Minggu, 19 November 2017

When Void Scream Back At You: Prolog

PROLOG: KENDARAAN MALAM

Uli Nurjanah merasakan merinding tepat di bulu kuduk lehernya. Ia merasai dirinya seperti sedang diperhatikan di tengah gelap bis malam, dan sesekali ia mencoba melirik, pandang tersebut tiba-tiba saja menjadi lenyap dan seketika muncul lagi ketika Uli mulai memandang lurus.

Apa ini hanya perasaannya belaka? Atau memang terdapat sesuatu yang sedang mengintainya? Pikir Uli.
Ini sudah ke dua kalinya Uli harus menggunakan bis, dan dia tidak pernah merasa nyaman dengan kendaraan yang satu ini, entah mengapa sepertinya rentan sekali modus kejahatan terjadi di bis. Hari ini harusnya dirinya tengah duduk di kereta gerbong bisnis menuju Purwokerto dari stasiun Pasar Senen, akan tetapi dia tidak mengira kereta Commuter Line akan tertahan di Jatinegara selama 30 menit lamanya dan membuat dirinya terlambat. Celakanya dia harus melakukan seminar di kampusnya esok hari, sehingga keterlambatannya terasa begitu tolol dalam benak Uli. Terpaksa dia harus naik salah satu bis dari jasa yang Uli tidak kenal, dan Uli menjadi begitu paranoid karenanya.
Kini Uli memeluk tasnya begitu erat, di dalamnya terdapat uang, oleh-oleh, dan laptop yang terdapat bahan-bahan penting di dalamnya. Sekali ia tertidur barangkali semuanya sudah lenyap, dan Uli tidak mau hal tersebut sampai terjadi.
Namun perasaan merinding ini belum ia sadari dari awal dirinya duduk di bis ini, tapi jauh setelah itu.
Pada saat itu bis memasuki rest area, dan Uli memutuskan untuk turun untuk ke kamar mandi, dan menyeduh mie gelas di kantin restroom. Namun pada saat dia memasuki bis, tiba-tiba ia perhatikan salah satu penumpang yang duduk di belakang sambil menggunakan tudung tengah mengambil gambarnya dengan diam-diam, flashlight keluar dari handphonenya yang segera ia sembunyikan dan berpura-pura tidak memperhatikan Uli. Setelah itu seakan perasaan was-was ini tak bisa lagi lepas dari perasaan Uli, seakan membekas, terukir dan menyiksa, Uli begitu ingin segera keluar dari bis ini, namun Purwokerto tak kunjung sampai di mata.
Lama kelamaan pikiran Uli menerawang jauh, seperti, mengapa orang tersebut merekam Uli? Kalau dia berniat mencuri barang berharganya tak perlukan dia harus merekam dirinya? Apa ia memiliki suatu niat tertentu lainnya, suatu niat jahat? Dan pikiran-pikiran tentang kejahatan muncul di benak Uli, pemerkosaan, human trafficking, dan berbagai kejahatan populer lainnya. Berpikir seperti itu, Uli merasa begitu mual dan ingin muntah.
“Maaf mbak? Sedang tidak enak badan yah? Pucat wajah mba.”
Seorang kakek-kakek di sebelahnya tiba-tiba menegur Uli.
“Ah, gak apa kok pak.”
“Mau antimo?”
Uli saat itu melihat bahwa kakek-kakek ini memiliki suatu niat baik, sehingga ia ceritakan bahwa dirinya merasa tidak aman dan sang kakek mengangguk-ngangguk mendengar penjelasannya.
“Tukeran kursi sama kakek aja mau?”
“Ah, ya, terima kasih kek. Duh terima kasih banget…”
Dan seketika Uli berada di dekat jendela, segera perasaan sesuatu yang memandanginya itu terputus. Uli seakan bisa bernafas lega setelah lama dirinya tercekik dalam perasaannya sendiri.
Beberapa jam kemudian setelah itu bis berhenti di sekitaran wilayah Brebes, dan Uli perhatikan dari kegelapan, ternyata pria bertudung itu yang keluar dari bis. Dia tidak terlihat membawa tas atau membawa bawaan lainnya, dan pada saat itu semakin Uli merasa aman, pria yang sudah turun ini tidak mungkin melakukan sesuatu padanya, jelas dia telah salah sangka.
Namun tak lama, Uli tak sengaja bertatapan mata dengan pria tersebut ketika bis mulai memacu gasnya, dan dengan anehnya pria tersebut tersenyum melambai-lambaikan tangan ke arahnya dan menunjuk-nunjuk ke handphonenya yang bercahaya terang di antara gelap itu, Uli tidak tahu jelasnya, tapi sepertinya pria itu menunjukan suatu gambar yang bergerak, video.
Perasaan merinding seketika merambati perasaan Uli pada saat itu, tapi Uli tidak menemui alasan pria tersebut mampu menjadi ancaman bagi dirinya.
Dua jam setelah itu, segala beban Uli sirna. Sudah sampai bis pada pukul 3 pagi di terminal Purwokerto yang masih terlihat ramai dengan aktivitas manusia. Ketika turun, Uli segera disamperi oleh berbagai tukang ojek, namun yang paling getol saat itu adalah tukang Taxi yang memakai seragam kuning.
“Malem-malem gini taxi aja mbak, terus ini tarifnya dipotong setengah aja mbak.”
Uli akhirnya memilih menggunakan taxi karena dia sendiri agak mengantuk setelah sembilan jam perjalanan Uli memaksa dirinya terjaga dan kini takut terjadi apa-apa di jalan, lagipula biaya 15 ribu jika dipotong setengah tidak terlalu mahal.
Masuk ke dalam Taxi kursi belakang, Uli segera memperhatikan sesuatu yang janggal. Di kaca tertempel sebuah kamera yang menghadap ke kursi penumpang. Uli bertanya-tanya apakah armada taxi sekarang punya regulasi seperti ini?
“Itu kamera yah mas?”
“Iya mbak, buat keamanan, kemarin ada yang kena maling. Biar bisa langsung dilaporin.”
Tapi entah mengapa Uli masih merasa janggal. Kamera yang tertempel itu jelas adalah merek GoPro yang cukup mahal untuk armada kecil di kota seperti ini. Namun Uli segera menolak untuk berpikir yang aneh-aneh, berpikir bahwa paranoidnya dikarenakan pengalaman di bis malam barusan.
Tak lama mobil keluar dari terminal, mata Uli sudah mulai tertutup dan terbuka, AC di Taxi ini entah mengapa terasa begitu nyaman, sampai si supir taxi mengajak Uli berbicara, “Mbak tahu gak kemarin ada cerita heboh.”
“Apa bang?”
“Yah, kayak mbak, ada anak gadis mahasiswa keluar dari terminal udah pagi banget. Dia naik ojek tuh, dan ojeknya kenceng banget karena udah malem juga kali yah mbak. Nah, lucunya tuh ojek gak pake jalan umum, tapi pake jalan sepi, yang banyak sawah-sawah, dan si penumpang udah mulai khawatir tuh mbak.”
Uli sadar si supir taxi sedang menceritakan kisah buruk, dan karenanya Uli kembali merasakan perasaan tidak enak dalam hatinya. Walau begitu, entah mengapa Uli tidak segera berusaha menghentikan cerita si supir taxi, dia masih merasa ingin terjaga dari tidurnya.
“Nah, si penumpang teriak nanya kenapa lewat jalan ini, malah si tukang ojek diem aja tuh mbak. Karena makin ke tempat sepi, si penumpang minta berhenti, dan lucunya abangnya malah makin ngebut. Dan di situ, si penumpang yang liat ada semak-semak lebat segera loncat dari motornya. Luka-luka tuh penumpang, segera dia merayap walau kakinya barangkali patah, teriak minta tolong, tapi di sawah udah banyak orang nunggu itu penumpang, entah mau diapain mbaknya.”
Mendengar ucapan si supir taxi, Uli sedikit melirik ke luar jendela, dan entah mengapa jalanan begitu asing, begitu gelap. Walau demikian, Uli memang tidak familiar dengan jalan menuju kosannya dari arah Terminal.
“…”
Pada saat itu sang supir taxi entah mengapa berhenti menceritakan kisahnya, Uli akhirnya mencoba berbicara kepada abangnya mengenai kelanjutan ceritanya yang belum tuntas.
“Terus bisa lolos penumpangnya pak?”
“Enggak, hilang sampai sekarang.”
“Pelakunya ketemu?”
“Yah, korbannya aja belum ketemu, gimana pelakunya mbak?”
Pada saat itu Uli merasakan perasaan yang begitu janggal setelah mendengar penjelasan sang supir taxi tersebut.
“Lah, terus gimana abang tahu ceritanya?”
“Yah tahu aja.”
Mendengar itu Uli segera melihat kaca spion abangnya, dan terlihat abangnya menunjukan ekspresi datar, dia tidak terlihat sedang bercanda. Pandangan Uli juga pada saat itu segera mengarah pada kartu identitas supir, Nurhadi, tahun, dan lainnya, namun tidak terdapat foto dari tempat seharusnya, seakan foto tersebut sudah disobek dari tempatnya.
Keresahan Uli lalu menjadi-jadi, dia akhirnya bertanya dengan perasaan pasrah.
“Bang kita di mana yah?”
“Yah ke kosan mba.”
“Kok saya gak pernah liat tempat ini.”
“Masa sih mbak? Ini kita udah masuk jalan besar loh mbak.”
Uli perhatikan baik-baik, dan, ya ini memang jalan besar, tapi mengapa begitu asing? Uli bukan mahasiswa baru, dia sudah 4 tahun tinggal di kota ini, setidaknya dia sudah sering jalan-jalan bersama temannya keliling kota ini.
Akhirnya Uli segera membuka handphonenya, dan ia buka google mapnya. Pada saat itu taxi berhenti tepat pada lampu merah di tengah jalanan yang begitu sepi.
Sinyal handphonenya tak kunjung menunjukan 4G, dan di handphone Uli hanya tersisa kuota dari jaringan tersebut. Uli segera menepuk-nepuk sinyal yang naik turun, dan ia lihat di kaca spion, si supir taxi memperhatikannya.
“Mbak takut sama cerita saya tadi yah?”
Uli tidak menjawab, ia fokus melihat handphonenya dengan keringat dingin yang perlahan keluar dari dahinya. Dan ketika sinyal akhirnya menunjukan jaringan 4G, google map segera menunjukan lokasi di mana Uli berada.
Pada saat itu Uli tersadar, Taxi ini sedang tidak menuju kosannya.
Tok, tok, tok!
Seseorang mengetuk kaca di pintu belakang dengan kencang, dan ketika Uli menengok, ia melihat seseorang menggunakan topeng kambing dengan kamera di tangannya, mengeluarkan suara napas yang begitu kencang hingga terdengar dari sisi dalam kaca.

Rabu, 25 Oktober 2017

The Life Of Useless Man: Bagian 1


Hari itu Panji bangun dalam keadaan yang begitu meresahkan hatinya. Badannya pegal, ngilu, nyeri, dan tidak bisa digerakkan. Ia berusaha berteriak, tapi tak sekalipun angin berhembus melewati pita suaranya. Jika ditanya perasaan ini seperti apa, barangkali Panji akan mengaitkannya dengan ketindihan karena dalam keadaan tidur terlentang dadanya seperti diberi beban baja yang membuatnya sesak, tertekan, terjerumus semakin dalam di kasurnya. Hanya jika ketindihan Panji berada di antara mimpi, kali ini ia benar-benar sadar, benar-benar melek.
Awan pada saat itu terlihat bergumpal hitam dari jendela yang anehnya terpasang di atap kamarnya, meneteskan air hujan rintik-rintik yang tetes bulatnya menodai kaca. Perlahan lembab membawa bau basah yang turut membawa bau-bau lainnya, sumpek kayu yang basah, tengik karpet, bau pakaian-pakaian kotor yang tergeletak di lantai, dan bau micin dari piring kotor indomie yang Panji santap tadi malam. Panji benci semua bau itu, dan jika bukan karena keadaannya kini, dia telah pergi jauh-jauh dari kamarnya ini.
Kini ia perhatikan semut-semut yang berjalan dari ujung atap melewati sarang laba-laba yang lebat tak pernah dibersihkan, menyusuri tembok-tembok yang terdapat kertas bertuliskan Wishlist yang sudah usang, terlupakan dan hampir lepas, perlahan mendekati cangkir kopinya yang masih tersisa bekas mengerjakan thesisnya yang tak kunjung usai.
Sesungguhnya baru pertama kali ini, setelah enam tahun lamanya, Panji menjadi mampu memperhatikan detil-detil kamarnya ini, kamar yang ia pikir tak etis disebut kamar, barangkali penjara, atau kubus kotor yang sempit juga sumpek. Tempat ini dulu hanya menjadi tempat persinggahan tidur, namun perlahan, tempat ini menjadi tempat hidupnya selama thesisnya tak kunjung kelar dihadapi penolakan demi penolakan, revisi demi revisi, dan kini ia bahkan tidak mampu melanjutkannya, ia benar-benar tak bisa bangun.
Panji hanya berharap, suara-suara aktivitas langkah kaki yang mondar-mandir di depan kamar kosannya akan mengecek keadaannya yang kini telah menjadi nihil presensinya, yang lalu adalah bagian dari kesibukan tersebut. Atau temannya yang tidak melihatnya dari segala kegiatan aktivitas perkuliahan. Atau barangkali sang ibu yang mencoba menghubunginya, yang kemudian meminta ibu kosan untuk mengecek keadaan anaknya. Atau, atau, yah atau, segala-galanya yang menjadikan orang mencarinya. Walau demikian, entah mengapa, harap-harap ini menjadikannya gundah, namun ia tidak tahu mengapa.
Tiga jam berlalu, Panji tidak menyadari itu, detak jam di dinding yang tak berada dalam lingkup penglihatannya tidak mampu menunjukan pukul berapa kini ia berada, ia benar-benar kehilangan pemahaman mengenai waktu, kecuali langit mendung gelap yang tak kunjung usai. Demikian, selama waktu-waktu terlewat ia mulai berpikir keras, hari ini pada pukul sembilan pagi ia sudah janjian dengan pembimbing dosennya. Ia tidak mau membuat sang dosen kesal, walau demikian ia juga tidak merasa begitu kasihan apalagi menyesal.
Tak kunjung dosen itu membiarkannya lulus, lepas dari segala siksaan jurusan yang ia tidak sukai ini. Selama ini hidup selama lima tahun adalah seperti tenggelam dalam sesak tanpa pernah mampu muncul di permukaan air. Karenanya ia kadang terbesit pikiran untuk mengutuk seluruh hidupnya, masa-masa yang ia sia-siakan, untuk tidak pernah sampai saat ini memahami apa yang ia inginkan untuk hidupnya agar ia berusaha untuk melakukan sesuatu.

Dulu itu ia merasa telat, tiada satupun membimbingnya, tuhan sekalipun tidak, dan satu-satunya yang memberinya arahan adalah hastrat ingin menghindari perasaan tidak enak, tidak ingin merasa malu, ia memilih sesuatu yang mudah juga asal, padahal sesuatu yang ia pilih itu akan menjadi bagian dari seumur hidupnya, sungguh apa yang ia lakukan adalah tindakan yang benar-benar sembrono.
Demikian anehnya ia tetap hidup, tetap bertahan sampai ujung akhir, namun belum juga ia mampu benar-benar berenang kecuali jika mengapung bagai papan kayu kolot yang terhempas arus, angin, bisa disebut sebagai berenang. Tentu hal ini bukanlah kompetensi yang diinginkan dunia akademisi, hingga pak dosen merasa harus membenamkan lagi kepalanya, membenamkan hingga ia benar-benar tenggelam, berharap ia mampu berenang, walau akhirnya malah hampir dibuat Panji mampus.
Ia tentu tidak sendiri, banyak yang sepertinya, yang sudah terlihat tua, dengan brewok dan kantung mata mereka, membawa berkas-berkas kertas penuh coretan, yang seakan pandangan kosongnya itu berteriak meminta tolong dilepas dari kebosanan yang lebih tepat disebut neraka. Tapi, nyatanya, setelah segala halnya itu kita mampu lolos dari cengkram ‘surat pengeluaran’, kita dilepas dengan selembar kertas yang ternyata (dari apa yang dikatakan orang-orang yang sudah) sesungguhnya tak mampu menyinari kegelapan sama sekali, apalagi untuk Panji, selain kertas yang kini ia kejar-kejar setengah mampus, tidak memiliki sesuatupun untuk ditawarkan atau dijual.
Apalah artinya segala siksaan hanya untuk mendapati suatu ketidaktentuan? Hati Panji menjadi muram berpikir seperti ini.
Dan pada waktu Panji selesai dalam segala kegundahan hati permasalahannya pada masa ini, entah sejak kapan pada saat itu langit sudah kosong dengan awan dan menunjukan bintang-bintang tanda waktu sudah  malam. Akhirnya Panji sadar satu hari itu belum juga ada yang mengecek keadaan Panji, dan Panji hanya bisa berharap hari esok seseorang akan merasa ada yang salah melihat keabsenan Panji dari dunia ini.    

Senin, 11 September 2017

Another Isekai Story - Chapter 2



Chapter 2: Eh... Isekai?

"Apa disini gw bisa dapet harem yah?" ngebacot si Andre sambil meler-meler itu liur dari bibirnya. Kita disini udah duduk satu jam lamanya setelah yakin kita kagak mimipi sambil saling nyubit satu sama lain, dan akhirnya terjebak dalam obrolan-obrolan tolol ini. Kharis menceritakan tentang pengetahuannya dari soal novel ringan, game, dan lain-lain mengenai isekai dan tentulah gw dan Andre makin menjadi-jadi soal ini. Sedangkan di pinggir jauh kita ada si tukang asongan yang masih memainkan handphonenya, udah jelas disini gak ada sinyal.
"Ya Allah, hamba masih ingin bertemu dengan anak hamba..."
Yah, akhirnya kita abaikan si tukang asongan yang gak tahu betapa beruntungnya doi.
"Bentar-bentar Ris, coba lu urutin apa aja yang biasanya ada di cerita-cerita kayak gini?"
"Yah, protagonistnya yang bocah sekolah rata-rata seperti biasanya, cenderung pecundang yah, tiba-tiba mati dan pindah ke dunia lain dimana doi punya kekuatan, ketemu cewek yang otomatis suka ama doi, ngelawan antagonist, yah tipikalnya sih gitu. Seminimal-minimalnya dapet cewek lah."
"Geblek juga, tapi setahu gw juga kayak gitu sih."
"Nah, kalo bener kita ini tokoh cerita di cerita macam gitu, harusnya di chapter ini kita udah ketemu cewek."
Gw sama Andre liat sekililing, gak liat tuh ada orang sama sekali.
"Mana ada cewek di tempat ginian?"
"Yah berarti cari pemukiman dulu lah, dan..."
Terus tiba-tiba Kharis megang pundak kita.
"Kita harus misah bro."
"Eh?"
Gw bengong, tapi beda sama Andre, langsung tanggap dia megang kerah Kharis.
"Lah goblok, lu gak liat kita nyasar!"
"Tapi, gini Dre... lu tahu kan kalo di cerita Isekai gini, tokoh utamanya cuman satu, mana ada tiga, cowok semua lagi. Lah kalo tiga, apalagi sama nih tukang asongan, si pemeran ceweknya suka sama siapa dong?"
Andre ngelepas kerah Kharis, dan dengan polosnya dia ngomong, "Iya juga yah?"
"Guooobloook!!"
Spontan gw teriak, dan entah kenapa gw ngerasa nih orang berdua harus agak digesek lagi kepalanya.
"Oke, gw suka sama ide kalo kita ini kejebak di dunia lain, petualangan, dan lain-lainnya, kita cabut dari dunia yang kancrut. Tapi, yah, ini bukan anime cuwk. Lah kita gak tahu kalo kita misah bakalan jadi apa..."
Terus gw mikir, kondisi-kondisi terburuk. Ah, iya!
"Monster, nah, kalo kita ke dunia lain kan masuk tuh ke dunia fantasi. Kita kan gak tahu sekarang kita punya apa di dunia ini? Bisa jadi gak punya apa-apa, kalo ketemu monster mau apa lu? Yakin lu bisa sendirian?"
"Nah, nah, iya betul tuh Ki, tapi gini..."
Kharis rangkul leher gw, senyumnya keliatan bangsat bener.
"Pas di pemukiman itu kita misah."
"Iya, tapi—"
"Sip, jadi kita setuju, kalo udah ketemu pemukiman kita misah oke!" Si Andre berdiri semangat teriak kayak gini.
"Lu kira di pemukiman kagak ada yang bahaya, kan bisa jadi ada kayak tokoh bandit gitu atau..."
Gw berhenti ngomong dan, anjing...
Eh maksud gw, ada naga, bukan anjing, ya naga yang tadi terbang asoy gak jelas, tiba-tiba doi terbang rendah ngalangin sinar matahari, ngebentuk bayangan yang nutupin tukang asongan yang ada di hadapannya seakan tuh naga udah siap pengen ngelahap tuh tukang asongan.
"Woi, bang!"
Gw teriak ke abangnya, dan otomatis Kharis sama Andre nengok dan mereka tiba-tiba panik.
"WOI ANJENG, BANG KABUR BANG!!"
Gobloknya si abang malah naruh dagangannya di rerumputan, dan dia ngebuka tangannya lebar-lebar.
"Gak papa, abang mau bangun dari mimpi dulu."
"BANG LU PENGEN DIMAKAN APA, SINI!!"
"Hari ini anak saya yang paling kecil ulang tahun, saya janji pulang hari ini."
Sekejap si naga mendarat, dan gak lama moncongnya langsung ngelahap setengah badan abangnya yang putus jatuh ke tanah.
Darah, ya Allah, itu darah tumpah deras. Segala isi perut juga.
Dan Kharis muntah-muntah di belakang, sedangkan gw gak bisa gerak.
"WOI SINI LU PADA SEMUANYA, PADA MAU MATI APA!!"
Andre narik kerah gw sama Kharis, yang kemudian nyadarin gw untuk bener-bener kabur dari sini.
"Susah bangsat lari pake sarung..."
"Buka sarung lu, lari pake kolor aja!"
Akhirnya gw buka tuh sarung, dan lari pake cuman pake kolor.
Terus pas gw liat belakang, tuh naga udah ngejar kita terbang!
Anjing, babi, monyet, buangsaaattt!!
Ini apaan? Gak pernah gw liat cerita mulainya berdarah-darah kayak gini.
Dan kita baru ketemu satu mahluk kayak gini, gimana nanti?
"Huaaaaaa!!!!"
Si Kharis nangis terbirit-birit, dia ketinggalan!
Gw nengok ke belakang, dan si naga udah terbang tepat di belakang Kharis.
"Ris, goblok, gak bisa lari lebih kenceng apa?!!"
Tapi keadaan Kharis memang bener-bener bikin sedih, ngompol dia di celananya, nafasnya kempas-kempis, dan keringatnya sebesar biji jagung. Memang, gw gak pernah liat Kharis ini anak yang lari cepet kalo lagi pelajaran penjaskes.
"Lu lari berdua sama Kharis, gw tahan nih bangsat."
"Eh?"
Andre berhenti.
Kharis tetep lari, dan dia ngelewatin Andre, gw otomatis ikutan berhenti juga. Disitu gw liat di tangan Andre megang tongkat, dia mau ngapain pake tuh tongkat?
Si Naga turun, dan gw gak bisa ninggalin Andre sendirian. 
Ah persetan lah. 
Gw jalan deketin doi, kaki gw gemeter, ah taik!
Gw liat Kharis udah masuk ke pelosok hutan, ah udah aman dia.
"Goblok, lu lari juga sama Kharis sana!!"
"Lah, lu mau bunuh diri?"
"Ah, telat dah."
Si naga turun, dan dia berhadapan sama kita berdua. Gw merhatiin Andre, dan gw percaya si Andre ini punya ide.
Lah kenapa gw percaya? Lu harus tahu, kalo gw sama Kharis ini gak ada apa-apanya dulu di sekolah, bener-bener pecundang, dan apalagi Kharis, doi sering di bully. Dan karena keberadaan Andre, kita semua lepas dari hari-hari biasa di sekolah, doi selalu aja punya cara buat bikin keributan, dan ngejaga kita dari masalah. Temenan sama pentolan memang beda. 
Dan disini, gw bingung, dia mau ngapain pake tongkatnya itu.
"Heyaaaaaaa!!!!"
Di lempar tongkatnya, dan kena kepala naganya. Gak ngefek.
"Goblok."
Terus dia ambil batu, dan dia lempar lagi ke naganya.
"Bantuin gw Ki!"
"Goblok, mana ngefek naganya di gituin, dan...!"
Gw lompat dan ngedorong Andre, dan semburan api naganya hampir kena kita berdua.
"Anjing lu, anjiiinnnggg!!!"
Si Andre masih aja ngelempar batu di tanah, dan akhirnya gw ikutan, biarin aja dah mati yang penting sempet ngelawan! Gw bener-bener membabi buta lemparin apa aja di tanah sambil ngerem, dan tiba-tiba aja gw denger naganya teriak keras.
Pas gw melek, ternyata batunya kena mata si naga! Mampus!!
"Nah, cabut kita sekarang!!"
Si naga ngamuk-ngamuk ngibasin sayap dan gw sama Andre langsung lari terbirit-birit ke tempat hutan si Kharis nepi.
Dan sudah sampai di sana, gw nengok lagi, si naga udah cabut dan lagi terbang asoy di atas langit. Disitu gw sadar, gw juga udah ngompol di kolor gw, kuning basah. Bener-bener bangsat.
"Ngki, Pungki!"
Gw nengok, dan gw lihat ada puluhan mahluk asing di belakang kita.
Manusia setengah kuda.
Di pundak mereka ada tubuh lemes Kharis, dan di bawa pergi si Kharis. Si Andre ngejar.
"Bangsat, turunin temen g— Hueeekk!"
Di tendang perut Andre, mental dia, pingsan sambil keluar muntah dari mulutnya.
"Uma ulwa, angikwazi ukuthembisa ukuthi impilo yakho izophephile." Ucap salah satu mahluk ke gw, kagak ngerti, gw kira otomatis kalo kita ke dunia lain mereka udah satu bahasa sama kita. 
Terus yaudah, gw tiduran di tanah, pura-pura mati.
To chapter 3

Minggu, 10 September 2017

Another Isekai Story - Chapter 1

Hidup itu jelas tahik, dan mau gw tatap dari jalan kotor berlumpur maupun dari menara gading, tetep saja kelihatan tahik-tahik juga.
Tapi yah ini tergantung juga, karena barusan gw baru aja dibentak bapak kalo gw gak boleh ikut bimbel seperti Kharis sama Andre. Anak tolol seperti gw lebih baik lulus seadanya dan langsung kerja di bengkel bapak.
Emak juga gak jauh beda, dia bilang begini ke gw: “Kamu tuh kalo gak karena Tuhan, yah paling karena Bocoran.” Terus tambahnya, “Memang kamu pikir, kalo kamu kuliah bisa gampang cari kerja gitu? Gak liat kamu tetangga kita sampe sekarang masih nganggur?”
Kan benar-benar tahik kedengarannya di telinga? Kurang inspiratif apa dua orang tua gw ini?
Yah tapi mau bagaimana juga gw dengar aje ucapan emak, dan dia memang yang paling masuk akal di rumah ini.
Gw lulus karena belajar memang gak mungkin, tiap hari juga molor di kelas, tapi soal Tuhan atau Bocoran? Kan bisa aja dua-duanya.
Karena ucapan emak, hari ini gw udah mandi junub, bersih sampoan walau rambut tetep kumal,  gw tutupin rambut gw dengan kopiah hingga rambut gak kelihatan lagi, dan baju koko bapak gw pake, sampe gw setrika dua kali biar mulus. Gw lihat ke kaca, aih mantap.
Langsung saat itu gw ambil sendal jepit, tas yang berisi satu buku tulis dan pensil, dan pergi menuju pasantren kilat di sekolah gw.
Di perjalanan gerbang sekolah yang sudah merdu dengan teriakan TOA lantunan-lantunan ayat suci, eh udah nongkrong dua bocah bangsat ini, Kharis sama Andre.
Si Andre masih pake celana abu-abunya dan baju koko yang belum disetrika. Doi seka-seka rambut yang ujungnya kekuningan itu yang saking jeleknya gw pikir itu hasil celup ke tong cat tembok. Kharis, lebih parah lagi, bahkan udah pake baju bebas, dan rambut kumal yang kepotong gak rapih tadi pagi karena hukuman rambut panjang masih aja belum diurus, ini anak memang dari dasarnya gak niat kali yeh dateng ke sekolah.
“Woi, lu ngapain rapih banget, mau ngaji bang?” Teriak Kharis.
“Astagfirullah…” ucap gw sambil ngelus-ngelus dada.
“Anjing lu sok alim bangsat, shalat jumat juga jarang lu.” Kali ini yang teriak Andre, Kharis ketawa-tawa.
“Subhanallah, sadarlah kalian dan kembali ke jalan Allah wahai iblis-iblis jahanam.”
Gw jalan ngelewatin mereka, dan ditarik kerah baju gw, kan bangsat.
“Main warnet lah. Kaya kedengeran aja doa lu.”
“Astag…”
Belum juga mau bicara, pak Junaedi dari kejauhan berteriak:
“Woi, berandal! Mau cabut kalian bertiga?!”
Lari dia bawa pecut, si dewan disiplin sialan ini. Badannya bugar, memang dasar guru olahraga, sambil mengap-mengap kumis tebelnya itu. Kalo ketangkep bisa gawat, bisa kena pecut, terus dipecundangin selama pasantren kilat ini. Tapi disitu gw ketawa-tawa, kan gw gak niat cabut, dan dua orang ini kocar-kacir lari ketakutan.
“Pungki sini kamu.”
Bangsat, kok jadi gw sih. Dih, dia main-mainin lagi tuh pecutnya.
“Mau cabut juga kan kamu, woi!”
Akhirnya reflek kaki gw lari, siapa yang gak mau lari pas dikejar babon tua sialan ini?
“Saya panggil orang tuamu Pungki, sini kamu woii!!”
Dan lu pikir orang tua gw peduli?! Pingin teriak gw, tapi ah, gak usah lah.
Sambil bengong lari gitu, gw jatuh sekali karena keselingkep nih sarung, dan gw naikin sarung gw untuk lari lagi.
Bangsat memang.
Setelah ngos-ngosan, plus baju koko dan sarung gw yang kini kotor berantakan, lagi-lagi udah nongkrong nih dua bocah.
“Gw bilang apa, gak cocok lu ikutan pasantren.”
Andre bicara sambil ngebuka dua kancing atas baju koko gw.
“Taik.”
“Padahal gw mau nitip doa, biar dapet bocoran gitu.” Ucap Kharis.
Pokoknya bener-bener tahik dua orang ini.
***
Nah, soal tahik ini kita belum bicara soal Andre dan Kharis. Bisa gw bilang Andre dan Kharis ini berasal dari keluarga yang lebih sejahtera dari gw, yah itu dari pandangan gw, mungkin beda dari pandangan yang lain.
Tapi apa sih tentang hidup yang gak terkait dengan ke’tahik-tahikan’ dunia mau dari skala kaya sampe miskin, sama aja, nah, disini yang merasa hidup kalian normal dan nihil dari ketahik-tahikan ini gw rasa butuh refleksi lagi. Pokoknya jelas, Andre dan Kharis ini samalah kayak gw.
Misal Andre, dia ini pentolan kelas, dan bahkan gw sendiri sebenernya ogah temenan sama doi. Tapi itu sampai pada suatu momen ketika gw tahu bahwa doi berasal dari keluarga yang berantakan, dengan bapaknya yang tolol tapi keras, dua hobbynya itu minum-minum dan senang main gesper ke istrinya juga anak-anaknya. Keraslah si Andre ini fisiknya, dan dia juga pernah cerita ke gw kalo sampe bapaknya tahu dia bonyok, gak boleh pulang sampai berhasil doi pecundangi yang ngebonyokin doi. Nah, jadilah Andre ini jagoan.
Kalo soal Kharis, dia yang paling kaya di antara kita. Tempatnya jadi rental kita main PS bareng, kalo main di warnet doi sering traktir nginep. Demikian, Kharis ini sebenernya anak yang kesepian. Ditinggal bapak juga ibunya kerja, gak punya adik kakak untuk diajak main, dan dia malah deket sama pembantunya, si mbok Daryem, yang udah dianggap ibunya sendiri.
Nah, si Kharis ini juga yang nyatuin kita bertiga. Suatu saat dia setel tuh anime di kelas, dan langsung gw terjang tuh meja karena betapa ngeboseninnya kelas, eh seneng juga gw sama nih kartun jejepangan. Lucunya disini Andre, yang dijauhi kawan-kawan ikutan nonton dan begitu asik reaksinya melihat tontonan yang Kharis bawa.
Maka paslah kita bertiga setelah pertemuan tersebut, yang dimana kawan-kawan malah menjauhi karena adanya Andre, cuman gw dan Kharis doang yang tetep kekeuh bareng Andre nonton anime dan ketawa bareng.
Dan setelah hari itu kita saling bagi-bagi koleksi anime, ngobrol bareng, dan akhirnya makin tahulah kita masalah masing-masing.
Sekarang juga, di bawah gedung menara jam perumahan elit yang akhirnya gak ada gunanya ini kita neduh setelah pencarian warnet kosong gak ngebawa hasil. Gw sama Andre ngerokok, sedangkan Kharis neduh teh sistri dari pedagang asongan sebelah kita yang sama-sama neduh.
“Gw lagi seneng banget sama Re:Zero.” Ucap Andre sambil niup asep yang nyebar kemana-mana.
“Konosuba bagus, lawak sumpah.” Ucap Kharis.
“SAO, pokoknya SAO.” Kata gw.
Dan Kharis mulai tuh ngomongin topik yang menarik dari apa yang kita omongin.
“Kata gw sih yang bikin asik ketiganya, kita bisa ke dunia lain, mau game atau dunia fantasi, kalo kata anak-anak otaku sebutannya itu Isekai.”
“Taik, di Re:Zero Subaru kan kesiksa tuh.”
“Tapi kan masih dikelilingin cewek-cewek cantik, para waifu, harem gitu loh.”
“Woh iya juga.” Gw bilang gitu, dan memang obrolan para jomblo ini.
Setelah itu kita ngobrol banyak soal betapa asiknya genre Isekai ini, gw sih cenderung ngomongin Waifu, tapi Kharis ini serius juga ngomongnya.
“Pokoknya enak lah. Kita ke dunia lain, jadi pemeran utama, jadi hero, dikelilingin cewek-cewek cantik yang otomatis jatuh cinta sama kita, terus kita kuat disana—” Belum selese bicara, Andre nyeletuk “Hus, Subaru enggak.”
Gak peduli, Kharis tetep lanjut “—makananannya enak-enak, ditinggalin lah masalah-masalah kita.”
Gw juga akhirnya ikutan: “Yoi, otomatis kita jadi jagoan disana, disini mah apa, apalagi kayak gw dari lahir udah ditakdirin jadi pecundang, taiklah semuanya.” Dan tiba-tiba gw ngeluh unek-unek gw, "Bayangin aja, kita saingan sama orang-orang kaya, gak termasuk lu yah Kharis, tapi mereka yang masuk SD swasta elit, terus bimbel mahal masuk smp negeri bagus, terus bimbel mahal lagi, masuk sma bagus, terus masuk bimbel mahal masuk universitas bagus. Lah kayak gw, masuk SD negeri deket rumah, masuk SMP masih belum bisa kali-kalian, UNnya lulus pake bocoran, masuk SMA jelek nihil fasilitas sama guru-guru gak niat ngajar, mau bimbel juga kagak punya duit. Swasta? Gak ada duit! Gak adil banget, mending gw ke dunia lain aja."

"Yah nanti kita belajar bareng lah Ngki." Ucap Kharis sambil nepuk pundak gw.
Tapi gw lihat Andre gak dengerin tapi ngebacot sendiri dalam imajinasinya, “Ah, ya, coba kita yang jadi protagonist di anime-anime yah, kan mereka mulainya kaya kita-kita tuh, dan gobloknya tuh cewek-cewek banyak kagak ada yang entot." Dia ucap gitu dengan penekanan di kata 'Entot', dan entah kenapa gw muak banget dengernya, udah gitu terus dia natap ke kita, "Kalo gw jadi protagonistnya, gw entot itu semua ceweknya!"
“Astagfirullah, nak...”
Kaget kita bertiga sama suara familiar itu, suara si tukang asongan yang jualin rokok sama teh sisri tadi. Dia istigfhar karena omongan Andre apa?
“Bersyukur sama hidup yang udah di kasih Allah.”

Oh omongan gw...
Si tukang asongan ini langsung masukin tangannya ke saku celana, dan ngeluarin hape Samsung S6, buangsat muahalnya, boleh juga nih tukang asongannya.
Doi kemudian terlihat cukup lihai ngegeser-geser layar sentuhnya, lihat whatsapp bentar, lalu kembali ke urusannya membuka gallery dan nunjukin ke kita foto anaknya.
Disitu doi pake baju jas hitam keren, dan anaknya pake baju wisuda.
“Lihat ini, anak saya udah wisuda walau bapaknya cuman pedagang asongan. Dia masuk sekolah biasa, gak bimbel, tapi bisa masuk universitas bagus pake beasiswa lagi. Anak saya ini peduli sama orang tuanya yang udah susah payah cari uang, banting tulang, peras keringat, kalian tuh jangan cari alesan gak adil dan lainnya, semuanya memang harus kerja keras." Terus dia sodorin hapenya ke kita, "Ini handphone dibeliin anak saya sekarang udah sukses kerja di singapura.”
Lah bapak ngapain masih kerja jadi pedagang asongan?
“Lah bapak ngapain masih jadi pedagang asongan kalo gitu?” Ucap Andre, dan ucapannya persis sama pikiran gw.
“Terserah bapak mau kerja jadi apa, intinya, kamu bertiga itu harus mensyukuri dan kerja keras untuk bisa—“
Tiba-tiba omongannya terhenti sama cahaya bener-bener terang, petir, nyamber ke pohon di depan kita.
Kebakarlah pohon itu, dan kita semua terloncat seketika sama kerasnya suara guntur petir yang menyusul setelah cahaya petir.
“Waduh, matiin hapenya pak, nanti petirnya kesini!”
“Lah, petir gak bakal nyamber dua kali de---“
Dan cahaya terang kembali muncul.
Kali ini tubuh ini tiba-tiba ngerasain suatu sensasi, mirip kaya kesetrum kali yah, tapi gak sakit sih...
Dan tiba-tiba gw gak ngerasa apa-apa, dan gw sadar mata gw ngerem.
Gw ngebuka mata, dan di hadapan gw ada padang hijau, cerah banget, di kejauhan juga ada hutan, bener-bener beda sama pemandangan sebelumnya. Seketika itu ada bayangan juga di atas yang nutupin kita, dan pas kita lihat ke atas, ada naga, terbang dengan asoynya.
“Astagfirullah, kita udah di alam barzah dek.”
Tapi gw, Andre, dan Kharis tersenyum-senyum. Kepala kita berpikir satu hal, “Isekai”, kita pergi ke dunia lain.
“Asik!!!”
Continue to chapter 2

Sabtu, 11 Maret 2017

Simfoni Cahaya Bulan - Chapter 12.5

Chapter 12.5 : Aslan Grief

Cahaya remang mulai masuk melewati jendela bermosaik di aula yang sebelumnya dirombak menjadi tempat pengadilan. Lantai kotor, berbau muntah, penuh dengan sayur-sayuran yang dibuang Cuma-Cuma, batu-batu kerikil yang dibawa dari luar, dan darah. Di tangga panggung, Aslan duduk sendirian disana sambil mengepalkan tangannya, menaruhnya di dagu, menekuk wajahnya.
Bayang-bayang memilukan memenuhi kepalanya. Seorang ibu yang sudah tidak berdaya, seorang anak yang bersimbah darah yang hampir dibuat babak belur seperti ibunya. Dia melihat badannya yang kekar kini penuh dengan lebam biru ketika melindungi anak tersebut, walau sakit, tapi tak sesakit perasaan yang kini mengaung dalam hatinya.
Dia merasa, baru saja melakukan kelalaian, yang membuat dua orang tidak bersalah ini teraniaya karenanya.
Baru saja dia berdebat dengan warga desa, bahkan mengeluarkan janji kosong untuk membawa dokter yang mampu menyembuhkan wabah di desa ini. Pikirannya juga dipenuhi dengan kejadian yang menahan dirinya pergi ke pengadilan, kapalnya yang lepas secara misterius berlabuh sendirian di lautan terhempas angin darat membuatnya harus memprioritaskan mata pencahariannya dalam ancaman karam, dan hal ini membuatnya begitu malu karena ia tidak berpikir jauh bahwa kebencian warga desa sudah jauh di luar nalar, dan perasaan yang tertinggal adalah seakan ia mengorbankan harga dirinya, kode moral yang ia pegang selama ini.
Pintu terbuka, angin kencang masuk bersama salju dan sosok berjaket tebal, sebelum sosok tersebut menutup lagi pintu besar tersebut dengan punggungnya, angin meniup tudung tersebut, membuat rambut yang tersembunyi dalam tudung tersebut terurai. Aslan mengenali rambut panjang hitam itu adalah milik istrinya seorang.
"Aslan... kau tidak apa?"
Istrinya, Selena, melihat badan Aslan yang sama lebamnya dengan anak yang diantarkan ke rumahnya oleh kru suaminya. Tapi hatinya lebih sedih melihat wajah suaminya itu, yang terlihat begitu bersalah. Seumur-umur pernikahan mereka, dia tidak pernah melihat sosok yang hidup penuh dengan kebanggaan ini terlihat penuh dengan beban dan kesal seperti ini.
Selena pun berjalan, duduk disamping suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya, bertanda bahwa tidak baik-baik saja.
"Kau lihat tempat ini, baru saja seorang ibu dipukul dan ditendangi di hadapan anaknya. Baru saja tergelinang darah seorang anak yang tidak bersalah disini."
"Aslan..."
"Kau tahu apa yang anaknya katakan kepadaku saat itu? Mereka yang mampu melakukan dan membiarkan sesuatu yang mengerikan seperti ini adalah monster. Dan umurnya tidak lebih tua dari Hammond anak kita."
Selena diam, tidak tahu harus berkata apa. Suaminya saat itu menengok kepadanya, dan ia menatap tatapan sedih suaminya itu, tatapan asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya di mata suaminya.
"Bisa kau bayangkan Selena, ketika kita dipilih untuk memotong tangan kiri atau tangan kanan, bukankah wajar untuk memotong tangan kiri kita?"
Selena hanya bisa mengangguk. Suaminya pasti sedang bersedih dengan keadaan keluarga Lenard yang kini dirawat di rumah mereka pikir Selena. Disini dia sedang berdebat dalam dirinya sendiri, untuk melakukan pembenaran atas perbuatannya, ataupun menanggung kesalahannya sendiri. Dia tentu tidak ingin suaminya menanggung beban ini, dia ingin suaminya berpikir bahwa pilihannya benar, untuk mengorbankan tangan kirinya demi tangan kanan dominannya yang berharga, dia tidak berbuat apa-apa untuk keluar dari eksekusi tersebut.
"Kau tidak salah Aslan...kau sudah berusaha sebaik-baiknya..."
"Oh Selena, akan tetapi sama sakitnya apapun keputusanku, aku akan tetap menyesalinya."
"Tidak Aslan, kau haru—"
Tiba-tiba Aslan memegang tangan istrinya, wajahnya memerah dengan ekspresi marah.
"Aku mengorbankan harga diriku, pegangan hidup yang terus kupegang selama ini? Seakan... seakan nilai-nilai kehormatan yang kupunya..."
Selena mendengar itu langsung memeluk suaminya. Entah mengapa dadanya menjadi sesak. Dia tidak pernah melihat suaminya seputus-asa ini. Dia sadar bahwa ekspresi marahnya adalah kemarahan terhadap dirinya sendiri. Selena takut Aslan mulai membenci dirinya sendiri.
"Jangan pernah bilang seakan-akan kau sudah kehilangan segalanya Aslan..." Selena melepas peluknya, Aslan saat itu menyadari istrinya sama ikut menangis bersamanya, "Kau masih memiliki keluarga yang menunggumu di rumah, kau masih punya aku, dan keluarga Lenard yang kau merasa bersalah karenanya, mereka masih membutuhkan bantuan kita. Jangan bilang seakan-akan kau telah mentelantarkan mereka, ataupun mentelantarkan apa yang telah kau pegang teguh selama ini."
Aslan melihat istrinya sama bersedih seperti dirinya.
"Maafkan aku Selena..."
Selena menggelengkan kepalanya.
"Tidak Aslan, jika bisa, aku juga ingin merasakan apa yang kau rasakan, aku ingin tahu beban yang kau pegang selama ini." Selena tersenyum lagi, menyeka air matanya, "Kau selalu terlihat menjadi tokoh figur yang menganggumkan, di mataku, di mata anak-anak, dan juga warga desa. Seakan tak ada masalah yang tak bisa kau selesaikan. Tapi melihatmu kini, aku menjadi tahu bahwa terdapat sisi yang belum kulihat dari dirimu Aslan. Dan aku ingin, jika kau memiliki beban berat di punggungmu, aku ingin bisa menampung beban itu bersama."
Ketika Aslan mencium bibir istrinya, seakan dia menemukan pengampunan disitu. Selena mendorong suaminya dalam wajah memerahnya. Dia lalu menunjukan keranjang berisi sayur dan ikan yang ia taruh di sampingnya.
"Mereka di rumah pasti sedang kelaparan."
Lalu menarik tangan suaminya, keluar dari ruangan kelam ini.