin, lalu dijahitnya paruh ayam pada bibir mereka, membuat mereka persis seperti seekor ayam jadi-jadian.

Ketika kutanya alasan Stephenie melakukan ini, dia hanya menjawab bahwa ini semua merupakan simbolis dari dosa-dosa yang mereka lakukan padanya.

Kadang dengan ilmu mengawetkan mayat, ia menyuruhku membuat trofi mereka, dan menaruhnya di bawah tanah. Ada saat dia akan meminta untuk kebawah, lalu  Stephenie akan menceritakan ingatan-ingatan dirinya mengenai trofi-trofi tersebut, dan dia akan tertawa setiap kali mengakhiri kisahnya.
Namun, tiba-tiba terdapat sesuatu yang menganggu rutinitas kita. Berita soal-soal mayat yang mati mengenaskan, isu pembunuhan berantai. Pergerakanku mulai terbatas karena banyaknya patroli, dan kadang aku tidak bisa memenuhi keinginan Stephenie. Hal tersebut membuatnya marah. Kadang dia berkata bahwa dia benci padaku karena hal tersebut dan bahkan tidak ingin berbicara padaku satu hari penuh, membuatku benar-benar tersiksa karenanya.

Kini diriku sedang merencanakan bagaimana caranya meminta maaf pada Stephenie, memberinya kejutan saat akhirnya diriku mampu mewujudkan satu keinginannya. Namun dalam renungku saat ini sesuatu yang tidak terduga terjadi, sesuatu yang lama tidak terdengar di rumah ini, suara ketukan pintu.

“Pak James?”

Ketika kuintip, seorang berseragam polisi berada di depan rumahku. Segera kubawa Stephenie ke kamar, dan kusembunyikan di dalam lemariku. Aku meminta maaf padanya, dan menyuruhnya bersabar. Setelahnya aku segera menjawab polisi tersebut.

“Maaf lama menunggu pak petugas..”

“Oh tidak, saya yang seharusnya minta maaf. Maaf bapak James, perkenalkan, nama saya Donny Hilman, detektif dari kepolisian, dan saya ingin meminta ketera...”

Detektif tersebut terdiam, dia mulai mengendus-ngenduskan hidungnya.

“Apa saya mencium bau busuk disini?”

Sang detektif masuk tanpa menunggu izinku, dia mencondongkan kepalanya mencoba mencari sumber bau.

“Maaf pak, sepertinya ada tikus mati. Apa bapak ingin kopi?”

“Oh ya, tolong.”

Aku segera mengantarkannya ke ruang tamu, menyuruhnya duduk dan menyiapkan kopi. Dia makin merasa risih, mengeluh baunya semakin parah dan memintaku membuka jendela. Saat itu dia menjelaskan padaku soal penyelidikannya yang mengarahkannya kesini.

“Bapak James, kupikir kau sangatlah berbakat, aku telah melihat foto keluarga almarhum. Anak mereka terlihat sangat hidup, terutama pada matanya, dan aku tahu hanya orang-orang berbakat yang mampu menangkap momen tersebut, menangkap sisa-sisa jiwa tersebut.”

“Jika kau butuh jasaku, kau tahu tempatnya.”

Aku berusaha menjawab sekasual mungkin, berusaha tidak grogi yang menciptakan kecurigaan.

“Tapi kau tahu?”

Suaranya serius, dia segera menyeruput kopi yang kuberikan padanya.

“Foto itu yang membawaku kesini. Kau tahu pembunuhan berantai yang sedang populer kini? Semuanya terkait dengan Stephenie..”

Keringatku keluar, dan kutelan ludahku.

“Saat itu..”

Aku bisa menebak, dia memeriksa kuburan yang kosong, lalu mengkaitkannya dengan bau busuk ini.

“Maaf pak, bolehkah saya ke belakang sebentar?”

“Oh, tidak apa.”

Aku meminta alasan untuk ke kamar mandi, namun sesungguhnya aku ingin mengambil pisau yang telah kuasah untuk skenario terburuk. Aku tahu, detektif tersebut mencurigaiku, dan beberapa kata lagi maka dia telah sampai kesimpulan bahwa akulah pelakunya.

“...”

Saat aku berjalan kebelakang dan mengambil pisauku, aku mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. Pria tersebut telah berjalan mencari sumber bau tersebut. Aku tahu, detektif pasti mengetahui benar bau busuk manusia. Tinggal menemukan badan tersebut, dan dia telah menemukan sang pelaku. Aku juga yakin bahwa dia telah mengeluarkan pistolnya.

Aku berjalan perlahan, dan kulihat bahwa kamarku dan Stephenie telah terbuka.

“Cantik sekali..”

Aku tak menyangka suara tersebut keluar. Sang polisi telah membuka lemariku, dia terpaku oleh kecantikan bidadariku. Aku marah, dia milikku, tak boleh ada seorangpun yang boleh melihatnya!

“HIAAAAAA!”

Aku berteriak sambil mengeluarkan pisauku, berlari untuk menghunuskan pisau tersebut.

“Agh!”

Tapi tiba-tiba peluru menembus perutku, keluar dari moncong pistol revolvernya yang tentu saja lebih cepat daripadaku. Aku kalap saat itu, kemarahan membuatku terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk menyergapnya, bodoh sekali. Dia kemudian terkagetkan oleh suasana kamar ini, banyak foto yang terpajang, foto-foto orang mati mengenaskan dengan Stephenie di antara mereka.

“Tak kusangka..”

Dia terlihat tidak percaya. Membiarkan diriku yang bersimbah darah, dan tidak berdaya di lantai. Dia mengambil rokoknya, menyalakannya, menghirup dan melepaskan asapnya untuk menenangkan diri. Dia berjalan menuju tubuh Stephenie, sambil melanjutkan omongannya.

“Setelah melihat fotomu di rumah sang orang tua, aku bertemu dengan gadis ini dalam mimpi, berkata padaku untuk menolongnya, bahwa dia disergap dan diperkosa setiap oleh seorang maniak. Aku hanya memeriksa ini karena sudah kehabisan petunjuk, dan tak kusangka bahwa semua ini benar.”

Hatiku rasanya remuk saat itu, terkhianati, dan tangisku keluar. Bagaimana mungkin? Bukankah kita adalah jodoh, belahan jiwa, insan yang ditakdirkan untuk bersatu.

Stephenie.. mengapa?! Apa karena kau marah padaku? Apa karena aku tak cukup bagimu? Hanya karena itu semua?

Tidak.. tidak mungkin, aku tidak percaya Stephenie melakukan ini semua. Detektif ini pasti hanya berhalusinasi.

Ya, Stephenie takkan mungkin melakukan itu semua.

Aku takkan sedikitpun meragukanmu Stephenie, karena aku percaya akan kekuatan cinta, yang tidak memisahkan kita yang terpisah antara hidup dan mati.

“...!”

Lalu sang detektif seperti terlihat tertegun, dia kaget melihat sesuatu pada Stephenie. Aku bisa melihat bibir Stephenie bergerak, mengucapkan sesuatu padanya dan aku tidak bisa mendengarnya.

“Kau...”

Dia terlihat marah, murka lebih tepatnya. Dia kemudian mengarahkan pistolnya padaku, dan segera menarik pelatuknya. satu demi satu peluru ditembakannya dengan perlahan ke sekujur tubuhku, bukan pada tempat yang vital. Kemudian dia keluarkan isi pelurunya, mengisinya lagi 6 peluru satu persatu-satu, dan menembakannya lagi.

Lalu pada momen akhir tersebut aku melihat Stephenie berbisik pada pria tersebut. Aku mencintaimu sebutnya, dan sang detektif tersebut menciumnya. Brengsek.

Lalu kupikir hanya diriku yang gila disini, mencintai seonggok mayat.

Gila, Hahaha...
Haha...
Ha...
...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar