Sabtu, 11 Maret 2017

Simfoni Cahaya Bulan - Chapter 12.5

Chapter 12.5 : Aslan Grief

Cahaya remang mulai masuk melewati jendela bermosaik di aula yang sebelumnya dirombak menjadi tempat pengadilan. Lantai kotor, berbau muntah, penuh dengan sayur-sayuran yang dibuang Cuma-Cuma, batu-batu kerikil yang dibawa dari luar, dan darah. Di tangga panggung, Aslan duduk sendirian disana sambil mengepalkan tangannya, menaruhnya di dagu, menekuk wajahnya.
Bayang-bayang memilukan memenuhi kepalanya. Seorang ibu yang sudah tidak berdaya, seorang anak yang bersimbah darah yang hampir dibuat babak belur seperti ibunya. Dia melihat badannya yang kekar kini penuh dengan lebam biru ketika melindungi anak tersebut, walau sakit, tapi tak sesakit perasaan yang kini mengaung dalam hatinya.
Dia merasa, baru saja melakukan kelalaian, yang membuat dua orang tidak bersalah ini teraniaya karenanya.
Baru saja dia berdebat dengan warga desa, bahkan mengeluarkan janji kosong untuk membawa dokter yang mampu menyembuhkan wabah di desa ini. Pikirannya juga dipenuhi dengan kejadian yang menahan dirinya pergi ke pengadilan, kapalnya yang lepas secara misterius berlabuh sendirian di lautan terhempas angin darat membuatnya harus memprioritaskan mata pencahariannya dalam ancaman karam, dan hal ini membuatnya begitu malu karena ia tidak berpikir jauh bahwa kebencian warga desa sudah jauh di luar nalar, dan perasaan yang tertinggal adalah seakan ia mengorbankan harga dirinya, kode moral yang ia pegang selama ini.
Pintu terbuka, angin kencang masuk bersama salju dan sosok berjaket tebal, sebelum sosok tersebut menutup lagi pintu besar tersebut dengan punggungnya, angin meniup tudung tersebut, membuat rambut yang tersembunyi dalam tudung tersebut terurai. Aslan mengenali rambut panjang hitam itu adalah milik istrinya seorang.
"Aslan... kau tidak apa?"
Istrinya, Selena, melihat badan Aslan yang sama lebamnya dengan anak yang diantarkan ke rumahnya oleh kru suaminya. Tapi hatinya lebih sedih melihat wajah suaminya itu, yang terlihat begitu bersalah. Seumur-umur pernikahan mereka, dia tidak pernah melihat sosok yang hidup penuh dengan kebanggaan ini terlihat penuh dengan beban dan kesal seperti ini.
Selena pun berjalan, duduk disamping suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya, bertanda bahwa tidak baik-baik saja.
"Kau lihat tempat ini, baru saja seorang ibu dipukul dan ditendangi di hadapan anaknya. Baru saja tergelinang darah seorang anak yang tidak bersalah disini."
"Aslan..."
"Kau tahu apa yang anaknya katakan kepadaku saat itu? Mereka yang mampu melakukan dan membiarkan sesuatu yang mengerikan seperti ini adalah monster. Dan umurnya tidak lebih tua dari Hammond anak kita."
Selena diam, tidak tahu harus berkata apa. Suaminya saat itu menengok kepadanya, dan ia menatap tatapan sedih suaminya itu, tatapan asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya di mata suaminya.
"Bisa kau bayangkan Selena, ketika kita dipilih untuk memotong tangan kiri atau tangan kanan, bukankah wajar untuk memotong tangan kiri kita?"
Selena hanya bisa mengangguk. Suaminya pasti sedang bersedih dengan keadaan keluarga Lenard yang kini dirawat di rumah mereka pikir Selena. Disini dia sedang berdebat dalam dirinya sendiri, untuk melakukan pembenaran atas perbuatannya, ataupun menanggung kesalahannya sendiri. Dia tentu tidak ingin suaminya menanggung beban ini, dia ingin suaminya berpikir bahwa pilihannya benar, untuk mengorbankan tangan kirinya demi tangan kanan dominannya yang berharga, dia tidak berbuat apa-apa untuk keluar dari eksekusi tersebut.
"Kau tidak salah Aslan...kau sudah berusaha sebaik-baiknya..."
"Oh Selena, akan tetapi sama sakitnya apapun keputusanku, aku akan tetap menyesalinya."
"Tidak Aslan, kau haru—"
Tiba-tiba Aslan memegang tangan istrinya, wajahnya memerah dengan ekspresi marah.
"Aku mengorbankan harga diriku, pegangan hidup yang terus kupegang selama ini? Seakan... seakan nilai-nilai kehormatan yang kupunya..."
Selena mendengar itu langsung memeluk suaminya. Entah mengapa dadanya menjadi sesak. Dia tidak pernah melihat suaminya seputus-asa ini. Dia sadar bahwa ekspresi marahnya adalah kemarahan terhadap dirinya sendiri. Selena takut Aslan mulai membenci dirinya sendiri.
"Jangan pernah bilang seakan-akan kau sudah kehilangan segalanya Aslan..." Selena melepas peluknya, Aslan saat itu menyadari istrinya sama ikut menangis bersamanya, "Kau masih memiliki keluarga yang menunggumu di rumah, kau masih punya aku, dan keluarga Lenard yang kau merasa bersalah karenanya, mereka masih membutuhkan bantuan kita. Jangan bilang seakan-akan kau telah mentelantarkan mereka, ataupun mentelantarkan apa yang telah kau pegang teguh selama ini."
Aslan melihat istrinya sama bersedih seperti dirinya.
"Maafkan aku Selena..."
Selena menggelengkan kepalanya.
"Tidak Aslan, jika bisa, aku juga ingin merasakan apa yang kau rasakan, aku ingin tahu beban yang kau pegang selama ini." Selena tersenyum lagi, menyeka air matanya, "Kau selalu terlihat menjadi tokoh figur yang menganggumkan, di mataku, di mata anak-anak, dan juga warga desa. Seakan tak ada masalah yang tak bisa kau selesaikan. Tapi melihatmu kini, aku menjadi tahu bahwa terdapat sisi yang belum kulihat dari dirimu Aslan. Dan aku ingin, jika kau memiliki beban berat di punggungmu, aku ingin bisa menampung beban itu bersama."
Ketika Aslan mencium bibir istrinya, seakan dia menemukan pengampunan disitu. Selena mendorong suaminya dalam wajah memerahnya. Dia lalu menunjukan keranjang berisi sayur dan ikan yang ia taruh di sampingnya.
"Mereka di rumah pasti sedang kelaparan."
Lalu menarik tangan suaminya, keluar dari ruangan kelam ini.

Jumat, 10 Maret 2017

Simfoni Cahaya Bulan - Chapter 12

Chapter 12: New Home
Ketika kubuka mataku, malaikat bisu ada disebelahku, menggenggam tanganku erat sambil air mata mengalir dari pipinya. Badanku lelah, terbangun dari mimpi yang lama dan asing. Suara asing terngiang di kepalaku: Lawan, lawan dia! Mimpi yang terasa begitu nyata, begitu aneh, bagaimana aku berada dalam tubuh lain, dunia yang lain. Mencoba mengingat lagi, hanya gambar-gambar yang buyar, malaikat, burung, sisik, bayi, rasa sedih? Dan yang jelas suara asing itu.
Mencoba mengingatnya membuat kepalaku pusing, mencoba melihat sekitar dan ternyata pandanganku buram. Ini dimana? Duh! Kepalaku sakit, perih.
Sensasi ini...
Kupegang kepalaku, dan ternyata terdapat perban yang membalut kepalaku. Ah, kepalaku baru saja terbentur batu, dan ibu? Ibu!
"Ibu!"
Aku membangunkan badanku, dan aku merasakan nyeri luar biasa.
"Racke... jangan langsung bangun begitu, sini minum obatnya."
Suara wanita dewasa, tapi bukan suara ibu.
"Ibu dimana?"
"Ibumu baik-baik saja, sini."
Tiba-tiba sosok itu dekat, membantuku menyender di bantal. Aku mulai sadar bahwa aku tertidur di sofa, di ruang yang asing. Sosok yang buyar itu juga kini mulai jelas. Sosok wanita yang cantik, rambutnya panjang hitam yang diikat melewati bahu kanannya. Dia menyuapiku obat, pahit!
"Uek!"
Aku seakan ingin melepehnya, membentuk ekspresi jijik, tapi tertelan juga. Wanita ini tertawa kecil melihat tingkahku, dan aku langsung menekuk wajahku malu. Entah mengapa.
"Kau tahu nak, semakin pahit, semakin cepat sembu—"
"Ibu, aku ingin ketemu ibu!"
Aku menengok ke kiri dan ke kanan tidak ada ibu. Aku menyeka mataku, dan semakin hilang buyar. Kulihat kejauhan, dan terdapat dua anak, mungkin seumuranku? Mengintip dibalik pintu yang terbuka.
"Nanti kalo Racke sudah baikan tante anterin ke ibu Racke, sekarang Racke istirahat."
"...Monster."
Dari kejauhan kudengar bisik "Monster" dari arah pintu tempat mereka mengintip. Wanita disebelahku menatap marah ke arah pintu tersebut.
"Clara!"
"Monster!"
Setelah berteriak, anak bernama Clara kemudian berlari menjauh. Wanita tersebut meminta maaf atas perbuatan anaknya, dan aku hanya diam. Entah mengapa aku merasa pernah melihat anak tersebut, mungkin yang sering bermain di depan teras? Walau demikian anak laki-laki disebelahnya masih berdiri di tempatnya, masih melihatku.
"Hammond, sini."
Anak bernama Hammond itu kemudian berjalan perlahan mendekatiku.
"Ini anakku Hammond, dan nama tante Selena. Dan yang kecil tadi namanya Clara. Sedangkan suamiku Aslan..." Tiba-tiba saja dia menelan ludahnya, aku melihat wajahnya sedikit pucat, "kini sedang berurusan dengan warga desa."
Aku hanya mengangguk dalam diam. Apakah aku dan ibu membuat mereka kini berada dalam masalah? Apakah aku harus meminta maaf? Berterima kasih? Pikiranku kosong, dan dalam bayanganku hanya ada ibu, ibu, dan ibu. Ibu kau dimana? Apa yang harus kulakukan.
Suasana terasa aneh dengan nyona Selena dan anaknya terdiam di hadapanku, aku merasakan kegelisahan di antara keduanya.
"Emm... Racke?"
Tiba-tiba Hammond berbicara, dan aku menengok perlahan padanya dalam rasa grogi luar biasa. Aku tak pernah bicara selain orang selain ibu.
"Boleh... aku pegang tandukmu?"
***
Sudah 30 menit, dan Hammond masih memegang-megang tandukku, dan kemudian menggoreskan pensil ke lembar kertas. Aku hanya diam setelah membolehkannya memegang tandukku. Nyonya Selena saat itu sudah pergi ke tempat suaminya, dan Clara berada di depan pintu kamar, masih mengintip-ngintip ketakutan.
Melihat Clara dan tatapan ketakutannya, aku menjadi ingat perasaan ketika tidak sengaja melihat seorang yang masuk teras rumah, dan berteriak menatapku. Matanya persis seperti itu, tatapan melihat monster, dan seakan sesuatu dalam dadaku yang telah kupedam lama meledak, entah dalam rasa sedih atau marah, perasaan bercampur-campur itu begitu menyiksa. Entah mengapa aku kini tak merasa seaneh itu lagi, kecuali sedih, dan ketidakberdayaan, seakan aku telah menerimanya setelah kejadian di tempat ibu tadi diadili.
"Hammond, menjauh darinya!"
"Clara! Mau kujitak kepalamu!?"
Clara mengeluarkan lidahnya, entah maksudnya apa? Tapi kulihat Hammond merasa kesal, dan memperlihatkan kepalnya, membuat Clara kabur. Ketika Hammond fokus menggambar lagi, Clara mengintip lagi.
"Racke, maafkan adikku."
Aku mengangguk, tapi tak bisa menjawab "Tidak apa." Seakan ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokanku.
"Kukira tak ada yang aneh dengan tandukmu, aku melihatnya unik bahkan..." Hammond terdiam sebentar, "Keren malah."
"..."
Aku diam dan diam, dalam rasa diam yang aneh bukan yang tadi-tadi, ada perasaan yang aneh di dadaku. Senang? Lebih dari itu.
"Tapi orang-orangnya melihatnya sebagai bencana, entah apa yang ada di pikiran mereka. Maksudku, tidak pernah ada yang memilih bukan kita menjadi seperti apa? Aku tiba-tiba saja menjadi aku, dan kau yang memiliki tanduk, aku pikir kau tidak memilih untuk memiliki tanduk. Jadi ini bukan salah siapa-siapa..." Dia diam sambil menghapus liku-liku di antara tandukku yang kini ia gambar, dan melanjutkan lagi, "Jika ada yang mau disalahkan, yah tuhan yang salah bukan?"
Aku hanya bisa mengangguk.
"Dan bagaimana bisa mereka kesal pada mahluk ciptaan tuhan, yang mereka elu-elukan?"
"...em, terima kasih."
Wajahku memerah. Perasaan senang, yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Suatu penerimaan, yang bahkan tidak pernah ibu lakukan padaku.
"Kakak nanti kakak sakit!"
Dan tiba-tiba Clara sudah ada di belakang Hammond, menarik bajunya. Ketika itu Clara tiba-tiba saja memandangku, dan mata kita berdua bertemu.
"Huaaaa, kakak, aku lihat lagi matanya!"
"Maafkan Clara yah Racke, dia dengar cerita anak-anak jadinya seperti itu. Dan omong-omong, tandukmu ini unik sekali, bukan tanduk kambing, ataupun rusa, sebagaimana deskripsi beastman kebanyakan..." Mendengar kata beastman jantungku seakan meloncat, seakan teriakan orang di aula kembali terdengar, beastman! Beastman sialan! Dan Hammond memegang mulutnya seakan tersadar apa yang ia ucapkan, "Ah maaf, aku tidak bermaksud menyamakanmu dengan beastman."
"...Tidak apa...apa..."
Lalu kudengar pintu terbuka.
"Ibu pulang!"
"Ibuuuu!!!"
Clara berlari ke arah ibunya, dan tinggal aku berdua dengan Hammond. Aku ingin sekali bicara dengan Hammond, tapi apa...
"...Kambing, seperti apa kambing itu?"
"Kau tidak tahu kambing?"
Aku menggelengkan kepalaku, dan Hammond tertawa kecil. Lalu dia bercerita tentang hewan itu, yang memakan rerumputan, berbulu, yang menghasilkan susu, walau tidak sebanyak sapi tapi tidak kalah enak. Berbau tidak enak, tapi katanya untuk menarik betina. Dagingnya enak, tapi bau amis kalau tidak dimasak dengan bumbu. Tanduknya melekuk ke belakang, namun di beberapa tempat beragam juga liku-likunya. Matanya kotak, dan giginya hanya dibawah panjang-panjang.
"Benar kau tak pernah lihat?"
"Hanya di buku."
"Jadi kau tahu?"
"Aku..." Aku hanya ingin mencari bahan pembicaraan, "Aku lupa."
Dan Hammond bercerita tentang sapi, rusa, dan lainnya menghentikan gambarnya. Dan tiba-tiba tercium bau harum, dan pintu terbuka. Aslan datang, dan kembali suara kaki kecil Clara terdengar berlari menuju ayahnya. Aslan yang melihatku mengobrol dengan anaknya Hammond tersenyum, mengelus kepala anaknya, dan pergi ke arah dapur.
"Ayo makan dulu semuanya! Hammond, bisa bantu Racke kesini?"
Hammond mencoba membangunkanku, dan kulihat tubuhku dipenuhi lebam. Aku tidak ingat apa yang terjadi selain kepalaku terbentur, tapi jelas orang-orang telah melampiaskan kekesalannya padaku. Di meja makan, aku melihat juga lebam-lebam di tangan dan wajah Aslan. Apa dia melindungiku?
"...Maaf..." Aku ingin meminta maaf, tapi sesak, aku berbicara seperti berbisik.
"Apa Racke?" Hammond yang mendengarku tiba-tiba berbicara, membuat semuanya beralih melihatku.
Aku menggelengkan kepalaku entah mengapa, tapi dadaku sesak.
"Aku tahu ada yang kau tahan Racke, ucapkan, jika itu membuatmu lega."
Aslan seakan tahu ada yang mengganjal dalam diriku. Lalu kukepalkan tanganku, aku harus bicara, ibu, aku harus bicara bukan?
"Maafkan aku, dan juga ibu... Aku pasti membawa masalah." Aku berbicara tersebut sambil melihat Aslan, dan Aslan hanya tersenyum walau terliha sedih di matanya, mengeluskan kepalaku.
"Aku yang seharusnya minta maaf, karena tak bisa melindungi kalian berdua dari ketidakadilan tadi."
"Sudah, sudah..." Nyonya Selena menaruh piring dan menuangkan sup, dan kulihat sup itu seperti sup yang ibu buat kemarin, sup ikan. "Lanjutkan lagi pembicaraan setelah makan."
Aslan kemudian mempin doa, sesuatu yang tak pernah ibu lakukan. Setelah berdoa, semuanya memakan lahap makanan mereka. Saat itu, aku menjadi ingat ibu, sup ibu, ibu yang kemarin hanya makan sedikit, yang ia berikan banyak padakku. Dimana dia sekarang? Apa ibu sudah makan?
Dalam bayanganku ibu sedang makan di hadapanku, dalam senyumnya, dalam setengah mangkuk itu. Lalu dia lihat mulutku yang belepotan, dan ia lap mulutku. Betapa senangnya ibu kemarin melihat anaknya dalam kenyang, walau ia hanya makan sedikit, yang mungkin masih berbunyi perutnya yang masih berteriak ingin. Ibu pasti sedih kalau aku tidak makan karena khawatir padanya. Dan aku segera melahap sup ini, juga roti disebelahku, benar-benar aku lapar, dan kupikir kini ibu tersenyum melihatku.
Enak.
Enak sekali ibu.
Dan aku tiba-tiba saja aku menangis, dan keluarga Aslan terdiam melihatku.
"Terima kasih..."
Seakan ibu menyuruhku mengucapkannya.
"Terima kasih..."
Dan aku mengucapkannya dua kali, seakan sekali saja tak cukup. Ibu, pertama kalinya aku sekenyang ini.

Senin, 06 Maret 2017

Simfoni Cahaya Bulan - Chapter 11

Chapter 11: A Cycle
Aku menutup kupingku, berjalan perlahan menyusuri lautan amarah dan makian di samping ibu yang dibopong oleh anak buah Aslan, lainnya melindungiku dengan pedang yang keluar dari sarungnya dari tangan-tangan yang ingin menarikku, memukuliku, dan meremukanku. Mereka tidak takut akan gertak pedang, mereka tahu tak mungkin anak buah Aslan mengibaskan pedang tersebut pada mereka. Akhirnya aku hanya mampu melihat ke arah ibu dalam rasa takut, menarik tangan malaikat bisu dengan erat, berjalan perlahan sambil menahan rasa tangisku. Aku ingin cepat keluar ibu. Mengapa pintu keluar terasa jauh sekali?
Orang-orang mulai melempar sesuatu, tomat, sayur-sayuran lainnya, dan anak buah Aslan mulai kewalahan. Seketika itu aku mendengar suara keras, pandanganku mendadak ke arah sumber suara itu yang kini menyentuh sepatu bootku. Batu.
"Hei!"
Aslan berteriak ke arah pelempar batu, menghampirinya.
Dan tiba-tiba aku terjatuh.
Perlahan muncul perih, rasa sakit.
"Racke!"
Kupegang kepalaku dan kurasakan sensasi basah, tanganku berlumuran darah.
"Lihat aku nak."
Aslan melihat mataku, menatapnya dalam-dalam. Kemudian dia merobek lengan bajunya, mengikatkan kain robek itu ke kepalaku. Tapi entah, aku lemas untuk berdiri kembali, lama-lama semuanya gelap.
"Kau akan baik-baik saja... oh tuhan."
...
***
...
Ini dimana?
Seketika rasa perih di kepalaku hilang, dan perasaanku dipenuhi oleh rasa sakit yang lain, perasaan yang janggal dan asing. Aku sadar, kini aku sedang bermimpi, dan aneh memang, bagaimana aku bermimpi dan sadar bahwa aku sedang mengalaminya? Seperti ketika kemarin itu aku bermimpi bersama malaikat bisu, senyata itu.
Kini aku berada di ruangan putih besar berbau aroma wewangian. Cahaya sedikit memasuki jendela, remang-remang cahaya dengan butir-butir debu yang melewatinya. Di dalamnya terdapat kasur besar, tertutupi oleh gorden putih, menyembunyikan suatu sosok yang tergeletak tidur di dalamnya. Aku tiba-tiba saja menatap ke arah kiriku, terdapat kasur bayi yang sunyi, dan hatiku terasa hancur entah mengapa, aku sungguh tak tahu.
Aku bergerak, dalam pasrah, mendekati kasur itu dalam kesedihan tak terelakkan. Kubuka gorden tersebut, dan kulihat sosok dibaliknya.
Wanita. Asing di pikiran, tapi perasaanku merasa begitu familiar. Dan dia bukan manusia, dan sepengetahuanku, bukan juga beastman. Rambutnya adalah bulu-bulu burung, putih, indah. Parasnya penuh kerut, kurus, tubuhnya dipenuhi oleh sisik, anehnya perasaanku mengatakan bahwa sosok di hadapanku ini begitu cantik, seakan tak ada kecantikan yang lain mampu menandinginya. Aku melihat sosoknya yang terlihat lemas segera mengelus kepalanya dalam rasa sayang, dan saat itu kusadari bahwa tanganku juga dipenuhi oleh sisik seperti wanita yang ada di hadapanku ini. Dan sosok wanita itu terbangun, dan aku seketika mengingat namanya, Aide, berarti cinta, puitis sekali.
"Aide, sayangku."
"...Anakku."
Dia memegangi perutnya yang kini telah kempis. Ingatan yang tiba-tiba muncul di kepalaku mengatakan perutnya berisi beberapa hari yang lalu.
"Anakku? Dimana anakku."
Pandangannya mengarah pada kasur bayi, yang diatasnya berputar mainan dengan bunyi lonceng yang menenangkan. Selain itu sepi, dan ia memandangiku, dengan pandangan penuh harapnya.
"Elnal, anak kita, itukah anak kita Elnal?"
Elnal? Siapa? Ah, ya itu aku. Dan aku mengangguk, dalam penuh kesedihan misterius yang entah mengapa kucoba sembunyikan kepadanya.
"Tolong sini bawakan dia ke ibunya, sini, tolong aku Elnal."
Dalam perasaan sakit hati aku berjalan menuju kasur bayi itu, dan kulihat terdapat sosok yang diam, lemas, tak bergerak, bernafas dalam sunyi. Sosok itu seperti ibunya, putih, ditutupi bulu-bulu kecil yang membuatnya hangat. Dalam selimut tipis yang menutupi badannya.
"..."
Tapi dia tidak normal, dia tidak hidup, tidak ada nyawa di dalamnya. Melihatnya langsung aku berkonklusi seperti itu, pikiran yang sekejap muncul begitu saja. Aku kemudian mengangkat bayi itu dengan kedua tanganku, menggendongnya dengan lembut, dan perlahan membawakannya ke ibunya, ah, istriku, Aide.
"Anakku... oh anakku."
Aide memeluknya, tapi bayi itu tidak merespon. Mata Aide tiba-tiba terbuka lebar seakan hatinya berdebar penuh kepanikan, ia buka bajunya dan memberikan payudaranya, dan bayi itu tidak juga merespon. Hanya air liur mengalir dari mulutnya, dan matanya yang kosong memandang langit-langit.
"Aide..."
Aku berusaha memberitahunya, memberitahu kabar buruk, entah kabar buruk apa. Aku merasai apa yang sosok Elnal ini rasai, rasa sesak, hingga rasanya susah bernafas, susah berkata apa-apa.
"Elnal... aku tidak bisa mencium bauku darinya..."
"Anak kita..."
"Aku tak bisa merasai ruhnya."
"Maafkan aku Aide."
"Elnal tinggalkan aku."
"Aide..."
"TINGGALKAN AKU SENDIRI!"
Aku segera berdiri, berlari, tak tertahankan sakit hatiku. Segera aku keluar menuju pintu, dan sebelum keluar itu aku menyempatkan menatap beberapa detik ke arahnya lagi. Ia masih berteriak dalam kata-kata yang tidak kumengerti, memeluk bayinya yang ia kandung dua tahun lebih, bayinya yang dengan segala kesedihan tersebut tidak mampu bereaksi sama sekali. Dia hanyalah daging berlapis kulit sisik dengan organ-organnya, wadah kosong, yang sebentar lagi mati. Perlahan pintu itu kututup, dan tangis keluar dari mataku, dengan nafas tersedak-sedak.
Pikiran asing di kepalaku berteriak-teriak, "Oh tuhan, mengapa engkau tak mengasihani kami, setelah semua yang kami lalui!"
Di luar kamar itu aku melihat sosok malaikat bisu yang bersender pada tembok, seperti telah menunggu lama. Dewasa, boneka porselin itu kini memiliki sayap yang utuh. Di belakangnya terdapat pelayan-pelayan yang bersujud di depan pintu, mereka seperti istriku yang dipenuhi bebuluan burung tak bersayap tertutupi baju jubah yang besar. Aku sambil menyembunyikan air mata di wajahku menyuruh salah satu dari mereka masuk untuk menemani Aide.
Dalam sesak tangis aku berjalan, lemas menyusuri lorong rumah besar yang asing tapi sekaligus itu juga terasa familiar, benar-benar perasaan yang saling kontradiktif, sempoyongan aku memasuki kamar, dan menatap kaca di hadapanku.
Siapa? Siapa sosok di hadapanku ini?
Bersisik di sekujur tubuhku, dan seperti nyala api korek yang menyulut membara di kepalaku. Dalam hatiku kurasai suatu kejijikan, keterasingan, dan perbedaan yang menyesakkan. Perasaan ini aku mengenalnya, ini perasaanku selama ini menjadi seorang Racke, menjadi berbeda, menjadi asing, kesendirian dan ketersiksaan melihat orang-orang yang kusayangi menderita karenanya.
Dan tiba-tiba kudengar suara panik, teriakan.
"Oh Tuhan, Nona!"
Aku segera keluar, dan berlari dalam panik.
Jangan, jangan lagi.
"Tuan..."
"Oh Aide..."
Aide berdiri menggendong bayi tersebut, menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Terdapat pisau di lantai, dan darah yang mengalir turun dari gendongan Aide.
"Lihat Elnal, lihat. Mirip sekali hidungnya denganmu, dan matanya mirip sepertiku, biru laut yang menyejukkan, bayi manis ini."
Darah keluar deras dari leher bayi tersebut.
"Aide, sini."
Aide menjauhiku.
"Dia baru saja tertidur, ssstt..."
"Aide, kumohon."
"Ssssttt... barusan dia menangis, menangis keras Elnal. Dan kini akhirnya dia terdiam, tertidur di gendonganku, ibunya."
Dan aku terduduk lemas, dan darah perlahan menggenangi kakiku, memperlihatkan refleksiku di darah itu, sosok api membara, terkutuk, iblis.
...
"Elnal."
Suara memanggilku, dan tiba-tiba aku sudah terduduk di singsana. Orang-orang bersujud, dan dihadapanku terdapat sosok malaikat dengan sayap hitam mengenakan topeng keemasan. Jantungku tiba-tiba saja berdebar melihatnya, seperti penampakan yang sering kulihat. Dan tanganku tiba-tiba saja hangat, malaikat bisu memegangi tanganku.
"Dan kau sudah tahu, bahwa aku disini atas nama Tuhan tengah menunggu keputusanmu."
Aku tak tahu apa yang ia maksud, tapi hatiku merasa telah mantap menjawab, Elnal, badan ini, tahu apa yang harus dikatakannya. Seketika aku merasakan sensasi aneh, seperti potong-potongan masa lalu. Sebuah ekspetasi, dan kehancuran yang mengikutinya. Wabah penyakit, bayi-bayi yang lahir tak bernyawa. Politik, perang, agama, ketidakadilan, kemiskinan, pengkhianatan. Dan terakhir cinta, ilusi yang begitu menyakitkan, seakan membantingku menuju ketiadaan.
"Aku memutus—"
Tiba-tiba aku tak bisa melanjutkan kata-kataku, dan kusadari semuanya berhenti mematung. Lilin-lilin yang memenuhi ruangan ini lalu turut mati, ruangan aula menjadi redup, gelap. Suara petir tiba-tiba muncul dari awan yang entah kapan telah memenuhi langit-langit ruangan. Ketika itu kulihat nafas malaikat bisu tersengal-sengal, hanya dia dan aku yang satu-satunya yang tidak mematung di ruangan ini.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Aku merasakan tangan malaikat bisu menggenggam tanganku erat, sayapnya terbuka lebar penuh cahaya menyilaukan ruangan yang gelap ini. Kulihat wajahnya penuh amarah selagi dunia mimpi ini berhenti. Selagi itu muncul awan, kemerahan, menutupi malaikat bersayap hitam. Suara misterius itu berasal dari awan tersebut, dan ia tak bergeming pada gertak malaikat bisu dan melanjutkan ucapannya.
"Semua ini adalah akhir juga peringatan awal dari sandiwara tuhan."
"Siapa kau?"
"Temanmu, kawanmu, saudaramu. Beheric."
Sekali lagi nama yang terdengar begitu familiar.
"Jangan biarkan tuhan memainkanmu saudaraku, jangan lagi kau menginjakan kakimu dalam siklus yang ia ciptakan."
Kepalaku tiba-tiba begitu sakit, dan malaikat bisu memelukku. Sayapnya perlahan-lahan menutupiku.
"Ingat kata-kataku ini: Lawan, lawan dia."
Dan tiba-tiba aku merasa lemas, lelah, mimpi ini terasa begitu melelahkan. Lalu sayap malaikat bisu menutup rapat, dan semuanya gelap kembali.
*Bersambung*

Kamis, 05 Januari 2017

Mémoire: Prologue



Pagar-pagar tinggi berkawat tajam, disertai dengan lampu-lampu tembak, dan dihiasi dengan kebun-kebun berbunga untuk menutupi keangkerannya. Tempat ini dijauhi oleh anak-anak yang menggosipkan bahwa tempat ini merupakan sarang para psikopat yang tidak dapat ditahan di penjara, dan kabar burung ini berasal dari para tua berbau tanah yang nongkrong di warung kopi yang begitu serius mendiskusikannya, selagi muda mentertawai, gosip ini menyebar begitu saja.

Tapi memang demikian tampak angker sebanyak apapun bunga dirangkai di depannya, dengan satpam-satpam bermuka galak yang siaga membawa tongkat tonfa. Warga kampung sendiri sebenarnya kenal beberapa yang tinggal di tempat itu, ada Pak Sumardi yang tinggal sendiri di kediamannya, tak mau keluar, dikiranya berdukun sekarang tinggal di tempat ini. Johan yang diikat dirumahnya lebih dari 3 tahun tanpa pakaian oleh orang tuanya sendiri sekarang tinggal di tempat ini. Lalu Pak Johan yang keliling kampung tanpa pakaian, yang kemudian dikenali anaknya yang baru pulang dari perantauan kini tinggal disana.

Ya, tempat itu Rumah sakit jiwa, tepatnya Rumah Sakit Jiwa Dharma Kusuma.

Pagar tinggi RS Jiwa ini jarang terbuka setelah direnovasi sehingga tidak banyak pasien (atau warga kampung menyebutnya tahanan) yang kabur, namun kali ini berbeda. Anak-anak mengikuti truk box yang membawa sesuatu, diikuti oleh mobil-mobil mewah di belakangnya. Pagar tersebut terbuka, diikuti orang-orang berjas putih yang menyambut mobil box itu. Di dalam sudah ada panggung, sound system, dan orang yang menyiapkan pigura beserta piagam. Sebuah Banner yang baru dipasang beberapa jam yang lalu mempelihatkan wajah yang tidak tersenyum, serius, lelaki yang mungkin telah berumur 60an, yang baru-baru ini sempat muncul di TV sebagai peraih nobel pertama dari Indonesia, Prof. Fuadi Darwis, SpKJ, Ph.D.

Para dokter tua maupun muda berkeringat melihat sosok luar biasa datang ke rumah sakit jiwa mereka yang sepi, dekat kampung, yang tiba-tiba mendapati kehormatan mendapatkan hasil research luar biasa dari sosok ini. Mereka dipilih setelah Prof. Fuadi Darwis melihat berkas kasus-kasus kejiwaan dan prognosis dari penyebab neurosis pada pasien, dan dia menemukan sesuatu yang menarik pada salah satu pasien di rumah sakit jiwa ini.

Prof. Fuadi berdiri di atas panggung setelah berbincang-bincang dengan kepala rumah sakit. Mesin ajaib dikeluarkan dari mobil box, dan diletakan di atas panggung. Orang-orang terguncang melihat kemewahan dari mesin sederhana itu, yang tersembunyi harga yang sama dengan mobil Porsche terbaru. Alat itu kini menjadi primadona para mahasiswa medis dalam melakukan penilitian, jurnal-jurnal mencoba mengidentifikasi potensi dari alat tersebut, dan si pemulai, Prof. Fuadi ada di hadapan mereka, berbicara seperti detik-detik Live ketika dia berada di atas panggung penerimaan Nobel dalam bidang studi medis karena studi kasusnya mengenai penyembuhan neurosis lewat terminasi memori traumatic lewat mesin ajaibnya itu, yang dibuktikan di negeri paman sam sana, telah menyembuhkan gejala neurosis lebih dari 95% pasien dari ratusan sample pasien dari banyak rumah sakit berbeda, suatu kesuksesan dan revolusi besar dalam dunia medis kejiwaan saat ini.

Orang-orang masih ingat kata-katanya yang membuat seluruh panggung terdiam, dan kini ia ucapkan kembali ketika melihat pasien yang akan ditreatment disini, Febriansyah Putra yang terdiam dalam mata kosongnya, yang menetes air liurnya. Menatap kosong jauh ke antara pagar-pagar ketika seluruh massa memandangnya.

“Saya ingin membuktikan pertanyaan saya selama ini, apakah suatu individu itu eksis karena ia terbentuk dari tiupan arwah oleh tuhan yang tertakdirkannya menjadi unik, ataukah ia terbentuk dari DNA dalam random dan absurditas dunia yang membuatnya seperti demikian, dan terakhir ataukah memori yang selama ini terbentuk selama hidupnya yang membuat seorang menjadi individu yang selama ini kita kenal? Bagaimana jika kita merengutnya, masihkah mereka adalah individu yang sama, atau dia menjadi seorang yang lain, seperti arwah atau nyawa yang lain, yang demikian A bukan A lagi tapi adalah B? Ratusan pasien, dan saya masih belum memahaminya dengan sempurna saudara-saudara.”

Dia menurunkan badannya seakan dia menghamba kepada Febriansyah Putra yang masih terjebak dalam dunianya. Dunia idealnya. Dipegang tangannya dengan lembut, dan tak ada perlawanan dari seorang penyakit jiwa ini.

“Dan Pemuda ini akan menjawabnya.”

Sekali lagi semuanya terdiam, sebagaimana panggung internasional yang penuh dengan manusia-manusia yang memiliki kontribusi besar pada dunia terdiam.

Dan pasien kelaian jiwa itu tidak peduli, hatinya sepenuhnya bahagia melihat seorang gadis dan ibunya melambai-lambai padanya di balik kebun bunga terbakar yang menyembunyikan pagar-pagar jauh di hadapannya.

Selasa, 18 Oktober 2016

Thought: Simfoni Cahaya Bulan

Simfoni Cahaya Bulan saya buat pada tahun 2012an ketika masih SMA, diawali dari design character untuk konsep game online yang saya buat bersama kawan-kawan saat itu. Dari berbagai race, dan backgroundnya, tiba-tiba saja saya tertarik untuk membuat kisah mengenai salah satu race beastman yang terinspirasi dari karakter Radiant Historia (One of my recommended top list JRPG Storylines, it's freaking good), dan dalam pembuatannya saya sedang tergila-gila dengan konsep Magical Realism dari film Pan Labyrinth yang mencampurkan mistik fantasi dengan elemen realistik. Dalam hal ini, saya pikir medium magis/fantasi dalam suatu kisah harus memiliki khas realita yang sama beratnya untuk mampu merelasikan kejadian ataupun pesan yang ada dalam cerita dalam kehidupan pembacanya.

Simfoni Cahaya Bulan berkisah mengenai Racke yang memiliki tanduk di kepalanya, ia menjadi bahan kambing hitam dalam segala kejadian/musibah yang menimpa desanya, imbasnya terkena pada ibunya yang merawat Racke sendirian setelah ditinggal pergi suaminya. Takhayul ini muncul akibat kebencian masyarakat setelah propaganda kerajaan atas peperangan manusia dan beastman, dimana terdapat tembok besar yang menjadi monumen sekaligus pembatas antar kedua ras ini. Simfoni Cahaya Bulan menelisik komunitas sosial, moralitas, kemanusiaan, rasisme, keagamaan, dan segala topik yang mampu ditemukan di dalam dunia nyata. Disini dunia magis (fantasi) menjadi menarik karena menjadi penghalus terhadap sensitivitas pembaca terhadap topik yang dibuat, mindset pembaca masih di dalam dunia alternatif walaupun jika dibedah tentulah tulisan atau kisah ini mengkritik apa yang terjadi pada dunia nyata (ini dari apa yang saya pelajari dari salah satu eksperimen chapter Naqoyqatsi dan tanggapannya di forum kaskus).   

Permasalahan dari Simfoni Cahaya Bulan sendiri adalah genrenya yang kurang mengenai pasar tempat saya menaruhnya yaitu genre "Light Novel". Alasan saya memilih forum ini sendiri dikarenakan bebas dan kecocokan genre juga mudahnya menemukan wadah untuk menaruhnya. Tapi setelah mempelajarinya, terdapat trope atau kecendrungan yang harus dimiliki dalam pemenuhan hastrat pasar/pembaca, dan SCB tidak memenuhi kebanyakan dari trope itu. Dalam pembaca secara general di indonesia, fantasi bukanlah bacaan yang digemari, sebaliknya pada komunitas LN, Realisme adalah trope yang harus dijauhi (Mayoritas pembaca menggunakan ln sebagai wadah delusi); Tapi saya percaya dengan konsisten kualitas storytelling dan kualitas konten, cerita ini suatu saat pasti bisa menarik pembaca. Dalam hal ini SCB ini semacam pemuasan diri dibanding karya yang tujuannya memuaskan pembaca, bukan suatu hal yang bagus, tapi juga tidak buruk.

Sudah hampir 3 bulan kisah SCB ini hiatus dikarenakan kegiatan KKN. Terdapat rencana besar terhadap kisah SCB ini, yang semoga dengan waktu kosong pada semester baru ini bisa saya lanjutkan hingga benar-benar SCB ini kelar dibanding saudaranya Naqoyqatsi yang sudah tidak ada niatan untuk dilanjutkan...

If you want to read it: https://www.wattpad.com/myworks/46358976-simfoni-cahaya-bulan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Random Thought

Saya setiap hari sering menulis dalam jurnal tentang pikiran-pikiran saya, walau rata-rata random (dan bodoh). Karena saya jadi jarang menulis di blog karena keterbatasan dalam mendapatkan ide cerita, mungkin saya akan spam beberapa pikiran yang tertuang di jurnal, saya ringkas dalam bentuk kutipan.

"Para pembunuh diri, dan para monster-monster itu, mereka bukanlah lahir, tapi diciptakan oleh lingkungan sosial yang telah kita bangun. Tidak fair menghakimi mereka bertatapan dengan ironi seperti ini. Kusebut mereka (orang-orang yang menghakimi itu) adalah dungu, dan kita mungkin secara esensi adalah pembunuh yang sesungguhnya, yang diciptakan dari ketidaktahuan dan kedunguan-kedunguan tersebut." - Setelah peristiwa sosial bullying terhadap pelaku Voyeurism di lingkungan kampus.

"Bunuh diri adalah simbolis teriakan tentang adanya kesalahan terhadap lingkungan sosial."

"Jangan pernah menerima permintaan maaf dari seseorang yang tak menjelaskan letak permasalahannya, letak kesalahan dirinya. Maaf itu harus berupa penyesalan terhadap kesalahan yang telah diperbuat, lain dari itu maafnya hanya berupa politik, bukan dari hati."

"Permintaan maaf itu datangnya dari dua arah, pihak bersalah jelas salah, tapi barangtentu si penuduh telah sama membuat sakit hati pada pihak bersalah. Pada esensinya, hati itu yang perlu damai, dan letak permasalahan pada pinggirnya."

"Seseorang yang sudah 3 tahun kita kenal kadang lebih asing dari seseorang yang sebulan kita kenal. Dalam hal ini kupikir, jika yang namanya hubungan batin memang sudah benar-benar cocok, bahkan sebulanpun sudah bisa jadi saudara."

"Tulisan kupikir, jika ia tidak berpesan, jika ia tidak berwawasan, jika ia tidak relevan terhadap lingkungan pembacanya, ia tak lebih dari sebuah kertas lengket bercorat-coret tinta yang nilainya kecil diatas onggokan sampah."

"Sejauh apapun tema yang kau angkat, dari fantasi, peri, para raksasa, hewan, kembali lagi ia harus relevan terhadap realita dan spesifiknya lagi, para pembaca, yaitu manusia itu sendiri."

"Enaknya membaca buku bagus: Dibaca dua kali, tiga kali, hingga seratus kalipun masih bisa kau temukan hal baru (pesan, filosofi, pengetahuan, dan lainnya). Begitu, sayang jika kuhabiskan waktuku untuk baca buku yang tidak bagus, kadangkali lebih populer dan bestseller dari buku-buku yang ada di toko bekas."- Setelah membeli dan menghabiskan tetralogi pulau buru pramoedya.

"Hidayah gampang dicari, jika kau pintar-pintar berpikir. Bahkan terpeleset pisangpun bisa disebut hidayah."

"Bukan keanekaragaman letak permasalahannya, tapi kedunguan manusia-manusianya."

"Ironi para maling: Yang dimaling (motor, handphone, helm) akan menangis beberapa hari karena dimarahi, tapi mereka masih makan lancar, besok dibelikan lagi barang yang mereka beli, mereka masih bisa sekolah. Maling tidak demikian, mereka adalah korban dari buruknya lingkungan yang kita biarkan tercipta, dalam keras dan susahnya pekerjaan untuk di dapatkan, betapa mereka tidak mampu atau diberi kesempatan untuk menyentuh pendidikan. Mereka jual barang curian itu murah (namanya juga barang curian), dan lalu beberapa hari mereka sudah kelaparan lagi. Walau seringkali lolos, hanya butuh sekali kesempatan mereka melakukan kekeliruan untuk bonyok, dipenjara bahkan mati. Dirumah sang bayi sedang menangis, anaknya menunggu sang ayah yang menjanjikan bayar sekolah, sang istri masih menunggu di ruang tamu tak sadar dirinya akan segera menjanda." - Setelah melihat maling motor yang dihakimi massa kemudian mati setelah dikroyok sembari terkena lemparan batu bata dan palu kontruksi saat menjelang shalat jumat.

"Realita yang sesungguhnya belum tentu sama dengan presepsi realita yang kita rasakan. Di dunia dimana aliran informasi begitu deras (internet, tv, koran), semakin tidak jelas realita mana yang sesungguhnya, dan kini sosial media telah menjadi apa yang disebut sebagai hyperreality, dan wujud (avatar) yang kini tengah kita lihat adalah kenyataan yang lebih nyata dari apa yang kita lihat dunia di luar itu." - Berbicara mengenai kajian postmodernism bersama kawan.

"Aku baru-baru ini mencoba trend istagram, dan setelah memahaminya, segera keluar dalam suatu kesedihan dan kemualan. Betapa manusia berusaha menjadi relevan dalam komunitas sosialnya, memperlihatkan potret-potret untuk menggambarkan hidupnya dengan suatu kepersetanan dengan privasi, untuk berteriak bahwa dirinya hidup, bahwa dirinya bahagia, dalam senyum-senyum, lingkungan indah yang tertutupi badan-badan narsisme, dalam caption pesan moral yang tak memiliki relevansi foto demi sensasi ekstasi like berbentuk hati. Itu pikiran awalku, lalu kupikir-pikir lagi, mungkin aku saja yang tak punya hidup dan terpengaruhi rasa-rasa iri dan defensif, ahh... ironi."

"Di masa kuliah, perkawanan lebih erat kaitannya dengan politik, masa depan kita ditaruh di dalamnya. Segala waktu dan perhatian adalah investasi, dan segera-gera tahulah kita mengenai orang yang harus dipedulikan lebih, yaitu orang yang menganggap kita relevan dalam hidupnya atas perhatian tersebut. Tinggalkan jauh-jauh (atau mungkin stay dalam hubungan kasual) orang yang menganggap kita tidak ada setelah tidak ada bisnis (kuliah, dan lainnya) atau masalahnya sudah kelar. Lihat nanti, pasti akan berbuah. Sedangkan yang tidak, berarti kita telah salah berinvestasi, seperti kena scam saja."

"Setelah membaca buku pram kita telah masuk dalam mindset realisme sosial. Disini kita melihat masyarakat bukan sekedar estetika, bukan romantika, bukan sekedar mimpi yang ideal, tapi juga melihat persoalan rakyat sebagai fakta lapangan dan persoalan yang berkait antara sejarah, antara penderitaan dan memeriksa belenggu-belenggu penderitaan, kita paham bagaimana pikiran Pram bekerja dengan sikap adil mulai dalam pikiran apalagi perbuatan."